Misteri Geothermal Bedugul Jilid 2

Teks Agung Wardana, Foto Ilustrasi Internet

Apa hubungan para pemain besar, deklarasi dengan penghapusan rintangan berinvestasi ini dalam konteks proyek geothermal Bedugul?

Jawabannya, sebenarnya tampak jelas dari peranan yang sedang diambil oleh para akademisi Bali dengan melemparkan wacana untuk membuka kembali proyek geothermal Bedugul. Yakni, memberikan legitimasi akademis terhadap rencana proyek serta melakukan lobi untuk menghapuskan hambatan investasi bagi sebuah perusahaan trans-nasional untuk masuk di Begudul.

Pascapertemuan geothermal di Nusa Dua, Bali, tampaknya beberapa akademisi Bali kegenitan untuk membuka kembali luka lama proyek geothermal Bedugul yang selama ini dihentikan. Entah karena akan mendapatkan pencerahan dalam konferensi atau entah ada potensi proyek yang bisa digarap kembali. Sepertinya jalur lobi mereka sudah berjalan sedemikian cepatnya sebagaimana diberitakan oleh Bali Post (Kamis, 7/10). Oleh karena itu, rasanya penting melihat ada apa dalam konferensi tersebut, siapa yang bermain dan bagaimana hubungan antarpemain. Selain itu, penting juga untuk meletakkan konferensi ini dalam konteks perdebatan proyek geothermal Bedugul.

Jika ditelusuri, konferensi geothermal beberapa saat yang lalu disponsori oleh berbagai perusahaan multinasional yang mencoba peruntungan dari gas dan minyak ke panas bumi. Berbagai logo nama perusahaan besar muncul, yang sedang ”membersihkan” diri dari kotornya lumpur tambang gas dan minyak.

Memang upaya membersihkan diri ini bukanlah muncul dari kesadaran bahwa bumi makin renta dan bersama perusahaan multinasional kita berjuang menyelamatkan lingkungan. Melainkan, lebih disebabkan oleh naiknya kepedulian masyarakat terhadap lingkungan yang berdampak pada makin terbukanya pasar produk ramah lingkungan. Masyarakat yang ramah lingkungan adalah pangsa pasar baru dalam menggarap bisnis energi terbarukan bagi perusahaan multinasional.

Di samping disponsori pemain besar, konferensi ini juga menghasilkan deklarasi yang disebut ”Deklarasi Bali”. Berbagai pendangan tentang segi positif dari energi panas bumi dipaparkan. Menariknya, dalam deklarasi juga menekankan pentingnya peranan investor besar yang sekaligus menjadi pemain utama dalam bisnis geothermal energi. Selain itu, juga dinyatakan bahwa berbagai rintangan dalam berinvestasi dan melakukan privatisasi energi panas bumi haruslah segera dihapuskan. Mirip Washington Consensus yang merupakan mantra ideologi neoliberalisme.

Proyek Geothermal Begudul
Pertanyaannya kemudian adalah apa hubungan para pemain besar, deklarasi dengan penghapusan rintangan berinvestasi ini dalam konteks proyek geothermal Bedugul. Jawabannya, sebenarnya tampak jelas dari peranan yang sedang diambil oleh para akademisi Bali dengan melemparkan wacana untuk membuka kembali proyek geothermal Bedugul. Yakni, memberikan legitimasi akademis terhadap rencana proyek serta melakukan lobi untuk menghapuskan hambatan investasi bagi sebuah perusahaan trans-nasional untuk masuk di Begudul.

Kemudian pertanyaannya siapakah perusahaan trans-nasional tersebut? Tidak banyak publik yang tahu karena seolah-olah perusahaan berkantor pusat di Bermuda ini kebal dari pemberitaan media. Panasnya diskusi geothermal di kalangan masyarakat Bali dan lobi para komprador dengan nikmatnya disuguhkan kepada para CEO-nya yang tinggal di luar negeri. Tidak banyak juga yang tahu bagaimana perubahan kepemilikan perusahaan pascaputusan Supreme Court of Bermuda (Mahkamah Agung-nya Bermuda) 2008 lalu. Gembar-gembor bahwa perusahaan milik putra daerah sejatinya hanya dijadikan tameng untuk menggalang simpati di kalangan masyarakat Bali.

