Celana Dalam

Teks Gayatri Mantra, Ilustrasi Natalie Dee

Hari-hari yang melelahkan. Pindah kos lagi. Begitulah.

Merantau ke kota, tak punya keluarga tempat tinggal yang paling diburu, ya rumah kos. Harga kos sekarang ditentukan oleh keberadaan kamar mandinya. “Mau yang di dalam apa di luar?” begitulah pertanyaan pemilik rumah kos-kosan di Denpasar. Kamar yang lengkap dengan kamar mandinya, harganya lebih mahal. Secara, Asanti sudah bekerja, maka ia lebih memilih  kamar yang lengkap. Malas banget kan, pagi-pagi mau kerja mesti antre kamar mandi segala?

Kamar kos ini standar ukuran 6×3 meter untuk barang-barang anak kos yang tidak banyak dan serba praktis. Kebetulan, kamar kos yang disewa seharga Rp 400 ribu sebulan belum termasuk biaya listrik, air dan sampah. Ini sudah kamar kos paling murah. Asanti menata barang-barangnya, sebuah lemari, majic jar, televisi, jemuran pakaian dan spring bed mungil. Asanti tidak sendiri, masih ada puluhan kamar kos berjejer di sebelahnya. “Uhf….” Asanti terkapar kelelahan pascapindah rumah, eh, pindah kos.

Asanti bekerja sebagai guru, masih single dan kekasihnya masih bekerja di kapal pesiar. Asanti gadis periang dan banyak teman. Jadi tidak ada alasan untuknya merasa jablai, alias kesepian. Belum lagi menjadi guru SD, gadis berkulit hitam manis ini sangat sibuk karena harus memberikan les tambahan bagi murid-muridnya.

Anyway, saya tetangga Asanti. Sama seperti tetangga saya itu, saya pun pindah kamar kos sudah berkali-kali. Zaman masih kuliah, saya tinggal di asrama. Setelah bekerja saya memilih ngekos ketimbang tinggal dengan keluarga paman dan bibi. Saya merasa sudah dewasa, banyak kegiatan, banyak teman, sudah mulai kerja dan mulai pacaran.

Seperti orang muda lainnya, saya pun ingin mandiri dan memiliki kebebasan. Kenyamanan dan privasi menjadi alasan utama mengapa saya lebih memilih tinggal di kamar kos. Harga kamar juga jadi pertimbangan saya, maklum mesti disesuaikan dengan kocek bulanan dari gaji.

Saya dan Asanti tinggal di tempat kos khusus putri. Gaya hidup urban seperti saya sudah lumrah. Mau tidak mau kami bertetangga dengan berbagai suku bangsa. Saya pernah juga sih, kos di tempat di mana ada kamar yang dihuni cowok-cowok dan orang berkeluarga. Tidak betah! Cowok-cowoknya suka menyetel musik keras-keras.

Ada juga yang malam mingguan dan menjomblo mengundang kawan-kawannya minum-minum miras. Dan di sebelah kamar saya, tetangga baru punya bayi. Kebayang kan? Sepanjang malam bayinya menjerit-jerit, minta susu dan selalu popoknya basah kena pipis. Dunia terasa begitu hiruk pikuk, pekak dan menyebalkan.

Saya cabut, pindah dan sekarang menjadi tetangga Asanti. Lumayan tempat kos kami agak hening. Cewek-cewek di tempat kami sebagian besar baru belajar bekerja dan mandiri. Jadi kami masih semangat dan disiplin. Pada banyak hal, antara saya dan Asanti banyak memiliki kesamaan hobi dan usia sebaya. Kebetulan kami sama-sama bekerja di pagi hari. Jadi, sore atau malam hari jika tidak ada kesibukan, kami mengobrol secara bergiliran, kadang di kamarku atau di kamar Asanti.

Sore yang gelisah.

Ini sudah memasuki bulan kelima Asanti tinggal di rumah kos. Asanti datang ke kamar saya.

