Papan Catur Diplomasi Itu Bernama Bali

Dua negara adidaya, Amerika Serikat dan China, berunding di Bali. Foto Anton Muhajir.

Kalau pengalaman hari pertama menegangkan dan menyenangkan, maka hari kedua melelahkan dan mencerahkan.

Melelahkan karena selama satu hari, sebagai embedded blogger saya harus mengikuti semua pertemuan Menteri Luar Negeri (Menlu) Amerika Serikat Hillary Clinton. Pertemuan ini di ruangan berpindah-pindah dengan negara berganti-ganti pula. Jadi, pertemuannya maraton dari pagi sampai petang.

Pagi sekitar pukul 10.15 Wita, Clinton bertemu dengan Menteri Luar Negeri Vietnam di ruang  Medan, Bali International Convention Centre (BICC), Nusa Dua. Ini pertemuan pertama yang saya ikuti.

Ketika Clinton dan rombongan tiba di sana, suasana di depan ruangan sudah penuh puluhan wartawan. Sesak. Saya dan tiga teman lain tertahan di pintu masuk yang dijaga Diplomatic Security (DS), satuan khusus pengamanan untuk diplomat AS bersama puluhan wartawan lain.

Sekitar 1 menit setelah Clinton dan Menlu Vietnam di ruangan, petugas pun mengizinkan wartawan masuk. Saya pikir semua wartawan. Ternyata tidak. Ini hanya khusus media resmi AS. Saya yang ikut sebagai blogger masuk di dalamnya.

Tapi, waktu di dalam ternyata sangat singkat. Kami dipersilakan mengambil foto dua menteri tersebut hanya kurang dari 30 detik. Setelah itu semua harus keluar. Tanpa persiapan cukup dan belum mengerti suasananya, saya hanya dapat beberapa foto kurang bagus.

Tak apa. Ini yang pertama. Setidaknya saya tahu bagaimana harus mempersiapkan diri kalau mau motret lagi.

Proses pada pertemuan selanjutnya tak jauh berbeda. Saya termasuk satu dari empat orang yang bisa masuk meliput kegiatan Clinton. Begitu pula ketika Clinton bertemu dengan Menlu China secara bilateral, mengikuti pertemuan multilateral dengan anggota ASEAN plus, atau saat dia bertemu dengan Menlu Australia Kevin Rudd.

Semua pertemuan itu diadakan di tempat berpindah-pindah. Selama itu pula saya harus ikut dengan tim media mereka. Kalau tertinggal, saya tak akan bisa masuk.

Kegiatan semacam ini melelahkan selain karena berpindah-pindah dan banyak juga karena agak menjenuhkan ketika menunggu. Kami sebagai tim media harus mengikuti semua yang sudah diatur staf Clinton. Termasuk di dalamnya adalah menunggu antara 30 menit sampai satu jam sebelum pertemuan diadakan.

Simbol
Pertemuan-pertemuan oleh Clinton ini diadakan sampai sekitar pukul 6 sore. Pertemuan itu jadi salah satu di antara puluhan lain negara-negara lain baik oleh dua negara (bilateral), tiga negara  (trilateral), ataupun banyak negara (multilateral).

Melihat para negara ini bertempur, berunding di Nusa Dua, saya jadi merasa melihat Bali ini semacam papan catur. Para diplomat ini bertemu dan berunding bisa jadi soal sengketa atau kepentingan mereka. Ada negara yang berseteru, misalnya Korea Selatan dan Korea Utara, dan mereka sepakat bertemu di Bali.

Begitu pula dengan dua negara adidaya saat ini, AS dan China. Mereka bertemu di Bali entah untuk merundingkan apa. Kami sebagai peliput cuma tahu pengantar perundingan yang dibacakan kedua menteri. Setelah selesai pengantar, semua media harus keluar termasuk media resmi.

Tapi, di dalamnya, bisa jadi mereka berdebat alot tentang perubahan iklim, hak asasi manusia (HAM), dan isu-isu lain di mana keduanya selama ini sering tak sepaham dan sejalan. Kedua menteri bisa jadi hanya simbol. Toh saat berunding mereka bersama para stafnya. Anggaplah ada yang jadi peluncur, bidak, kuda, dan seterusnya. Maka, permainan justru ditentukan oleh para staf ini.

Melihat dari dekat bagaimana para menteri berunding bersama para stafnya itu jadi pelajaran menarik untuk mengerti bagaimana diplomasi internasional dilakukan. Tak hanya soal apa yang dibicarakan para pemimpin tapi juga politik di balik hal “remeh temeh” seperti penataan bendera, kursi, meja, minuman, dan seterusnya.

Karena sebelumnya hampir tak pernah meliput isu diplomasi internasional seperti ini, maka ikut sebagai embedded blogger ini memberikan banyak pengalaman baru tentang tata krama dan perundingan internasional ini.

Jadi, selain melelahkan, meliput kegiatan Menlu Hillary Clinton juga mencerahkan.

Ngobrol
Namun, hal lebih mencerahkan lagi justru ketika malam harinya saya ikut hadir di makan malam Regional Entrepreunership Summit (RES) di Grand Hyatt. Ini merupakan forum di mana para pelaku usaha di kawasan regional bertemu dan ngobrol satu sama lain.

Menteri Perdagangan Marie Elka Pengestu memberikan pengantar tentang besarnya potensi usaha Indonesia terutama di kalangan anak muda. Salah satu kekuatan baru tersebut datang dari internet dengan maraknya usaha-usaha berbasis internet.

Pemimpin Eksekutif Google, Eric Schmidt, dalam pidato sekitar 30 menit di depan sekirar 300 peserta RES menegaskan optimisme tersebut. Menurut Eric, Indonesia punya potensi akan jadi negara yang berperan penting dalam industri internet.

Seperti apa pidato Eric? Di tulisan lain saja deh. Sekalian sama pidato dari Clinton di acara ini juga. :) [b]

Jurnalis lepas, blogger, editor, dan nyambi jadi tukang kompor. Bekerja di lembaga donor yang mendukung petani kecil sambil nyambi nulis lepas di media arus utama ataupun media komunitas. Kuliner, jalan-jalan, isu LSM, HIV dan AIDS, pertanian berkelanjutan, dan kelompok terpinggirkan adalah isu yang membuatnya bersemangat 45 untuk menulis.

Related posts

*

*

Top