Selain itu, belum juga terbuka dengan jelas mengenai peruntukan proyek. Untuk pembangkit listrik, pengembangan pariwisata spa dan eko-turisme, serta pusat kajian merupakan salah satu informasi yang selama ini dilemparkan kepada publik. Perusahaan tidak pernah menjelaskan secara terbuka tentang rencana mereka, apalagi berharap untuk menjelaskan tentang akuntabilitasnya sebagai korporasi.

Jadi perubahan pendapat dari beberapa pemuka adat ataupun agama di Bali tentang proyek geothermal Begudul adalah dampak dari ketidakterbukaan informasi. Jika saja semua informasi dibuka kepada publik, mungkin masyarakat akan lebih jernih untuk melihat di mana posisi mereka dalam perdebatan ini. Tidak saja informasi proyek tetapi juga pemainnya dan hubungannya dalam konstelasi ekonomi-politik, keberlanjutan sosial dan lingkungan hidup di Bali.

Posisi Rakyat Bali
Rencana membuka proyek geothermal Bedugul sejatinya berjalan paralel dengan agenda neoliberal di bidang energi yang sedang digarap di Indonesia. Di mana segala sumber energi akan dikelola oleh perusahaan swasta atas nama efisiensi dan negara tidak bertanggung jawab lagi dalam memberikan pelayanan energi kepada rakyatnya.

Kemudian pertanyaannya, di mana posisi rakyat sebagai pemilik sumber daya alam tersebut? Dalam era kapitalisme neo-liberal, tidak ada yang namanya kepemilikan kolektif atas sumber daya alam. Jadi ketika sumber daya alam itu diserahkan kepada perusahaan, maka perusahaanlah yang punya hak monopoli atasnya. Jika rakyat tidak punya uang untuk membeli, maka jangan berharap korporasi menjadi dermawan dengan memberikannya secara cuma-cuma.

Masyarakat Bali secara umum tidak akan diuntungkan oleh proyek ini, melainkan hanya menebalkan isi kantong para elite dan oknum-oknum akademisi. Ada atau tidak ada proyek geothermal masyarakat Bali tetap harus membayar rekening listrik yang mereka gunakan. Yang terpenting adalah, memberikan kesempatan kepada korporasi untuk melakukan privatisasi sumber kehidupan yang sejatinya milik bersama, maka akan membawa masyarakat Bali menjadi tersingkir di atas ibu pertiwinya. Mari kita belajar dari dampak privatisasi korporasi di tempat lain.

* Ketika sumber daya alam itu diserahkan kepada perusahaan, maka perusahaanlah yang punya hak monopoli atasnya. Jika rakyat tidak punya uang untuk membeli, maka jangan berharap korporasi menjadi dermawan dengan memberikannya secara cuma-cuma.

* Masyarakat Bali secara umum tidak akan diuntungkan oleh proyek ini, melainkan hanya menebalkan isi kantong para elite dan oknum-oknum akademisi.

* Memberikan kesempatan kepada korporasi untuk melakukan privatisasi sumber kehidupan yang sejatinya milik bersama, maka akan membawa masyarakat Bali menjadi tersingkir di atas ibu pertiwinya. [b]

Tulisan diambil dari Bali Post. Foto diambil dari Daily Life.

Penulis, aktivis lingkungan, Mahasiswa PhD di Murdoch University, tinggal di Perth, Australia.

Related posts

19 Comments

  1. irwan said:

    klo berpikir negatifnya terus..kapan majunya bro?, emang-nya Bali mo di suplai terus listrik dari Jawa?…jangan hanya bisa “Menolak” atau “Harga Mati” tanpa bisa kasih solusi atau apa-apanya..

    klo masih bingung atau ga jelas..coba lihat proyek Geothermal yang sudah produksi atau masih tahap eksplorasi, jangan omdo!…emang di rumah masak, nonton tv, nyetrika, charge hp, internetan, dsb-nya pake apa? apa jadiya klo di Bali ga pake listrik seminggu aza..? bisa di bayangin gak..? tengkiu…..