“Sonya, aku mau tanya. Ehm, anu. Celana dalamku hilang. Kamu ada mindahin dari tempat jemuranku, gak?” Asanti tampak salah tingkah dengan pertanyaan sendiri.

Celana dalam bagi cewek kan hal pribadi banget? Saya, sih, biasa saja dengan pertanyaan ini. Sebab, antara saya dan Asanti, kami biasa saling memerhatikan barang-barang properti kami berdua. Maklum kamar kos dengan banyak penghuni, jadi mesti ekstra waspada.

Kami biasa menjemur pakaian di tempat yang disediakan tuan rumah, sepetak halaman rindang dengan pohon pisang. Di tempat itu, beberapa kutang berjuntai-bergelantungan. Pakaian basah tergantung dan terhuyung-huyung ditampar angin. Biasanya celana dalam berwarna warni terjepit di antara tali-tali. Ada g-string, ada yang maxi, mini ada juga yang bergaya sport.

Semua cewek memiliki selera celana dalam masing-masing. Saya lebih suka berbahan katun, maxi atau sport. Asanti suka yang G-string, satin atau brokat berenda. Kami merasa seksi saja dengan pilihan celana dalam masing-masing.

Saya jawab santai sambil tiduran sambil Blackberry-an. “Aku gak ada mindahin kok. Eh, btw, bukan kamu aja yang kehilangan celana dalam. Aku juga sempat kehilangan celana dalam. Kupikir ada tetangga kita yang tertukar mengambilnya. Tidak sengaja mungkin, siapa tahu jatuh ditiup angin. Cuman, aku curiga ada yang memang suka nyolongin celana dalam kita.”

“Masak sih? Buat apa juga orang itu tertarik celana dalam yang sudah kita pakai. Diembat segala?“ Asanti memonyongkan mulutnya karena jengkel. Kami berdua dengan perasaan masih jengkel kehilangan beberapa celana dalam, berusaha untuk berpikir positif.

“Ah, mungkin hanya orang iseng ngambil celana dalam yang masih bau deterjen dan pengharum pakaian itu,“ komentar saya menghibur diri kami berdua.

Lagi pula hal itu baru pengalaman pertama kehilangan celana dalam. Sempat sih, pikiran buruk sempat muncul. Tapi, pikiran itu cepat dikalahkan kelelahan karena kesibukan rutinitas harian. Untung, stok celana dalam kami lumayan banyak. Segeralah kejadian itu kami lupakan. Kami pun berjanji akan pergi bareng untuk shopping. Lalu kami  melanjutkan obrolan lain, ini dan itu, gosip terbaru, masalah kerjaan hingga akhirnya Asanti balik ke kamarnya untuk tidur. Besok masih ada hari yang sibuk untuk kami berdua.

Minggu yang menggelisahkan.

Waktu mencuci pakaian dan menjemurnya aku dan Asanti bertemu Putri, anak kamar 15. Dia juga tengah menjemur pakaiannya. Tidak biasanya Putri mencuci pakaian di hari Minggu. Kami saling bertegur sapa dan menjemur pakaian masing-masing. Sambil menggantung pakaian, Putri memulai percakapan sambil merendahkan suara. Namun, apa yang diucapkannya cukup membuat telinga kami merah dan tentu saja mengagetkan aku dan Asanti.

Aku dan Asanti sama-sama menanggapi perkataan Putri, “Serius, nih?”

“Iya. Aku merasa was-was nih. Aku sudah berkali-kali kehilangan celana dalam di hari Rabu. Aku merasa gak nyaman. Jadi aku numpang jemur pakaian dengan kalian, yah? Siapa tahu celana dalamku gak hilang kali ini.”

Pengakuan Putri membuat saya dan Asanti saling berpandangan. Jadwal mencuci pakaian penghuni kos berbeda, karena waktu kesibukan masing-masing orang berbeda. Saya dan Asanti biasa mencuci pakaian di Hari Minggu. Tapi, toh sama saja. Hari minggu lalu, celana dalam Asanti sudah hilang juga.

