Karena Desainer Dapat Mengubah Dunia

Desainer juga mesti mempunyai idealisme dan sikap kritis. Foto Bentara Budaya Bali.

Desain grafis adalah salah satu bagian utama dalam strategi komunikasi di era kini.

Berbagai tayangan visual yang memikat mata tersebut diciptakan sedemikian rupa dan —disadari atau tidak— kerap kali membekas dalam ingatan penyimaknya. Selain bermanfaat sebagai media promosi guna meraih pasar, desain grafis juga dapat memengaruhi persepsi masyarakat baik yang berdampak edukatif dan mencerahkan atau justru “menyesatkan”.

Melalui buku bertajuk Do Good (Design): Bagaimana Desainer Dapat Mengubah Dunia, David B. Berman mencoba menelaah berbagai hal terkait bidang tersebut, termasuk pengaruh kehadirannya di dunia. David ahli desain grafis dan strategi komunikasi yang juga pernah menjadi penasehat tinggi PBB. Dia juga konsultan senior untuk perusahaan piranti web terbesar di Kanada. Menurutnya, seorang desainer grafis haruslah memiliki kepedulian dan kesadaran moral sehingga kelak tidak akan menghasilkan karya cipta yang justru berpotensi destruktif terhadap alam dan kehidupan manusia.

“Jangan hanya membuat desain yang baik, tetapi berbuatlah kebaikan,“ ujar mantan wakil presiden Herrera Communications Berman, perusahaan desain tersohor di Kanada ini. Dia berbicara Kamis lalu lalu dalam kegiatan Pustaka Bentara di Bentara Budaya Bali, Ketewel, Gianyar.

Pada kesempatan yang sama, Enrico Halim, pembicara lain dan pembedah buku yang telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia tersebut menyatakan, untuk menjadi desainer grafis mumpuni, seseorang harus memiliki integritas. Bagi Enrico, desainer bukan pekerja teknis semata, ia juga mesti mempunyai idealisme dan sikap kritis. Karena itu, yang dilakukannya tidak berhenti sebatas menyelesaikan pesanan tetapi juga turut memberi masukan serta pandangan konseptual dan konstruktif kepada klien.

Enrico ahli desain grafis yang pernah menjadi direktur artistik dan kreatif perusahaan jasa komunikasi visual. Dia juga penata artistik program televisi, konsultan grafis perusahaan, serta pendiri majalah Aikon!, media pengusung isu lingkungan.

Dalam Pustaka Bentara kali itu juga hadir Sugi Lanus, pemerhati budaya yang mencoba menelaah desain grafis dari kacamata sosial budaya. Sugi mengungkapkan betapa desainer grafis berperan besar dalam mengonstruksi persepsi manusia kini. Seseorang yang semula ‘sederhana’ dapat menjadi konsumtif karena pengaruh citraan yang dihadirkan lewat sebentuk gambar maupun simbol-simbol di dalam suatu desain produk.

Menurut Sugi, para desainer grafis harus memerangi kekerasan visual yang kini sering ada dalam aneka tayangan dan iklan. Kekerasan tersebut tersampaikan melalui ilustrasi visual dan suara yang tidak peka terhadap kondisi sosial budaya khalayak penyimaknya. “Ke depan, masyarakat akan semakin cerdas dan kritis dalam menilai setiap karya yang hadir di ruang publik,” ujar Sugi.

Kegiatan Pustaka Bentara, diskusi Buku Do Good (Design): Bagaimana Desainer Dapat Mengubah Dunia dihadiri lebih dari 120 peserta. Mereka dari kalangan siswa, mahasiswa, penggiat desain grafis, budayawan, dan masyarakat umum. Melalui bukunya, David Berman berharap dapat menggugah siapapun, khususnya para desainer untuk menjadi agen perubahan sosial demi kondisi dunia yang lebih baik. [b]

Keterangan: Naskah dikirim Bentara Budaya Bali.

Share

2 komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

© 2012 Bale Bengong. Powered by WordPress Present by Sloka Institute & maintenanced by: Bali Blogger Community

Switch to our mobile site