  2. Wayan H. Y. said:

    Om Swastiastu,

    Bagi yang masih berpikiran geothermal buruk untuk Bali, coba berpikir sekali lagi.
    Kalau sampai geothermal tidak jadi, alternatif yang sedang dipikirkan Pemda: Pembangkit berbahan bakar batubara!!!!

    Coba ditimbang-timbang lagi, mana yang akan lebih parah mengganggu keseimbangan Tri Hita Karana, geothermal yg hanya membuka lahan hutan relatif kecil tapi kemudian berpuluh-puluh (bahkan ratusan) tahun akan menghasilkan energi bersih, atau batubara yang tidak perlu lahan hutan tapi bukan hanya akan mencemari udara Bali, tapi seluruh dunia (global warming) setiap menit, setiap jam, setiap hari selama pembangkit bertenaga batubara itu beroperasi?

    Belum lagi jika dihitung-hitung kerusakan lingkungan yang dihasilkan di lokasi penambangan (di Kalimantan, atau Australia, atau dimanapun itu!). Semua polusi dan pencemaran proses penambangan dan transportasi ke lokasi pembangkit, dst.. dst..
    http://energiuntukbali.blogspot.com/2011/05/fakta-mengenai-pembangkit-listrik.html

    Mari berpikir logis dan dalam skala global! Hyang Widhi Wasa bukan hanya memperhatikan Bali, tapi seluruh dunia dan jagat raya!!
    Jika kita sampai berpikiran “jangan geothermal karena itu merusak sepotong hutan suci di Bali, dan lebih baik batubara saja dilokasi gersang yang jauh dari pura”, maka kita sudah mengabaikan Tri Hita Karana dalam proporsi global… dan akan sangat mudah untuk menilai betapa sempitnya pemikiran kita…

    Semoga kita dan para pimpinan kita di Bali dapat berpikir jernih dan bertindak dengan memikirkan generasi masa depan dan lingkungan hidup..

    Salam,
    Wayan H.Y.
    http://energiuntukbali.blogspot.com/2011_05_01_archive.html

  3. Agung Wardana said:

    Dear Irwan dan Wayan,
    Sepertinya anda tidak membaca tulisan diatas baik-baik jadi saran saya mohon baca dan cerna dengan baik-baik dulu. Saya tidak sedang memperdebatkan tentang teknologi geothermal tapi saya melihat dari kacamata politik lingkungan hidup. Dan cara pandang ini spesifik untuk geothermal bedugul bukan geothermal-geothermal yang lain.

    Jika anda melakukan perbandingan geothermal lebih baik dari batubara, apakah anda juga akan mendorong nuklir di Bali karena jauh lebih ramah daripada batubara dan tidak merusak hutan seperti geothermal? Tentu jawabannya bukan geothermal bedugul, batubara ataupun nuklir tetapi mari kita audit terlebih dahulu kelistrikan Bali berdasarkan daya dukung dan daya tampung Bali setelah itu baru kita menyiapkan skenario kebijakannya.

    Berikutnya, apakah anda sudah membaca AMDAL dari Geothermal Bedugul? Saya sarankan anda membaca terlebih dahulu itu baru kita bisa berdebat dengan konstruktif dan meletakkan konteks lokalnya. Sekali lagi ini bukan urusan teknologi geothermal ditataran konsep yang abstrak karena geothermal bedugul merupakan proyek yang riil mengambil tempat di kawasan resapan dan ekologi genting bagi Bali.

    NB: jika butuh AMDAL-nya silahkan hubungi saya lewat japri…

  4. Wayan H. Y. said:

    Dear Pak Agung Wardana,

    Terima kasih atas commentnya, saya senang bisa berduskusi mengenai hal ini.
    Dan kalau tidak merepotkan, mohon kirimkan AMDALnya ke wawana@appraiser.net
    Nanti kita bisa lanjutkan diskusinya via japri dengan bahan dasar yang sama..

