Sejarah Barong Landung di Bali

Teks I Made Bande, Foto Team2Art

Sebelum membahas Barong Landung lebih rinci, ada baiknya digambarkan secara singkat sejarah barong-barong di Bali.

Penggambaran itu memperlihatkan kedudukan Barong Landung sebagai bahasan utama sajian ini. Barong, apa pun wujudnya, menggunakan topeng yang berbeda bentuknya satu sama lain, memiliki watak dan ikonografi yang unik. Istilah topeng atau tapel sudah tua umurnya dan diuraikan dalam beberapa prasasti kuna di Bali.

Prasasti-prasasti tua yang menyebutkan adanya pertunjukan topeng di Bali adalah prasasti Bebetin. Prasasti berangka tahun 896 Masehi (sebelum raja Ugrasena) ini menyebutkan pertunjukan topeng sebagai atapuka. Adapun prasasti Pandak Bandung menyebutkan pertunjukan topeng sebagai atapukan.

Raja yang mengeluarkan prasasti itu adalah Raja Anak Wungsu. Dia memerintah Bali pada tahun 1045-1071 Masehi. Masih banyak prasasti lain di Bali menyebutkan pertunjukan topeng dan istilah topeng selalu dikaitkan dengan kesenian lain, seperti gamelan, nyanyian, dan tari-tarian.

Di samping prasasti, banyak buku memuat mengenai pertujukan topeng di Bali. Misalnya, buku Pararaton yang menyebutkan topeng sebagai anapuk. Kitab Kidung Sunda menguraikannya dengan istilah anapel. Buku Negara Kertagama menyebutnya sebagai raket.

Menurut ikonografi (ekspresi, warna, dan hiasan), kini di Bali ditemukan sedikitnya sembilan kelompok seni pertunjukan memakai topeng. Masing-masing memiliki sejarah dan fungsi penting dalam masyarakat. Adapun kelompok seni pertunjukan itu meliputi Topeng Brutuk, Barong Ket, Barong Landung, Barong Kedingkling, Wayang Wong, Topeng Rangda (Calonarang), Topeng Bidadari, Topeng Gajah Mada, dan Topeng Babad (Pajegan dan Panca).

Barong adalah topeng berwujud binatang mitologi yang memiliki kekuatan gaib dan menjadi pelindung masyarakat Bali. Dilihat dari ikonografi topeng-topeng Barong di Bali, nampak adanya perpaduan antara kebudayaan Hindu dengan kebudayaan Bali Kuna, khususnya kebudayaan Hindu bercorak Budha.

Topeng-topeng barong seperti itu terdapat pula di negara-negara penganut agama Budha, seperti Jepang dan Cina. Di daerah Asashi, provinsi Iwate, Jepang, topeng-topeng Si-shi dan topeng-topeng binatang lainnya sampai saat ini masih dipentaskan untuk upacara ritual, khususnya upacara memohon keselamatan dari para leluhur dan upacara menurunkan hujan.

Pementasan dilakukan setahun sekali dalam upacara di kuil-kuil penyembahan leluhur. Puluhan topeng-topeng binatang ditampilkan dan dihadiri ribuan masyarakat Jepang. Pementasan-pementasan Si-shi seperti itu diiringi musik tradisional Jepang seperti berjenis-jenis kendang besar (daiko), kendang kecil (kakko), seruling (hichiriki), kepyak kayu (sakobioshi), dan juga dilantunkan nyanyian sakral yang dibawakan oleh kelompok ahli masyarakat Jepang.

Di Cina, kepercayaan terhadap naga yang dianggap memiliki kekuatan gaib sudah tua umurnya. Contoh, naga-naga dalam kebudayaan Zaman Batu Baru (Neolithic) dilukis pada vas-vas bunga dan diukir pada batu geok. Pada Zaman Perunggu (Bronze Age) di Cina, naga-naga diasosiasikan dengan kekuatan dan manifestasi alam semesta, seperti angin, kilat, dan petir.

Pada masa bersamaan, naga-naga juga dikaitkan dengan penguasa kuat dan pendeta sakti. Dengan munculnya penguasa tangguh pada masa dinasti Han, naga dijadikan simbol kekuasaan kerajaan dan tradisi itu masih berlangsung sampai sejarah Cina kontemporer. Naga dicatat dan dinyatakan sebagai binatang sangat sakti. Termasuk Penguasa Sorga pun tak mampu menandingi kekuatan naga.

Pada masa dinasti Tang dan Chung (Song), tradisi melukis naga-naga dimaksudkan untuk menurunkan hujan. Bagi Zen Budha, naga itu adalah simbol pencerahan agama. Naga rupanya memberi inspirasi munculnya Barong Sae di Bali di kuil-kuil tempat persembahyangan. Naga juga digunakan sebagai hiasan pelawah gamelan Bali.

Demikian juga dalam upacara plebon atau pembakaran jenazah keturunan raja-raja di Bali. Naga bernama Nagabanda biasa digunakan untuk mengantar arwah sang meninggal ke surga. [b]

Foto diambil dari Team2Art.

Jurnalis lepas, blogger, editor, dan nyambi jadi tukang kompor. Bekerja di lembaga donor yang mendukung petani kecil sambil nyambi nulis lepas di media arus utama ataupun media komunitas. Kuliner, jalan-jalan, isu LSM, HIV dan AIDS, pertanian berkelanjutan, dan kelompok terpinggirkan adalah isu yang membuatnya bersemangat 45 untuk menulis.

Related posts

*

*

Top