Teks Fransiska Eva L.N, Foto Anton Muhajir
Abrasi di pantai Lebih adalah abrasi terdahsyat, tidak hanya di Bali tetapi di seluruh Indonesia.
Srash.. Srash.. Ombak dengan ganasnya menyerbu bibir pantai Desa Lebih siang itu. Ganasnya ombak seolah ingin menerkam seluruh pinggiran pantai di sebelah selatan Kabupaten Gianyar ini. Tak jauh dari pemandangan itu, seorang laki-laki paruh baya bersender di dekat tiang bambu. Pandangannya lurus dan luas, seluas pantai yang dipandangnya.
Matanya terlihat sayu menyiratkan kesedihan mendalam, seolah menginginkan sesuatu yang amat disayanginya kembali dalam pelukannya.
Wayan Weta, 45 tahun, menyatakan kesedihannya pada Pantai Lebih yang terus menghilang dari hari ke hari akibat abrasi. Abrasi di Pantai Lebih telah merenggut tidak hanya kebahagiannya tetapi juga seluruh warga yang mencari sesuap nasi dari pantai tersebut.
Menurutnya abrasi sudah terjadi dari tahun 1985. Tetapi pada waktu itu abrasi yang terjadi tidak sehebat sekarang. Semenjak sepuluh tahun terakhir sedikitnya sudah 2 km pinggiran Pantai Lebih hilang. “Abrasi di pantai ini yang terdasyat, tidak hanya di Bali tapi di seluruh Indonesia. Seminggu bisa sampai 1 meter bibir pantai terabasi,” ungkap laki-laki itu dengan pandangan sedih.
Parahnya abrasi ini dibenarkan pula oleh Nyoman. Sore itu dia sedang berendam di dalam pasir. Menurut Nyoman, dulu ada menara dan bale bengong di tepi pantai berpasir hita itu. Tetapi sekarang sudah ambruk karena terkena abrasi. “Wah, dulu masih jauh bibir pantainya. Lihat saja arena kolam berenang di sana. Dulu masih jauh dari bibir pantai, Eh, sekarang sudah berdempetan dengan bibir pantai,” ucapnya sambil tetap mengorek dan menimbun pasir disekitar kakinya.
Dampak dari abrasi ini sangat terasa. Banyak warung warga harus pindah untuk menghindari warung mereka ambruk dan terbawa ombak. Menurut Wayan, warga yang memiliki warung sudah lima kali pindah lokasi akibat abrasi pantai.
Pedagang batu hitam pun mengalami kerugian. Menurut salah satu pedagang, Wayan Soklit, penghasilannya dari menjual batu hitam berkurang karena susahnya mencari batu hitam semenjak abrasi terjadi.
Keadaan Pantai Lebih diperparah lagi karena jarak antara pantai dan jalan raya tidak begitu jauh. Jarak dari bibir pantai hingga jalan raya hanya sekitar 40 meter. “Kami tidak tahu bagaimana jika nanti bibir pantai sampai di jalan raya,” ungkap Wayan Sepot. Laki-laki yang bekerja sebagai bendesa adat Lebih Kelod ini hanya berharap agar crib (batu untuk menahan ombak) dapat dipasang pada seluruh daerah pantai.
Abrasi ini membawa dampak yang sangat buruk bagi para petani. Tanah mereka hilang digerus ombak pantai. Tanaman palawija dan kacang yang mereka tanam begitu tergenang air pantai akan membusuk. Hal ini membuat petani menjual tanah mereka karena tidak dapat dipertahankan lagi.
Masyarakat Pantai Lebih hanya dapat menunggu pihak pemerintah membantu mereka menyelamatkan pantai tempat mereka menghidupi diri. [b]

Saya sering main ke pantai Lebih sejak kecil, tapi makin hari makin menipis saja, persis seperti dalam artikel di atas.
Apa perlu ditanami bakau ya…?
Pingback: Ingin Berenang Lagi « Bhyllabus
yup betul… yang saya pikirkan sebarapa lama bertahan keberadaan jalan Bay pass yang belum kelar dibangun…apa gak proek sia-sia tu??/
pemerinth memang gak pernah berpikir cermat+panjang
memangnya tidak ada peredam gelombang air lautnya ya?
ditanami bakau, gak mungkinlah…wong ombaknya segede2 gajah. penahan ombak sudah dipasang berkali2 tapi tetep gak kuat menahan kerasnya ombak…
sedih ngeliatnya …pantai lebihku tempat kubermain waktu kecil dulu..
lebihku… rumahku… pantaiku…. gmana ya cara peneyelesaiannya? ada yang bisa membantu??
ya ni bli,dulu menara yang lama sma laut masih jauh bngt,,,skarang menara yang baru aja deket sma laut,n bekas menara yg lama dah jauh di dalem
Artikel yang menarik. Salam.
Fakultas Ilmu Agama Islam, Universitas Islam Indonesia
http://fis.uii.ac.id/
mungkin nama pantai ini sudah harus berganti menjadi pantai kuang (kurang) bukan pantai lebih lagi.
nama desanya juga mengikuti