    Sejauh ini rangkuman penolakan akan geothermal di Bali yang saya dapatkan paling menyeluruh adalah dari tulisan orang disini:
    http://geothermalstudentstudy.wordpress.com/sejarah-panasbumi-di-indonesia/pltp-bedugul/

    Dulu saya kurang paham mengapa dikatakan geothermal akan menyusutkan danau-danau di bedugul, belakangan ini saya mengertinya adalah karena berkurangnya daerah resapan air akibat pembukaan lahan untuk proyeknya.. jadi bukan karena geothermalnya sendiri.. dan media-media selalu mengambil kesimpulan terlalu cepat..

    Susahnya geothermal (dimanapun, bukan hanya di Bali) adalah hampir selalu memiliki sumber panas di pegunungan, yang hampir selalu juga merupakan daerah yang dilindungi, dan memang HARUS dilindungi.

    Oh iya, satu lagi yang nanti kita bisa diskusikan adalah mengenai LSM yang serba “say no!”… Ada ide geothermal: “NO!”, ada ide batubara “NO!”, tapi tidak memberikan solusi.. Sedangkan pemerintah kita sendiri juga cenderung akan mengambil langkah yang lebih mudah.. kalau batubara nantinya hanya di say “NO” oleh LSM, tapi dari AMDALnya bisa lolos (karena lokasi dipesisir gersang misalnya),

    Wayan H. Y.
    Pecinta Lingkungan, alternative energy lover, geologist independen (non profesional).

  5. winata said:

    Ya cek saja dulu, berapakah kebutuhan listrik di Bali??? Apa memang perlu membangun pembangkit lagi??? Kalau memang masih cukup dari dipasok Jawa, yang biar dari Jawa saja dulu. Kecuali Bali mau merdeka dari NKRI.

    Sepertinya yang perlu listrik banyak hanya industri perhotelan. Siapa tau dengan listrik terbatas hotel-hotel baru tidak usah di bangun lagi di Bali.

    Justru dengan terbatasnya listrik bisa mengerem pembangunan di Bali. Kalau di sediakan listrik terus, membangun terus.

  6. Wayan H. Y. said:

    Hehe.. bagus juga idenya..
    Tapi sayangnya hotel2 itu tidak kenal nyerah!
    Rata-rata mereka punya beberapa genset diesel atau LPG dengan kapasitas lebih dari 2 kali kebutuhannya, untuk antisipasi PLN mati, jadi mereka bisa tetap nyala tanpa PLN dengan membakar BBM solar atau LPG yang ujung-ujungnya nambah polusi udara juga..
    :)

    Pembangkit jelas sudah kurang, disamping Bali yg pembangunannya bisa dibilang “GILA”, di Jawa sendiri juga sudah mulai pas-pasan kapasitasnya. Begitu satu pembangkit down (accident or maintenance) pasti langsung penggiliran mati listrik.

    Oh iya, kemarin iseng2 saya plot hotel-hotel yang sedang dibangun di sekitar legian-kuta, kalau dilihat di peta cukup mengerikan membayangkan “kuta terjual”:
    http://energiuntukbali.blogspot.com/2011/11/pembangunan-hotel-hotel-di-legian-kuta.html

  7. winata said:

    Jika hotel menggunakan genset diesel atau LPG terus-terusan, mereka bisa bangkrut Bung. Cost Operasional menggunakan pembangkit listrik sendiri, akan jauh berlipat-lipat dibanding pakai PLN. Jadi hotel dan semua industri pasti tergantung pada Pembangkit listrik besar semacam PLN.

    “Waras” kan pembangunan di Bali dengan membatasi listrik. Listrik itu ibarat bensin yang menambah besar api hasrat membangun di Bali, terutama industri pariwisatanya. Semakin disediakan bensin, semakin berkobarlah nafsu membangun hotel dan sarana pendukung pariwisata di Bali. Kalau memang Bali mau hidup dari pariwisata, hiduplah dari pariwisata yang lebih bermartabat. Karena pariwisata yang tak terkendalikan, adalah api yang bisa membakar segalanya. Kendalikan pariwisata Bali dengan membatasi penyediaan listrik.

