Masril Koto Berbagi Cerita Keberhasilan dari Padang

Teks dan Foto Kadek Lisa Ismiandewi

Penampilannya sederhana. Kaos hitam, celana bahan biru tua, dan sepasang sendal hitam. Tas pinggang kecil melengkapi tubuh mungilnya.

Namun, siapa sangka dialah Direktur Bank Petani dengan sekitar 10.000 anggota. Sabtu pekan lalu, Masril Koto, pendiri Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis (LKMA) atau Bank Petani berbagi ilmu di Forum Fair Trade Indonesia (FFTI). Masril Koto ngobrol santai dan berbagi pengalaman dengan teman-teman lembaga swadaya masyarakat (LSM), komunitas bisnis, dan anak-anak muda pencinta seni dalam acara Fair Trade Lunch.

Acara di sekretariat FFTI di Sanur ini adalah gathering kedua yang diadakan FFTI dan rencananya akan diadakan secara rutin. Tujuannya untuk berbagi pengalaman dan ide dari tokoh-tokoh publik maupun teman-teman jaringan FFTI yang sekiranya bisa menjadi inspirasi menumbuhkan kewirausahaan sosial secara pribadi maupun lembaga.

Masril Koto lebih senang menyebut lembaga keuangan yang dibentuknya bersama dengan teman-temannya sebagai Bank Petani. Alasannya karena lebih sederhana dan lebih mudah dimengerti petani. Idenya untuk membuat sebuah bank awalnya dipandang mustahil. Hampir semua bank di Padang, Sumatera Barat ia datangi untuk memperoleh informasi. Tapi tidak ada yang percaya, bahkan ia sempat ditipu oleh sebuah bank, disuruh menunggi seharian untuk bertemu pimpinan bank, padahal yang bersangkutan sedang ke luar kota.

Namun bukan Masril Koto namanya jika menyerah. Dengan itikad membantu petani yang selama ini kesulitan mendapat pinjaman dari bank, akhirnya bantuan datang. Melalui  diskusi Alumni Fakultas Pertanian Universitas Andalas (AFTA), ia diberitahu mekanisme kerja bank dan diyakinkan bahwa ia bisa mendirikan LKMA. Lalu, usahanya tersebut dimulai dengan menjual saham Rp 100.000 per lembar kepada ratusan petani.

Awalnya banyak petani ragu. Mereka bingung. “Masak selembar kertas begini harganya Rp 100.000,” begitu pertanyaan umum dari petani. Namun, pelan-pelan mereka mengerti, dan semakin banyak petani kemudian ikut membeli saham.

Ketika LKMA Prima Tani diresmikan tahun 2007 oleh Menteri Pertanian Anton Apriyantono, Masril Koto “memanas-manasi” Pak Menteri. Ia bilang, “Masak saya yang ngga tamat SD ini bisa membuat bank petani, tapi pemerintah tidak!” Pak Menteri akhirnya jengah dan kemudian membuat program nasional Pengembangan Usaha Agribisnis Pedesaan (PUAP).

Pada sesi tanya jawab Fair Trade Lunch, muncul pertanyaan dari audiensi. Bagaimana sistem kontrol LKMA? Dia menjelaskan bahwa aturan LKMA di masing-masing daerah berbeda-beda. Aturan itu dibuat secara fleksibel dan disepakati oleh anggota-anggota LKMA tersebut. Semuanya mengacu pada kearifan lokal.

Salah satunya menggunakan jaminan dari Dato (orang yang dituakan) sebagai penjamin peminjam. Menurutnya, saat ini ada 300 unit LKMA di Sumatera Barat. Pengelolanya adalah anak-anak petani anggota lembaga tersebut.

Jenis tabungannya juga bervariasi, seperti tabungan pendidikan, tabungan ibu hamil, tabungan untuk mencicil motor, tabungan untuk persiapan pernikahan. Jenis tabungan ini semua disusun berdasarkan identifikasi masalah anggota.

