Dari Bahan Kaku Beralih ke Bambu

Teks Riri Prabandari, Foto Dian Hasan

Cuaca di Danes Art Veranda yang dingin dan berangin tidak menyurutkan minat sekitar 100 orang untuk mendengarkan pengalaman berarsitektur Effan Adhiwira.

Arsitek muda ini membagi pengalamannya dalam Architects Under Big 3 #4, Jumat pekan lalu. Popo Danes selaku pengagas Architects Under Big 3 #4 membuka acara ini. Hadir pula Ketut Rana Wiarcha, Ketua Ikatan Arsitektur (IAI) Bali dan Putu Edy Semara (ESA International).

Effan Adhiwira, arsitek senior PT. Bambu  Bambu / Green School memulai ceritanya dari fase pertamanya berarsitektur yang disebutnya sebagai fase Boxy. TomaHouse, sebuah perusahaan prefabrikasi alumunium yang berbasis di Jerman menjadi pelabuhan pertama Effan dalam memulai prosesnya berarsitektur.

Pada masa ini Effan mendalami Arsitektur Prefabrikasi. Sistem moduler yang sangat rapi dan terencana adalah hal yang paling Effan pelajari dari tahapan ini. Belajar dari TOMA, Effan banyak belajar mengenai sistem knock down. Juga efisiensi ruang yang cukup terencana dengan baik dan detil.

Dua setengah tahun berkutat dengan arsitektur prefabrikasi Effan mulai merasakan masa di mana ia merasa ‘terbatas’ dengan arsitektur prefabrikasi. Ia menginginkan sesuatu yang berbeda. Effan mulai mencari sesuatu yang lebih fleksibel.

Dalam periode transisi ini Effan mengerjakan satu proyek bambu sederhana yang membawa ketertarikan terhadap arsitektur bambu.

Keingintahuannya yang sangat besar pada arsitektur bambu membawanya pada PT. Bambu Bambu (Green School) yang waktu itu sedang mencari arsitek junior. Di sinilah awal mula proses berarsitektur periode kedua dimulai, periode Curvy.

Mengerjakan bambu, material dengan sifat tak terduga, Effan menemui banyak tantangan di dalamnya. Di tahap ini Effan belajar bagaimana memanfaatkan bahan yang justru bentuk dan ukurannya tidak bisa direncanakan. Misalnya, ukuran bambu susah sekali ditemukan yang sama persis. Bentukan lengkung, ketebalan dan diameter pun cukup susah ditemukan sesuai keinginan. Di sini Effan mempelajari cara mengatasinya secara desain.

Rupanya audiens sangat tertarik dengan arsitektur bambu. Terbukti dengan pertanyaan-pertanyaan di forum diskusi yang sebagian besar menanyakan tentang arsitektur bambu.

Salah satu audiens, seorang mahasiswa Universitas Parahyangan bertanya mengenai efisiensi bentuk yang tidak umum seperti lengkung-lengkung dalam pemanfaatan ruang di Green School.

Effan menjawab bahwa konsep yang digunakan adalah function follow form, di mana menjadi tantangan baginya untuk sebagaimana mungkin mengefisienkan sisa-sisa ruang yang terbentuk dengan adanya bentukan-bentukan lengkung-lengkung dengan bantuan dari desainer interior.

Ada pula salah satu peserta menanyakan mengenai kemungkinan kombinasi bambu dengan baja. Effan menjawab dengan antusias. Dikatakannya justru semakin bisa kita mengombinasikan berbagai bahan material-dalam kasus ini adalah bambu-misal dengan baja, batu, kayu, tanah, dsb, akan menjadi semakin menarik.

Ditanya mungkin atau tidaknya, dengan teknologi arsitektur, pengkombinasian material akan menjadi mungkin, memperkaya nilai arsitektur itu sendiri dari segi teknologi bahan. Kombinasi inilah salah satu alasan untuk tidak mengkombinasikan bambu dengan ijuk, seperti pada umumnya. ijuk. Effan mencoba untuk melakukan perkembangan desain dengan memadukan bambu dengan bahan lain selain ijuk. Seperti disebutkan di atas, pengkombinasian material bambu akan sangat mungkin bila dipadukan dengan berbagai material lain.

Ketahanan bambu akan zaman dan harganya pun menjadi keingintahuan audiens. Dalam paparannya Effan menjelaskan menurut perhitungan teknik, bambu sebagai struktur utama sebuah bangunan, ketahanannya bisa mencapai 25 tahun. Tentu saja bila sebelumnya dilakukan treatment yang tepat pada bambu tersebut. Untuk mahal atau tidaknya, harga bambu itu sendiri sebenarnya cukup murah. Mahal tidaknya bambu ini akan ditentukan oleh treatment yang dilakukan.

Jam sudah menunjukkan angka 9. Acara ditutup dengan tepuk tangan dari audiens untuk Effan. Hari ini kami mengucapkan terima kasih pada Effan Adhiwira yang sudah bersedia untuk meluangkan waktunya membagi pengalamannya.

Untuk saat ini memang Effan masih melalui 2 tahapan dalam berarsitektur. Tapi, dia tidak akan berhenti sampai di sini saja. Ia akan terus belajar dan mencari sehingga tiba di tahapan selanjutnya.

Tentang Architects Under Big 3:
Architects Under Big 3 (AUB3) adalah sebuah kegiatan bulanan pada jumat pertama tiap bulan yang dipersembahkan untuk arsitek muda usia di bawah 30 tahun. AUB3 telah ditetapkan menjadi agenda IAI Bali. Tiap peserta, pembicara maupun peserta, akan mendapatkan sertifikat dari IAI Bali. Sertifikat dapat diambil pada agenda Architects Under Big 3 di bulan berikutnya.

Dalam kegiatan ini arsitek muda diberi kesempatan untuk mempresentasikan karya arsitektur beserta pemikiran mereka pada publik melalui presentasi non formal yang diteruskan dengan diskusi santai. Peserta juga diberi kebebasan untuk memilih ruangannya sendiri -di halaman, ruang makan, rooftop, ruang galeri- di manapun tempat di mana mereka rasa paling nyaman untuk berbagi cerita dengan pendengarnya.

Melalui pendekatan ini, arsitek beserta ide dan karya arsitekturnya berkesempatan untuk mendapatkan ruang berkomunikasi dengan khalayak yang lebih luas, baik khalayak awam arsitektur maupun khalayak arsitektur. [b]

Mulanya seni sebagai hobi, kemudian jatuh cinta sedalam-dalamnya sehingga memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Setelah berhasil lulus sampai sekarang masih setia di jalurnya dengan bekecimpung di lahan manajemen seni dan budaya.

Related posts

*

*

Top