    “Tourism is like a fire, you can use it to cook your soup, but it can also burn down your house”.

    Selama ini kita selalu dicekoki informasi, ketersediaan listrik terbatas. Terbatas untuk siapa?? Untuk pariwisata? Untuk hotel baru?

  8. Wayan H. Y. said:

    Ngomong-ngomong, arah diskusinya jadi agak mengarah ke menurunkan laju perkembangan hotel di Bali nih.. gapapa jg sih, i completely agree with that! it’s not sustainable to grow this fast!!

    Yap, memproduksi listrik sendiri akan berkali lipat lebih mahal daripada beli dari PLN, tapi itu gak bikin mereka bangkrut!..
    Bagi mereka kalau bisa dapet dari PLN itu “bonus profit”, kalau harus sendiri “no problem”.. Mereka akan cari alternatif2 lain…
    Satu pemilik hotel yang sedang dibangun di legian mengatakan saat ini hotel di Bali adalah bisnis paling bagus, rata-rata kurang dari 5 tahun sudah balik modal! bayangkan gimana gak tergiur para konglomerat itu mau nanam modalnya di Bali…

    Kalau mau menghentikan laju perkembangan hotel di Bali (~laju penjualan tanah bali ke orang luar???) tidak akan bisa dengan cara menghentikan suplai listrik. Yang akan terjadi adalah kena penggiliran, kemudian siapa yang dirugikan? Rakyat kecil lagi, bung!
    Hotel-hotel itu paling2 hanya berkurang profitnya sedikit, tapi mereka tetap terang benderang saat sekelilingnya harus giliran dapet listrik…

    Paling efektif adalah para Bupati yang harus tegas mengontrol perkembangan ini karena aturan saat ini adalah perijinan keluarnya dari Bupati. Kalau Bupatinya korup dan setiap ijin yang “beramplop” di tandatangan aja ya mau-gak-mau Bali akan makin terjual dan rakyat makin tertindas…
    Pertanyaannya, siapa yang harus ngawasi Bupati agar tegas? Gubernur? DPRD? LSM, rakyat langsung?

    Cara lain adalah memperkokoh sistem banjar, tapi ini agak semu juga..
    Maksudnya gini, ada beberapa Banjar yang warganya tegas tidak mau menjual tanah-tanah strategis ke orang luar Banjar, bahkan mereka mengontrol dengan ketat tata-ruang dan peruntukan masing-masing tanah dan setiap ada yang mau membangun.
    Kalau kayak semua bisa gini, pasti mudah sekali mengawasi dan mengendalikan perkembangan pembangunan…
    Masalahnya, tidak banyak banjar yang warganya bisa sekompak itu. Dan untuk menjadikan semua banjar di Bali kompak juga tidak mudah..

    Salam…

  9. winata said:

    Bukan pembatasan hotelnya tapi pada pengendalian industri pariwisatanya. Saya melihat, pariwisata di Bali sudah bukan lagi api kecil untuk memasak, tetapi sudah menjadi kobaran dahsyat yang mulai membakar segalanya. Orang Bali sudah kehabisan akal mencari instrumen paling efektif untuk membatasi dampak buruk pariwisata.

    Kalau motivasinya adalah cari profit semata, maka industri perhotelan akan sangat mempertimbangkan keuntungan. Sedikit saja kemungkinan untungnya berkurang, maka ia akan mengerem nafsunya melakukan investasi. Energi listrik adalah kebutuhan yang cukup krusial dan akan mampu membatasi pembangunan hotel-hotel baru jika ketersediaannya terbatas.

    Saya tidak percaya dengan kepala daerah, ataupun organisasi-organisasi adat seperti banjar atau desa adat akan mampu melakukan pengendalian pembangunan hotel atau penjualan tanah. Cakupannya terlalu luas untuk bisa membangun kesamaan pandangan. Kita tak lagi bisa berharap bahwa orang Bali akan peduli pada masa depan tanah Bali. Yang ada di benak mereka sekarang hanyalah kenikmatan dan keuntungan hari ini. Membatasi sumber daya dukung industri nampaknya akan efektif membatasi keserakahan investor.

