Gadis Bali Menang Lomba Foto Internasional

Wayan Mertayani menang lomba foto internasional Yayasan Anne Frank

Teks dan Foto Anton Muhajir dari Hilversum, Belanda

Mengenakan baju Bali, dengan kebaya putih dan kamen biru, Wayan Mertayani menerima hadiah dari Annemarie Becker. Gadis asal Banjar Biasiantang, Desa Purwakerti, Kecamatan Abang, Karangasem, Bali ini menerima hadiah kamera Canon G11, buku-buku tentang Anne Frank, dan fotonya sendiri yang menang lomba dari perwakilan Yayasan Anne Frank, Senin 3 Mei lalu di Amsterdam, Belanda.

Gadi berusia 14 tahun itu memenangkan lomba foto internasional tentang Anne Frank. “Kisah Anna Frank sama dengan kisah saya,” katanya di Hilversum, Belanda.

Kamis sore kemarin, Wayan bertemu dengan jurnalis Indonesia yang sedang mengikuti pelatihan di Radio Nederland Training Centre di Hilversum, Belanda. “Saya ingin jadi wartawan. Makanya saya sangat ingin bertemu dengan wartawan Indonesia di sini,” kata Wayan.

Wayan memenangkan lomba foto internasional yang diikuti 200 peserta tersebut. Tema lomba foto tahun ini adalah Apa Cita-citamu. Di dalam foto yang menang itu, Wayan memperlihatkan seekor ayam bertengger di cabang-cabang pohon saat sore hari. Di bawahnya ada jemuran seperti handuk dan baju.

Dua belas juri dari World Press Photo mengatakan, semua unsur dalam foto Wayan bekerja sangat bagus. “The shape of the tree, the one chicken up in the branches, the color and light. They all work in its favor. All of this relays the photographer’s reality through subtle symbolism,” tulis juri di dalam website resmi Yayasan Anne Frank.

“Melalui foto itu, Wayan tak hanya memperlihatkan dunianya tapi juga cita-citanya sebagai wartawan,” tambah Annemarie Backer dari Yayasan Anne Frank pada Radio Nederlands.

Wayan sendiri mengatakan ayam yang sedang bertengger di atas pohon saat itu memang menarik perhatiannya. Dia mengambil foto ayam tersebut setelah dia mengambil 14 foto lain tentang telur, kamar, dapur, dan teman-temannya. “Ayam itu menggambarkan kehidupan saat ini sekaligus cita-cita saya,” kata siswa kelas III SMP Negeri 2 Abang, Karangasem ini.

Wayan bercita-cita jadi wartawan dan penulis. Cita-cita itu muncul setelah dia membaca buku Catatan Harian Anne Frank. Dua tahun lalu Wayan meminjam novel dari tetangganya yang biasa dipanggil Bu Marry, warga Belanda pemilik vila Sinar Cinta di pantai Amed. Wayan dan teman-temannya biasa datang ke vila Marry untuk meminjam buku.

Wayan mengaku langsung jatuh cinta pada cerita Anne Frank, gadis Yahudi korban kekejaman Nazi. Frank bersembunyi dari kekejaman Nazi selama dua tahun sejak tahun 1942. Frank menulis cerita harian yang kemudian diterbitkan dalam berbagai bahasa termasuk Indonesia

“Tiang merasa patuh ajak ceritane Anne Frank,” kata Wayan dalam Bahasa Bali. Artinya, saya merasa hidup saya sama dengan cerita Anne Frank.

Menurut Wayan, kisah hidupnya sama dengan Anne Frank karena sama-sama menderita. Saat ini Wayan tinggal bersama ibu dan adiknya. Bapaknya sudah meninggal sejak dia berumur tiga tahun. Untuk bertahan hidup, Wayan sehari-hari bekerja menjajakan permen, jajan, dan makanan kecil lain di pantai Amed, salah satu pusat wisata di bagian timur Karangasem. Dia bahkan hampir putus sekolah karena tidak punya uang untuk biaya sekolah.

September tahun lalu ada tamu lain dari Belanda yang memberi tahu Wayan tentang lomba foto dari Yayasan Anne Frank. Wayan tertarik. Dia pun meminjam kamera digital pada tamu tersebut.

Wayan mengambil 15 foto dari sekitarnya seperti ayam, telur, kamar, dapur, dan ayam di atas pohon. “Foto (ayam di atas pohon) itu, tiang ambil terakhir,” ujarnya.

Semua foto itu kemudian dia serahkan pada Bu Dolly, turis Belanda yang meminjamkan kamera tersebut. Dua bulan kemudian dia mendapatkan kabar kalau fotonya menang. “Wah, tiang merasa sangat senang. Lega sajan,” kata anak pasangan Ni Nengah Kirem dan I Nengah Sangkrib ini.

Wayan mengaku tidak menyangka fotonya akan menang. Tapi, itulah kenyataannya. Foto gadis dari desa miskin itu membawanya ke Belanda. Anak pertama dari dua bersaudara ini datang bersama adik kandungnya, Nengah Jati.

“Saya semakin yakin untuk menjadi wartawan setelah berkunjung ke Belanda,” katanya. [b]

Tags

Jurnalis lepas, blogger, editor, dan nyambi jadi tukang kompor. Bekerja di lembaga donor yang mendukung petani kecil sambil nyambi nulis lepas di media arus utama ataupun media komunitas. Kuliner, jalan-jalan, isu LSM, HIV dan AIDS, pertanian berkelanjutan, dan kelompok terpinggirkan adalah isu yang membuatnya bersemangat 45 untuk menulis.

Related posts

3 Comments

  1. luhde said:

    go wayan. balebengong dan kelas jurnalisme warga mengundang kehadiranmu pada kelas jurnalisme warga III awal JUni nanti.

    semoga bersedia membagi cerita dan semangat. inilah kabar dari warga. hebat!

*

*

Top