Menjaga Lontar Bali Agar Tak Telantar

Mengalihbahasakan lontar termasuk kerja intelektual. Foto Astarini Ditha.

“Hampir tidak ada dana dari pemerintah untuk perawatan benda-benda kuno,” akunya resah.

Menjelang jam pulang, Wayan Kariasa dan dua temannya masih berkutat dengan perkakas dan tugasnya. Sembari mengobrol di ruangan berpendingin itu, tangan kanannya menggosok lembar demi lembar lontar dengan satu ramuan. Campurannya minyak sereh, minyak kemiri dan alkohol.

Kariasa petugas Pusat Dokumentasi (Pusdok) Dinas Kebudayaan Provinsi Bali. Dia dan rekan-rekannya sedang menyelesaikan proyek pengarsipan lontar. Proyek yang dimulai dari Februari 2011 kemarin hingga 2012 ini bekerja sama dengan orang Amerika.

Di ruangan itu 3 orang sibuk dengan tugasnya masing-masing. Ada yang berkutat di depan komputer jinjing memasukkan data. Ada yang bertugas memindai (scan) lontar.  Dalam sehari, mereka bisa mengerjakan 600-100 lembar lontar. Satu judul lontar atau acakep lontar berisi beberapa lembar lontar. Ketebalannya beragam.

“Geguritan biasanya agak tebal,” ujar Kariasa.

Mengalihbahasakan lontar, menurutnya, pekerjaan serius. “Ini termasuk kerja intelektual,” jelasnya sembari terus mengelap lembaran-lembaran lontar dengan ramuan hitam. Ramuan tersebut, menurut Kariasa, selain membersihkan kotoran juga untuk menghitamkan aksara-aksara yang mulai memudar.

Untuk pemeliharaan, lontar-lontar dibersihkan setahun sekali untuk menghindari bubuk, sejenis rayap yang menimbulkan bercak-bercak noda atau rusak.

Kurang Dana

Selain menjaga agar lontar-lontar tak terkena noda, pekerjaan lain di Pusdok adalah menerjemahkan naskah tersebut. Namun, pengalihbahasaan ini masih terkendala kurangnya dana. “Hampir tidak ada dana dari pemerintah untuk perawatan benda-benda kuno,” akunya resah.

Dengan adanya bantuan dari Amerika itu, tim Pusdok kini mengejar target agar pemindaian selesai pada 2012. “Setelah scanning nanti dibawa ke Amerika,” ujarnya. Ada beberapa peralatan pemindaian tersebut: 2 buah lampu, sebuah kamera dan sepasang komputer jinjing.

Lontar berisi ilmu-ilmu. Konon banyak peneliti asing maupun lokal tertarik memelajari. Pusdok menyimpan sekitar 2.831 karya lontar. Koleksi paling banyak berupa tutur yang memuat perihal pelajaran, petuah dan nasihat. Jumlahnya 579. Jenis lontar lainnya tentang obat-obatan; usada, epos-epos perang; kanda, hingga ke niti sastra; sastra yang mengandung nilai-nilai soal kepemimpinan, dan semacamnya.

Di Pusdok ada dua ruangan terpisah. Satunya sebagai ruang baca. Satu lagi ruang penyimpanan lontar. Ada dokumen dari lontar yang telah ditransliterasi; alih aksara ke tulisan aksara Bali. Ada juga dokumen yang telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia atau Bahasa Bali.

Di ruang baca, dalam satu rak biasanya dipanjang beberapa buku hasil terjemahan, seperti babad. Ada katalog untuk mempermudah menemukan judul koleksi buku.

Nusantara memiliki tradisi dokumentasi sangat purba: simbol-simbol dalam gua, prasasti maupun penulisan dalam daun lontar. Perihal atau peristiwa diawetkan oleh ragam cara hidup unik. Agar tak keburu hilang, banyak dokumen yang diabadikan sebagai langkah preservasi: melalui pengarsipan. [b]

Related posts

One Comment;

  1. IGusti Ngurah Gede Suanda said:

    Mohon informasi bahan apa dan bagaimana caranya mengawetkan lontar
    Terima kasih

*

*

Top