Membangun Jaringan Muda Kreatif melalui Puisi

Jauh-jauh dari Madura, Hurria membuktikan perjuangannya ke Bali tidaklah sia-sia.

Ia berhasil membawa pulang Anugerah Bentara sebagai juara 1 Lomba Baca Puisi se-Indonesia. Lomba ini digelar di Bentara Budaya Bali Jumat hingga Minggu pekan lalu.

Lomba Baca Puisi se-Indonesia sebagai rangkaian dari Festival Puisi Bentara 2011 ini merupakan kerjasama Bentara Budaya Bali (BBB) dengan Udayana Scientific Club (USC), Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) bidang penulisan di Universitas Udayana. Selain menggelar lomba baca puisi, ada pula Lomba Cipta Puisi Nasional. Lomba ini berakhir pada Oktober lalu. Ada pula Lomba Dramatisasi Puisi se-Bali yang dilaksanakan bersamaan dengan Lomba Baca Puisi se-Indonesia.

Menurut Ketua Panitia, Frischa Aswarini, rangkaian Festival Puisi Bentara ini telah dimulai sedari Februari 2011. Lomba Cipta Puisi Nasional, setelah melalui berbagai tahap penjurian serta verifikasi, menetapkan Lima Puisi Terbaik yang diumumkan pada Malam Puncak Festival Puisi Bentara tersebut.

Dari total 2.521 naskah karya 700 penyair dari 130 kota se-Indonesia, dewan juri yang terdiri dari Umbu Landu Paranggi, Prof. DR. Darma Putra serta Nyoman Tusthi Edy memilih Lima Puisi Terbaik penerima Anugerah Bentara 2011. Kelima puisi tersebut, yaitu Tukang Kayu (A. Muttaqin, Surabaya); Sajak Daun (Romi Zarman, Padang); Kupu-kupu Kuning dalam Cerita Pendek Putu Arya Tirtawirya (Sindu Putra, Mataram); Opera Rama Sinta (Otto Sukatno CR, Yogyakarta); Cerita Tiga Rupa (Frans Ekodhanto Purba, Jakarta).

Kelimanya diundang secara langsung untuk menerima penyerahan hadiah pada malam puncak Minggu lalu di Bentara Budaya Bali, Jl. Prof. Ida Bagus Mantra 88 A Ketewel-Gianyar.

Mengutip pernyataan Darma Putra dalam pengantarnya mewakili dewan juri, puisi yang baik adalah puisi yang berhasil menjadi mitos atau puisi yang berhasil menjadikan mitos sebagai titik-tolak ekspresi.

Menurut Darma yang juga Guru Besar Universitas Udayana, penyair-penyair di atas piawai menjadikan mitos bukan saja sebagai titik-tolak atau sumber inspirasi tetapi juga sebagai titik-yang-ditolak. “Artinya mereka menggunakan mitos untuk mendekonstruksi pikiran pembacanya sehingga bisa melihat kenyataan dalam perspektif inovatif mencerdaskan,” katanya.

Maksimal
Sementara itu, selama tiga hari berturut-turut pada Jumat hingga Minggu lalu juga dilaksanakan pula Lomba Baca Puisi se-Indonesia. Lomba diikuti 208 pendaftar, termasuk dari Jakarta, Riau, Palembang, Sulawesi Tenggara, Jakarta, Yogyakarta, Madura dan Surabaya. Dewan juri yang terdiri dari Oka Rusmini (novelis), Ida Bagus Darma Suta (sastrawan) dan Wayan Sunarta (penyair) menetapkan para pemenang.

Ida Bagus Darma Suta dalam catatan evaluasi menyatakan para peserta rata-rata memiliki semangat dan antusias luar biasa mengikuti lomba ini. Dari ratusan penampil secara umum boleh dikata cukup bagus dan maksimal, baik kualitas vokal, ekspresi, maupun adaptasi panggung. “Akan tetapi banyak juga peserta yang sayangnya kurang peka terhadap ruang serta penguasaan teknik pembacaannya masih lemah,“ ujarnya di depan perwakilan dewan juri di sela pembacaan berita acara pada Malam Puncak Penganugerahan Festival Puisi Bentara 2011.

Sebagai juara 1 Lomba Baca Puisi se-Indonesia Anugerah Bentara 2011 yakni Hurria (Universitas Trunojoyo Madura); Juara 2, Putu Oka Wardika (SMA Negeri 5 Denpasar); Juara 3, Mira Astra (Umum). Selain meraih Piala Bentara, para juara juga memperoleh sertifikat dan dana pembinaan.