    Data yang tidak pernah secara jelas di sediakan adalah : Berapa sebenarnya kebutuhan energi listrik di Bali? Berapa yang sudah ada?? Lalu proyeksi kebutuhan kedepan seberapa besar??? itu untuk siapa dan apa saja??

    Yang banyak di sampaikan ke Publik selama ini adalah informasi : “Kita kekurangan energi listrik, kalau tidak di bangun pembangkit baru, akan ada pemadaman bergilir. Kalau ini terjadi, rakyat kecil yang akan dirugikan”.

    Rakyat kecil lah yang terus di takut-takuti dan dijadikan tameng pembenar betapa investasi adalah dewa atau bahkan Tuhan yang harus diberi jalan lapang, apapun yang dimauinya. Yang pintar-pintar dengan dalil ilmu pengetahuannya dan kaya-kaya dengan uangnya, selalu menakut-nakuti dan membodoh-bodohi yang kecil dengan berpura-pura melindungi dan peduli.

    Dalam kondisi yang paling buruk sekalipun, takkan ada kiamat kalaupun Bali sampai tidak disediakan listrik yang memadai. Justru kondisi ini bisa menjadi titik balik yang bisa menyelamatkan Bali di masa mendatang. Contohnya, tanpa di minta dan tanpa di paksa-paksa, ketika Hari Raya Nyepi di Bali dimana Bali dibuat dalam keadaan minim listrik, ribuan orang begitu saja pergi dari Bali.

    Kita harus belajar untuk mengatakan “CUKUP” untuk segalanya. Jangan melarutkan diri dengan selalu mengatakan “MASIH KURANG”.

  10. Wayan H. Y. said:

    hehe.. kok kata-kataku kayak diputer-puter aja terus yak?
    In an ideal world, that would be a great solution untuk bisa bilang “cukup”, sayangnya dunia kita ini tidak se-ideal itu..
    Well, kalau gini kayaknya kita harus “agree to disagree on the matter”.

    Bagi Pak Winata solusinya adalah jangan tambah pembangkit agar tidak ada lagi pembangunan hotel, jadi tidak usah memilih antara pembangkit geothermal atau batubara.

    Bagi saya, cepat atau lambat pembangkit pasti akan dibangun, perkembangan susah dibendung (apalagi yang sepesat Bali saat ini). Dan, jika kita menolak geothermal pemda akan memilih batubara yang jelas-jelas efeknya jauh lebih buruk bagi Bali dan Bumi Pertiwi dibandingkan pembukaan sedikit lahan hutan lindung. Jadi saya encourage siapapun yang bisa terima logika saya yang tidak seberapa ini untuk mendukung geothermal untuk solusi energi di Bali.

    Salam lestari…

  11. Agung Wardana said:

    Dear Wayan H.Y
    Memang sulit berbicara dengan orang yang menggantungkan hidupnya dari geothermal energy atau konsultan energi karena semakin banyak hotel semakin banyak pasar yang bisa digarap.

    Anda dapat saja berkata bahwa mengorbankan sedikit hutan demi listrik sebagai suatu hal yang biasa, namun tidak demikian dengan masyarakat Tamblingan yang menggantungkan dirinya pada hutan sekitar untuk tracking dan berburu babi hutan. Apalagi tiap pagi mereka harus mencium bau seperti lubang WC yang bocor menurut penuturan mereka.

    Jika anda menyatakan bahwa jika geothermal tidak dibangun, berarti pemerintah akan membangun pembangkit batubara. Saya justru ingin balik bertanya, apakah anda berani menjamin jika geothermal Bedugul beroperasi pembangkit batubara tidak akan dibangun di masa depan?

    Hal ini mengingat ekspansi modal pariwisata semakin massif di Bali. Pada titik ini saya setuju dengan Bli Winata bahwa Bali perlu melakukan audit daya dukung dan daya tampung pulau (termasuk didalamnya audit energi) terlebih dahulu sehingga kita tahu harus membawa kemana Bali ini.