Memang sih, harga celana dalam tak seberapa. Tapi, kalau setiap saat kehilangan celana dalam, itu sungguh menyebalkan. Celana dalam memang dipakai setiap hari, tapi dibeli dengan waktu khusus. Pilihan-pilihan, persiapan khusus dan menjadi ritual khusyuk bagi perempuan untuk belanja celana dalam. Benda bernama celana dalam seperti kain talisman, ajimat pelindung bagian paling berharga dalam tubuh seorang wanita. Begitu penting dan sekaligus rahasia. Begitu berharga sekaligus enggan disingkap. Menjemurnya pun malu-malu, tabu.

Langsung saya tarik tangan Putri mendekat kearahku. Saya, Asanti dan Putri berbagi pengalaman kehilangan celana dalam. Kami bertiga saling mengerutkan kening dan mulai merasa terancam. Seolah-olah, ada mata tersembunyi yang mengawasi gerak-gerik kami. Selama ini, kami merasa kurang peka dengan lingkungan di sekeliling. Kami tidak peduli dengan orang lalu lalang. Dengan peristiwa kehilangan celana dalam, bukan saja hal ini menjadi memalukan untuk diceritakan. Hal ini juga membuat cewek-cewek di rumah kos, merasa seperti tengah menghadapi ancaman teroris.

Selembar celana dalam hilang, mungkin tidak layak dijadikan berita. Tapi, kehilangan ini menjadi begitu menyakitkan. Privasi kami terancam. Tanpa sadar, sesungguhnya ada yang diam-diam mengintai kehidupan kami. Kami merasa seperti hendak ditelanjangi, diperkosa karena bagian yang paling pribadi seorang wanita, celana dalam, telah diembat seseorang yang mungkin jiwanya tengah sakit. Bertiga, kami menginvestigasi cewek-cewek kamar lain seandainya mereka juga pernah punya pengalaman seperti itu. Ternyata jawaban mereka, sama!

“Maling sialan!” gerutu cewek-cewek kos di tempat saya. Dan kami pun ramai-ramai mengadukan peristiwa itu pada tuan rumah.

Sore yang menggegerkan!

Sepulang kerja, saya dan Asanti mendapatkan berita yang ternyata telah heboh sejak siang tadi. Maling celana dalam sudah ditangkap. Cewek-cewek kamar kos menyambut gembira dengan kelegaan luar biasa. Pelakunya konon bernama Herman, pria pekerja serabutan dan kos dua blok dari tempat tinggal kami. Brengsek! Pria itu konon sering melintasi tempat kami, sambil membaca situasi dan mengawasi kami. Tuan rumah juga sudah melaporkan kepada pecalang, keamanan di lingkungan kami tinggal.

Maling celana dalam ditangkap siang tadi. Herman Si Celana Dalam fetish ditangkap saat dia terpergok mencuri celana dalam Sukesi, anak kos kamar 5. Sungguh memalukan! Dan, ini bukan yang pertama kalinya Herman melakukan aksi terornya pada perempuan. Maling ini ternyata biasa beraksi saat semua cewek-cewek di tempat kos tidur siang. Herman, menjadi kleptomania spesialis celana dalam karena perasaan rendah diri. Beranjak dewasa, Herman birahi dan tertarik pada wanita. Namun, Herman cukup sadar diri, tak cukup punya keberanian dan modal mendekati perempuan. Nekat maling celana dalam. Badah!

Alhasil, Herman merasa cukup puas dengan mencuri celana dalam wanita. Herman lalu bercinta dengan celana dalam curian sambil membayangkan bersetubuh dengan wajah cantik Si Pemilik Celana Dalam. Alhasil, di lemari pakaiannya ditemukan sejumlah barang bukti berupa tumpukan celana dalam perempuan.

