Mai Melali ke Taman Ayun Mengwi

Teks dan Foto Anton Muhajir

Jika ingin menikmati salah satu warisan budaya Bali, Pura Taman Ayun di Desa Mengwi bisa jadi salah satu tempat tujuan.

Pura ini berada di timur Puri Mengwi, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, sekitar 20 km utara Denpasar. Dengan kendaraan pribadi antara 30-45 menit. Kalau kendaraan umum bisa dengan bis kecil jurusan Denpasar-Singaraja turun di Mengwi. Tarifnya, sekitar Rp 15.000.

Tapi, seperti umumnya tempat wisata di Bali, transportasi terbaik adalah dengan kendaraan pribadi. Begitu juga kalau melali (jalan-jalan) ke Pura Taman Ayun ini.

Anda ikuti jalan besar dari Denpasar menuju Bedugul. Sampai di Mengwi tinggal tanya saja di mana lokasi Pura Taman Ayun. Saya yakin semua orang di Mengwi pasti tahu di mana lokasi pura ini.

Pura Taman Ayun berjarak sekitar 500 meter di sisi timur Puri Mengwi. Kalau dari puri atau istana Raja Mengwi ini, Taman Ayun berada di kiri jalan. Ada papan petunjuknya. Atau, bisa juga dengan melihat para pedagang kaki lima di depan halaman pura ini.

Sehari-hari, pura ini jadi tempat sembahyang umat Hindu Bali setempat. Namun, dia juga jadi tempat turis, asing maupun domestik, mengenal budaya Bali terutama dari sisi arsitektur tradisional.

Seperti umumnya pura di Bali, Pura Taman Ayun pun terdiri dari tiga bagian utama, yaitu bagian paling suci (Utama Mandala), bagian tengah (Madia Mandala), dan bagian paling luar (Nista Mandala).

Dari tempat parkir menuju bagian paling luar pengunjung harus lewat jembatan. Pura Taman Ayun memang dikelilingi semacam danau buatan. Sayangnya, air di sekitar Taman Ayun hijau keruh. Toh, tetap asik juga untuk jadi pemandangan.

Di danau kecil ini ada pula sekitar lima orang sedang mancing. Bagi warga setempat, danau mengelilingi pura bisa jadi tempat mancing. Tapi, bagi sekitar 400 pengunjung tiap hari, pura ini jadi tempat untuk belajar budaya Bali, terutama arsitektur tradisional.

Tiket masuk pura ini murah meriah, Rp 3.000. Namun, tidak ada petugas pemandu yang bisa menerangkan apa dan bagaimana sejarah pura ini. kalau Anda beruntunga, petugas tiket akan memberi brosur tentang pura ini. Itu pun harus diminta dulu dan jika tersedia. Kalau tidak, maka Anda hanya bisa menerka-nerka apa fungsi dari masing-masing bagian pura seluas 4 hektar.

Menurut I Made Suandi, petugas harian yang juga menunggu loket tiket Pura Taman Ayun, pengelola memang tidak menyediakan pemandu lokal. Suandi menambahkan, selain karena tidak ada dana juga karena sering kali turis komplain ketika masih ada pemandu. “Para turis kadang-kadang dikerjain sama pemandu,” ujarnya.

Maka, sekali lagi, pengunjung harus mengandalkan pengetahuan sendiri untuk menjelajahi pura ini.

Ada jalan setapak dengan paving untuk para pengunjung. Jalan ini menghubungkan bagian per bagian di pura ini. Kalau mau mudah, pengunjung tinggal mengikuti jalan berpaving ini sambil melihat bagian-bagian dari pura.

Tapi, jangan terlalu taat pada “peraturan” dan petunjuk jalan ini. Nakallah sedikit dengan mencari jalan lain di luar jalan tersebut. Hehe.

Balebengong di pojok halaman, misalnya, sayang untuk dilewatkan. Bale ini berada persis di pojok halaman mepet dengan pagar bagian paling luar pura. Dari bale ini, pengunjung bisa menikmati danau menghijau di sekeliling pura.

Dari bale ini, mari lanjutkan perjalanan ke bagian lain pura ini, madia mandala. Pengunjung akan melewati hamparan rumput hijau tertata rapi di bagian paling luar ini. Rumput-rumput nan hijau menarik mata untuk dinikmati.