    Jadi menurut saya solusinya bukan geothermal Bedugul atau pembangkit batubara, melainkan bacaan yang jelas tentang Bali sebagai satu kesatuan ekosistem yang menempatkan hulu Bali (bentangan hutan ditengah-tengah Bali) sebagai kawasan yang penting dan genting bagi Bali. Penting karena ia merupakan kawasan resapan air yang memasok air bagi kawasan-kawasan dibawahnya. Genting karena ia sedang berada dalam cengkraman investasi pariwisata massal berserta infrastruktur pendukungnya. Hal ini dikarenakan adanya kecenderungan arus investasi yang beralih untuk berekspansi ke kawasan pegunungan karena kawasan pantai telah mulai jenuh (segara-gunung).

    Saya pahami bacaan anda tentang Geothermal Bedugul tidaklah sejauh ini karena anda hanya melihat dari sudut pandang teknologinya semata. Jadi sebagai seorang teknokrat saya mohon janganlah terlalu naïf melihat sebuah kasus karena kasus tersebut biasanya berdimensi banyak.

    Damai

    Agung Wardana

  12. Wayan H. Y. said:

    Waduh, saya masih belum cukup jelas rupanya ya?

    Saya sama sekali tidak memiliki penghasilan apapun dari geothermal Pak Agung, motivasi saya murni untuk kelestarian alam Bali!
    Saya juga muak melihat perkembangan hotel di Bali Pak, coba anda baca-baca lagi postingan saya di http://energiuntukbali.blogspot.com
    Mungkin kalau anda lebih banyak membaca isi blog saya, dan tidak terlalu sinis sebelum menilai, anda akan lihat apa motivasi saya sebenarnya.
    Saya kecewa sekali ternyata sebegitu rendahnya pandangan anda terhadap saya, bahkan sampai menuduh saya menggantungkan hidup dari geothermal dan perhotelan di Bali.

    Padalah anda sendiri sebagai seorang advokat yang mengajarkan saya bahwa tulisan seperti itu bisa dituntut dengan pasal menjelekkan nama baik?

    Pak Agung dan Pak Winata, saya bukan fanatik geothermal dan berharap dan mendoakan supaya ada geothermal di Bali. Sebelum ada ide pembangkit batubara, saya juga tidak ada masalah dengan penolakan geothermal di Bali.
    Tapi begitu saya tangkap bahwa karena geothermal di Bali ditolak, pemda memikirkan untuk membangun pembangkit batubara, saya melihat ini sangat konyol!
    Solusi yang elegan digantikan dengan sesuatu yang sangat kotor (dari hulu hingga hilir) dan hanya karena alasan-alasan yang cenderung subjektif…

    Saya kumpulkan plus-minus nya dari kedua pembangkit tersebut, dan ternyata geothermal jauh lebih plus dibandingkan batubara. itu saja!
    Saya tidak mencampurkan dengan ekonomi-politik-hukum yang cenderung blur, saya hanya berbicara scientific facts! That’s all.

    Anda bicara Bali sebagai satu kesatuan ekosistem, saya sangat setuju, dan jika batubara jadi dibangun di Bali (walaupun sepertinya di pelosok), mark my word: Bali akan tambah panas, berdebu, dan polusi udaranya akan makin menjulang tinggi!
    Ada “aktivis” yang bilang Bedugul tambah panas setelah ada sumur explorasi geothermal? coba tunggu setelah ada pembangkit batubara dimanapun diletakkan di Bali…

    Kalau mau bicara lebih besar lagi; bumi sebagai satu ekosistem juga sama! Pembangkit batubara di bali akan menjadi penyumbang tetap untuk global warming!

    Damai & Lestari Bumiku..
    Wayan

  13. Agung Wardana said:

    Yang jelas anda belum menjawab pertanyaan saya. Apakah anda berani memberikan jaminan jika geothermal Bedugul dibangun maka tidak akan disusul oleh pembangunan pembangkit batubara?