Mengenai pembayaran kredit, dia mengakui memang tidak berjalan mulus. Anggota yang terlambat membayar akan diberitahukan kepada Dato-nya. Selanjutnya nanti Dato yang memperingatkan. Jika tidak berhasil, maka akan diumumkan di Mesjid. Sampai saat ini belum ada masalah dalam peminjaman.

Masril Koto juga membuat program “Gerakan Sejuta Buku untuk Petani”. Menurutnya ini adalah sebuah gugatan karena buku sudah masuk menjadi ranah insdustri. Petani kesulitan mendapatkan akses buku karena harganya tidak terjangkau. Dia berpikir kalau ada satu orang saja yang menyumbangkan bukunya untuk petani, pasti petani terbantu.

Ternyata idenya ini mendapat respon baik. Banyak sekali yang menyumbangkan buku dan menghubungi Masril untuk menyalurkan buku-buku itu ke petani.

Dedikasi Masril mendapat dua penghargaan pada tahun 2010, yaitu “Danamon Award” dan “Indonesia Berprestasi Award”. Dia mengaku terkejut ketika tiba-tiba dihubungi  panitia seleksi kedua penghargaan tersebut. Dia mengaku tidak tahu menahu tentang keduanya. Tapi ketika tim seleksi mendatangi kampungnya dan melakukan penilaian, dia tetap tampil apa adanya. Melakukan kegiatan seperti biasa dan malah mengajak para panitia tim seleksi turun langsung ke pelosok-pelosok desa.

Masril juga tampil apa adanya saat tampil di acara TV Kick Andy. “Tadinya saya disuruh pakai batik, tapi saya ngga mau karena saya terlihat ngga pantas pake batik,” katanya. Akhirnya tim acara menyerah dan membolehkan Masril menggunakan t-shirt putih dibalut jaket hitam dengan celana kain hitam dan sepasang sendal hitam. Pakaiannya paling sederhana dibanding tamu-tamu Kick Andy yang diundang saat itu.

Banyak yang ingin tahu bagaimana Masril membagi waktunya dengan keluarga, karena pekerjaannya berkeliling bertemu petani. Lalu bagaimana dia menghidupi keluarganya.

Dia bercerita, bagaimana memadukan kegiatan sosialnya sambil menghidupi keluarganya. Pagi hari Masril membuat kue bersama istrinya. Lalu dia membawa kue itu ke warung-warung. Setelah itu dia bekerja untuk LKMA. Sorenya dia masih sempat mengerjakan ladangnya, dan mengambil uang hasil penjualan kue dari warung-warung.

Dia juga sempat menjual minyak tanah secara retail, dan istrinya bekerja menjahit mukena. Semua dikerjakan untuk menjaga stabilitas keuangan keluarga. Maka dari itu Masril berpesan, walaupun kita mengabdi untuk kegiatan sosial, tapi kita tidak boleh melupakan kewajiban menghidupi keluarga.

Satu hal menarik dari cerita Pak Masril siang itu adalah mengenai hubungan petani dengan seni. Menurutnya, Petani sekarang jiwanya kering, karena semakin sedikit musisi yang “mendendangkan keluhan mereka.”

“Saat ini kawan-kawan pekerja seni kurang memiliki inovasi sosialnya,” kata Masril. Karena itu, lanjutnya, seniman perlu menggali lebih banyak lagi cerita dari para petani. Bila perlu untuk menghayati kehidupan dan mampu menyuarakan aspirasi petani, musisi harus tinggal bersama-sama petani bahkan tidur dengan mereka. Di diskusi tersebut ada pula personil band NOSSTRESS yang sedang naik daun di Bali. Semoga nasehat ini bisa menginspirasi rekan-rekan musisi muda untuk menyuarakan kaum-kaum terpinggirkan.

