Ini Dia Gay dan Waria Pilihan Bali

Setelah vakum lima tahun, Yayasan GAYa Dewata (GD), kembali melakukan pemilihan duta penanggulangan AIDS di Bali yang disebut Raka dan Rai untuk kelompok gay dan waria, Sabtu malam. Terpilih Surya Tan sebagai Raka dan Ella Wasabi sebagai Rai.

Surya adalah pria gay muda yang pernah bekerja 1,5 tahun sebagai petugas lapangan GD, sementara  Ella  kesehariannya sebagai waria dan pekerja salon kecantikan. Pemilihan tahun ini diikuti 24 peserta, dengan 12 pasang gay dan waria.

Mereka terpilih dalam pesta pemilihan yang ramai dan mewah di Wantilan Hotel Sanur Beach, Denpasar. Sedikitnya 1000 orang menonton acara pemilihan yang dianggap paling meriah sejak pemilihan Raka dan Rai dihelat pada 1996.

Surya, dipilih juri dalam babak dua besar setelah menjawab dengan baik pertanyaan juri bagaimana penularan HIV terjadi dan kegiatan-kegiatan yang tak bisa menularkan HIV. Sementara Ella dengan meyakinkan menjawab pertanyaan siapa yang bertanggung dalam penularan HIV di Bali. “Saya, anda, dan kita semua bertanggung jawab dan harus terlibat dalam penanggulangannya,” ujar Ella tenang yang lalu disambut tepuk tangan penonton.

Christian Supradinata, Ketua Panitia pemilihan dari GD mengatakan pemilihan Raka dan Rai menemukan momentumnya kembali setelah kasus HIV/AIDS di Bali meningkat sangat tinggi sejak 2009 lalu. “Kelompok-kelompok gay dan waria semakin banyak, dan pemilihan ini upaya untuk menjangkau dan mengkampanyekan pencegahan HIV di kalangan mereka,” katanya.

Christian mengaku penjangkauan di kalangan gay dan waria membutuhkan waktu yang panjang dibanding kelompok lain. Misalnya dalam kampanye pencegahan infeksi menular seksual (IMS), musuh besar di kelompok ini yang kasusnya sangat tinggi. “Sebagian besar gay dan waria yang kami jangkau terpapar IMS, karena itu kampanye masih tetap fokus di penggunaan kondom secara teratur dan pengobatan IMS,” ujarnya.

Sementara I Made Suprapta, Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Bali dalam pemilihan itu juga minta Raka dan Rai terpilih terlibat aktif sebagai role model bagi kelompoknya. Suprapta mengatakan penularan HIV di Bali sudah dalam populasi umum.

Data Dinas Kesehatan Bali memperlihatkan lonjakan kasus HIV dan AIDS. Pada awal 2009, jumlah pengidapnya sebanyak 2610, dan sepuluh bulan kemudian sampai November 2009 menjadi 3181. Bertambah 571 orang  atau sekitar 20%.

Penularan diidentifikasikan dari hubungan heteroseksual sebanyak 2142 orang (67%), kemudian injecting drug users 730 orang (23%), dan homoseksual 160 orang (5%). Sisanya akibat perinatal 62 orang dan tak diketahui.

Duta gay terpilih, Surya Tan mengatakan kampanye pencegahan IMS dan HIV di komunitasnya lebih sulit karena tak berkelompok seperti waria. “Kasus IMS tinggi karena orang-orangnya makin banyak di Bali, misalnya kucing atau pekerja seks di kalangan gay,” katanya. [b]

Versi Bahasa Inggris dimuat di The Jakarta Post

Lahir dan besar di Denpasar. Ibu dua anak lelaki, tinggal di pinggiran Denpasar Utara. Anak dagang soto karangasem ini alumni Pers Mahasiswa Akademika dan Fakultas Ekonomi Universitas Udayana. Pernah jadi pemimpin redaksi media advokasi HIV/AIDS dan narkoba Kulkul. Sambil mengasuh Bani dan Satori, juga menulis untuk Bali Daily-The Jakarta Post.

Related posts

2 Comments

*

*

Top