  14. Pingback: Studi Tentang Kondisi Kelistrikan di Bali « Indone5ia

  15. Pingback: Suara Sumbang pun Harus Diberi Ruang | Rumah Tulisan

  16. Rupawan said:

    Ini proyek udah jadi konsumsi orang-orang tertentu. Ngototnya minta ampun. Ada udang di balik batunya. Ada apa gerangan?? Benarkah untuk Bali??? Ataukah hanya untuk mengucurkan duit secara sesaat?? setelah itu ditinggalkan??

    Jangan jadi proyek geothermal yg gagal, kalo mau tau efeknya dan proyek mana itu, silahkan gugling sendiri.

    Dan yg anehnya, sekelas wakil menteri mengeluarkan pernyataan GeJE banget deh. Siapa masyarakat Bali itu??? Halahhhh.. Ckckckck…. Hayo buktikan, sapa aja yg bilang “ya” pada saat itu… Ckckckck…..

    http://itoday.co.id/ekonomi/3935-tolak-proyek-geothermal-bedugul-gubernur-bali-mau-enaknya-saja

  17. Made Kris TomTom said:

    Proyek Geothermal ini harus di-stop.
    Bukan masalah bentuk-bentuk energy yang menjadi point utama bagi saya. Adalah masalahkawasan suci saya, saya orang Bali. Kawasan suci itu mutlak. Mau pas sembahyang ada gerungan suara mesin? nggak kan .

    Toh juga Solar Panel Power Plant sudah mulai dibangun di karangasem untuk mengurangi ketergantungan energi dari pulau Jawa. Itu energy green! terbarukan setiap hari. Geothermal energy bersih, tidak sepenuhnya green!

    Akanlah percuma memiliki menteri ESDM dari Bali. Jero Wacik harus Mundur jika Geothermal jalan terus!

  18. gung hevy said:

    Ketika sumber daya alam itu diserahkan kepada perusahaan, maka perusahaanlah yang punya hak monopoli atasnya. Jika rakyat tidak punya uang untuk membeli, maka jangan berharap korporasi menjadi dermawan dengan memberikannya secara cuma-cuma.

    Jika masyarakat tidak ingin membayar apa yang telah dihasilkan oleh perusahaan (teknologi dan keahlian tidaklah dibayar dengan daun pisang) maka pilihannya adalah sumberdaya ini tidak perlu dikelola dan didiamkan saja.

    * Masyarakat Bali secara umum tidak akan diuntungkan oleh proyek ini, melainkan hanya menebalkan isi kantong para elite dan oknum-oknum akademisi.

    Jika sumberdaya ini didiamkan saja, maka anda sama saja dengan mendukung perusakan lingkungan di tempat lain (sumber listrik bali dari batubara=Kalimantan, Sumatera, Orangutan ? Hutan paling lindung? Budaya? Adat-istiadat? Suku?, )
    Konteks berpikir yang ditawarkan Tri Hita Karana tidak sesempit pulau Bali. Mencari keuntungan untuk diri sendiri dan mempertahankan kesempurnaan diri sendiri dengan memakai tenaga yang dihasilkan dari kerusakan orang lain sangat tidak elit untuk masyarakat yang diajari Tri Hita Karana sementara masyarakat di luar sana tidak punya wawasan tentang konsep ini.

    * Memberikan kesempatan kepada korporasi untuk melakukan privatisasi sumber kehidupan yang sejatinya milik bersama, maka akan membawa masyarakat Bali menjadi tersingkir di atas ibu pertiwinya

    Ketika Bali selatan sibuk merangkai lampu kelap kelip warna warni yang pemain besarnya (pinjam istilah) adalah pemangku kebijakan, mereka seenaknya juga meminta dan mendesak Bali utara untuk tetap seperti itu sementara mereka merangkai pundi rupiah yang tak pernah dirasakan masyarakat di luar zona elit pariwisata penyerap tenaga listrik paling banyak. Dari sudut pandang kemerataan pembangunan apakah ini cukup adil?

*

*

Top