Ada semacam pintu gerbang khas Bali, satu-satunya pintu masuk kawasan madia mandala. Persis setelahnya ada bale bernama bale pangubengan. Bale ini menarik kalau dilihat dengan bingkai pintu gerbang madya mandala. Bagus difoto.

Pura Taman Ayun dibangun pada tahun 1634. Artinya sudah berumur 377 tahun. Wow!

Toh, dia masih terlihat kokoh, rapi, dan terawat. Bale-bale di pura ini semua masih berdiri kokoh. Selain bale pengubengan di pintu masuk madia mandala, bale kulkul di pojok barat daya bagian ini juga kokoh berdiri.

Bale kulkul ini tempat di mana ada dua kentongan tradisional Bali (kul-kul) digantung dan biasanya digunakan saat ada upacara. Tinggi bale ini sekitar 7 meter. Pengunjung bisa naik ke  atas bale ini. Cuma, karena lumayan tinggi, naik bale ini bikin capek juga. Saya ngos-ngosan pas naik bale ini.

Tapi, tempat ini asik untuk menikmati seluruh bagian dari Taman Ayun. Pengunjung bisa melihat seluruh bagian pura dari sini. Di sisi barat ada danau dengan air menghijau itu juga. Beberapa pasangan naik ke sini untuk berfoto-foto dengan latar belakang halaman luas pura.

Di sebelah utara ini ada bale loji. Pada zaman dulu, bale ini digunakan pemimpin upacara untuk beristirahat. Namun, saat ini, bale tersebut digunakan seniman untuk membuat dan menjual lukisan. Ada banyak gaya lukisan di sini. Misalnya, gaya realis ala Affandi, Batuan, tradisional ala Walter Spies, abstrak ala Picasso, dan lain-lain.

Selain dipajang, lukisannya juga dijual. Harga macam-macam. Satu lukisan berukuran sekitar 40×40 cm dijual Rp 200.000.

Di bale ini ada pula barong yang biasa diguanakan saat upacara. Tapi, kalau lagi nganggur, dia bisa dipakai untuk latar belakang foto-foto. Hehe..

Dari bale ini, tibalah saatnya mengelilingi bagian paling inti dari Pura Taman Ayun, Utama Mandala. Namun, bagian suci ini hanya terbuka kalau ada upacara. Itu pun tidak sembarang orang boleh masuk.

Di bagian ini ada beberapa meru, dari tumpang tiga sampai paling tinggi, sebelas. Pengunjung bisa mengelilingi bagian ini hingga di belakang. Meru-meru menjulang tinggi menjadi tujuan utama para pengunjung untuk berfoto. Buktinya, bahkan sampai di belakang bagian ini pun beberapa turis berfoto ria dengan latar belakang meru-meru tersebut.

Puas berfoto ria dan menikmati bagian inti pura, pengunjung akan kembali memutar ke pintu depan utama mandala. Lalu, dari sini kembali ke tempat kita bermula masuk pura ini.

Untuk menikmati seluruh bagian pura ini perlu waktu antara 45 menit sampai 1 jam. Setelah itu, pengunjung tinggal menikmati es kelapa muda dan camilan lain pedagang di depan pura ini. Lumayan untuk melepas lelah setelah berkeliling Taman Ayun. [b]

Tulisan ini dibuat atas kerjasama dengan Hotelku.

Jurnalis lepas, blogger, editor, dan nyambi jadi tukang kompor. Bekerja di lembaga donor yang mendukung petani kecil sambil nyambi nulis lepas di media arus utama ataupun media komunitas. Kuliner, jalan-jalan, isu LSM, HIV dan AIDS, pertanian berkelanjutan, dan kelompok terpinggirkan adalah isu yang membuatnya bersemangat 45 untuk menulis.

Kontributor Jurnalisme Warga Bali

Related posts

One Comment;

  1. Cahya said:

    Sudah lama ndak main ke sana, padahal deket dari rumah – hanya beberapa menit saja. Tapi kalau pas hari raya, padatnya bukan main.

    Kalau saya ke sana memilih pas hari-hari biasa saja, biar agak sepi.

*

*

Top