Petani memang perlu kita perhatikan. Menurut cerita Masril, dia pernah “mengingatkan” artis Dian Sastro dan Atiqah Hasiholan untuk berterima kasih kepada petani. Lalu mereka bertanya, “Kenapa begitu, Pak?“ “Iya, karena para petani lah kalian bisa cantik seperti ini, bisa makan sayur setiap hari. Bayangkan kalau tidak ada petani, kalian tidak bisa makan sayur. Kalian tidak bisa menjadi sehat dan cantik seperti sekarang,” jawab Masril.

Masril juga mengingatkan akan ancaman krisis pangan. Ke depan, pangan akan menjadi status sosial masyarakat. Orang akan dinilai kaya bukan dari uangnya, mobil mewah, rumah mewah, tapi dari apa yang dimakannya.

Enam tahun lalu dia sudah pernah mengingatkan pemerintah tentang ancaman krisis pangan dan agar komoditas cabai dijaga baik-baik. Tapi tidak ada yang menghiraukan. Sekarang saat harga cabai melonjak tinggi, baru mereka merasakan apa yang saya katakan itu benar. “Jadi, kalang kabut kan semua. Coba dari dulu itu dijaga baik-baik, pasti kondisi harga tinggi ini tidak menjadi sedemikian buruk,” tambahnya.

Obrolan terus berlanjut sambil makan siang. Rasanya tidak habis-habis cerita yang disampaikan Masril. Banyak inspirasi dia berikan. Semangatnya bisa dirasakan semua peserta. Tapi, hal lebih penting setelah ini adalah “BERGERAK”, seperti kata Pak Masril. Jangan terlalu banyak berdiskusi tapi tidak ada hasil. Sebaiknya langsung turun ke masyarakat, dan lakukan apa yang kamu bisa berikan dan berguna untuk masyarakat.

Terima kasih Pak Masril untuk berbagi pengalamannya. Terima kasih juga untuk teman-teman yang sudah hadir. Semoga acara ini bisa bermanfaat. Sampai berjumpa di acara Fair Trade Lunch berikutnya. [b]

Pekerjaan utama sebagai ibu rumah tangga. Senin sampe Jumat, nine to six, bekerja di Forum Fair Trade Indonesia. Sekali seminggu, juga mengajar di Jurusan Hubungan Itnternasional (HI) UNUD. Lulus dari HI UNPAD, Bandung, pernah bekerja di Discovery Kartika Plaza Hotel. Tapi ternyata lebih tertarik dengan tawaran menjadi volunteer di Yayasan IDEP, sampai akhirnya belajar ber-NGO selama dua tahun disana. Lalu pindah ke Third World Network untuk belajar riset, dan memperluas jaringan dan informasi mengenai NGO di Bali. Kemudian ditugaskan menjadi Koordinator Sekretariat Kolaborasi Bali untuk Perubahan Iklim. Karena semakin tertarik dengan Manajemen NGO, maka memutuskan belok arah melanjutkan pendidikan magister ke Manajemen Sumber Daya Manusia,UNUD. Memiliki disiplin ilmu yang berbeda ini, saat ini cukup memberi bekal untuk mengamati dan berkecimpung di dunia NGO di Bali, walaupun sedang mencari peluang untuk bisa memperdalam ilmu alias melanjutkan pendidikan lagi. Tertarik dengan isu-isu lingkungan dan sosial, dan berusaha menyeimbangkan aplikasi teori yang dipelajari di kampus dengan praktek / isu yang berkembang di lapangan.

Related posts

4 Comments

  1. luhde said:

    weits, keren san. om koto jak penulisne masi. peh, telat ketemu bu lisa kemarin lho. mendadak maan inpo.

    who’s next???????????????????

  2. adi said:

    Hidup Bung Masril… yang tetap konsisten menjalankan, prinsif-prinsif Syahrir, Bung Hatta dan Tan Malaka

*

*

Top