Bahkan, satu celana dalam ternyata milik Putri tergeletak di kamar mandinya. Celana dalam itu dijadikan bukti di pengadilan, karena saat ditemukan sperma pelaku masih lengket di celana dalam brokat putih berenda itu. Sialan! [b]

Foto dari nataliedee

Dayu Gayatri, mahasiswa S3 Kajian Budaya Universitas Udayana. Selain itu, Gayatri juga penulis cerpen dan pekerja sosial (sukarelawan) untuk penyandang cacat, lansia dan perempuan dan anak-anak. Pekerja sosial ini pernah mengikuti pelatihan jurnalistik tingkat dasar di Universitas Udayana 16 tahun lalu. Pada tahun 1998, dia mengikuti pelatihan Pengembangan Informasi, Edukasi dan Komunikasi (IEC) di Melbourne Australia. Kini dia aktif menulis untuk terus memperbaharui pengetahuan saya tentang ilmu jurnalistik. "Saya berkeyakinan bahwa ilmu jurnalistik yang akan saya pelajari dapat saya distribusikan dengan kelompok-kelompok yang saya dampingi, seperti kawan-kawan penyandang cacat dan beberapa tahanan di lapas Kerobokan," katanya. Mau tahu cerita-ceritanya, bisa klik http://dayugayatri.wordpress.com/

Related posts

13 Comments

  1. jessica said:

    ku jg sering hilang cd kesayanganku di kost, dan pelakunya juga cowok, namun masih muda dan ganteng, dan dia pernah terjebak oleh ku saat mau ngambil cd g-string merah dan bra 36b ku, namun pada saat itu aku hanya menegurnya dan gak tau kenapa kita malah pacaran dan ku suka banget pada saat ml sama dia, dia nya pakai cd dan bra punyaku, kita seakan lesbi, namun ku menyukainya….

    • Nardi said:

      @jessica : Ah apa iya mbak ? koq sampai ml pakai BH kayak homo aja… hi..hi…
      aku juga pakai cd cewek tapi kalau BH no ya !…

  2. Macan said:

    Wanita tak ceroboh jemur celana dalam di tempat ter buka baik,nya di jemur dlam km di jemuran handuk yg bsa di pindah 2 knapa musti di pamer kan and suka jor 2 an soal celana dalam dengan sesama rekan kos malah bikin kecemburual sosial bagi rkan yg tdak bsa beli celana dalam yg bagus dan mahal harga,nya cln dlm g string kan tipis kain,nya jemur dlam km jga cpat kering kok seing di bolak balik biar cpat kering jemur pagi sian dibalik sore di balik mlam jga di balik kan pnya kipas angin bsa di nyalakan arah kan ke jemuran cln dlm biar cpat kering-biar air nya tdak netes basahi lt bawah jemuran di alasi koran bekas atau kardus musti ulet tekuh bnyk akal gitu lo cba lakukan hal ini lbih privasi and tak akan hilang di curi

  3. gayatri mantra said:

    yak ampun…tips..tips untuk menyelamatkan kain ajimat penutup vagina perempuan itu memang dahsyat

  4. Jessica said:

    Ya klo cm soal sk sm Cd wanita kan tggl blang mnta sm yg pnya psti d ksh ya kan para cwek2

    • devigel said:

      emang rela kalau dinodai Sp????, dan seandainya cowok ente yang pelakunya, kira kira terima ga ya, soalnya pria beginian jarang mau selingkuhan, cintanya sama itu saja sich.

  5. goestra said:

    kalo ga salah dlm dunia kedokteran ini disebut “fetish” ya? pelaku merasa terangsang dgn jeroan wanita tsb.. ya ga dpt isinya, pembungkusnya oke juga.. :D

  6. gayatri mantra said:

    fetis macem-macem sigh.. ada yang bisa on hanya dengan melihat hak sepatu lancip perempuan..mmmmmmmmmm

  7. rara dhinie said:

    Pengalaman q lbh parah, tetanggaku yg cowok malah sampe masuk ke dlm rumah q en ngambilin cd q yg kotor. anehnya stlh 2 hari doi balikin en ganti ambil yg kotor lg. Buat apa ya coba?

    • dayu said:

      @rara : yang jelas cowok itu gak sehatlah…kedua, kamunya kok gak nyuci cd lama-lama dan mengijinkannya mengambil?emangnya tu cowo buka londrean? ati-ati aja sama yang sudah gangguan jiwa begini

*

*

Top