Sementara itu, Juara Harapan I, Awyawaharika A. AP (SMA Negeri 5 Denpasar); Juara Harapan II, Tria Hikmah Pratiwi (Umum). Enam (6 ) Nominator terpilih antara lain ; Dra. Ni Wayan Sumiasih (SMA Lab. School, Singaraja) ; Shelvie (SMA Lab. School, Singarja); Ardiansyah Dz (Universitas Trunojoyo, Madura); Ni Luh Ayu Desi Andriani (SMA Negeri 2 Amlapura); Muda Wijaya (Umum); Catur Wira Natanegara (SMA Negeri 1 Denpasar), serta Pembaca Berbakat; Pande Km. Intan Trianaputri (SMP Negeri 3 Gianyar); I Gst. Ayu Gita Dewantariyasa (SMP Negeri 5 Denpasar); Kadek Desi Nurani Sari (SMA Lab. School, Singaraja); Ni Putu Suputri Noviani Pradhana (SMA Negeri 3 Denpasar); Silvia Anggita Putri (SMP Negeri 3 Kuta Selatan); Winda Permata Sari (SMA Negeri 1 Denpasar). Sementara itu Nuril Eka H (Psikologi, UI) dan M. Choirul Anam (SMA Negeri 4 Surabaya) meraih gelar Pembaca Favorit.

Sedangkan untuk Lomba Dramatisasi Puisi se-Bali, dari sepuluh (10) tim, hanya diikuti oleh delapan (8) penampil dari kelompok teater sekolah maupun umum di Denpasar, Tabanan serta Singaraja antara lain ; Teater Angin (SMA Negeri 1 Denpasar); Teater Limas (SMA 5 Denpasar); Teater Kirana (SMA Negeri 6 Denpasar); Teater  Saet (UNHI Denpasar); Teater Bingin (SMA Negeri 1 Kediri); Teater Jineng (SMA Negeri 1 Tabanan); Teater SMA 2 Tabanan dan Teater Ilalang.

Dewan juri yang terdiri dari Abu Bakar, Nyoman Erawan serta Gusti Putu Bawa Samar Gantang menilai peserta yang sebagian besar berasal dari teater SMA ini kebanyakan masih kurang memiliki pemahaman tentang struktur dramatisasi dan teknik dramaturgi.

Menurut Abu Bakar secara umum konsep yang diusung cukup baik dan menarik, para aktor yang tampil di atas panggung pun menunjukkan totalitas peran yang tidak diragukan lagi. “Namun kembali lagi, bahwa kita menilai sebuah pementasan secara keseluruhan sehingga bagian-bagian pemanggungan harus disatukan menjadi struktur pentas utuh,“ demikian ditekankan Abu Bakar dalam catatan dan evaluasi dewan juri.

Ditambahkan pula oleh Abu yang sempat mendirikan teater Poliklinik dan kini lebih sering mementaskan nomor-nomor pendek bersama teater Bumi ini, teater-teater SMA yang tengah berkembang harus lebih banyak diberikan workshop dan pendalaman drama dan teknik pementasan agar mereka mampu merancang sebuah garapan yang lebih baik lagi.

Tampil sebagai juara 1, Teater Ilalang (Singaraja), Juara II, Teater Limas (Denpasar) serta Juara III, Teater Angin (Denpasar). Ketiga penampil terbaik tersebut berhak atas Piala Anugerah Rektor Universitas Udayana, sertifikat serta dana pembinaan.

Selain pengumuman juara serta penyerahan hadiah, pada Malam Puncak Festival Puisi Bentara 2011 juga dimaknai dengan permainan musik akustik resitel biola oleh Natya, pembacaan puisi para penyair, dan penampilan Mirah BRTV.

Festival Puisi Bentara adalah salah satu agenda BBB yang berupaya memberi ruang kreasi seluasnya bagi generasi muda dalam bidang sastra. Selain itu, sebagai lembaga kebudayaan, BBB turut mendukung upaya pengembangan dan studi kebudayaan melalui agenda-agenda yang rutin diselenggarakan setiap bulannya, semisal Dialog Sandyakala Sastra, Pustaka Bentara, Pameran dan Diskusi Seni Rupa, maupun Pemutaran Film serta Akademika Bentara.

Juwitta K. Lasut, penggiat budaya BBB menyatakan, pihaknya berupaya dan merancang agar Festival Puisi ini bisa diselenggarakan setiap tahunnya serta menjadi agenda tahunan di Bentara Budaya Bali. “Melalui kerjasama dengan komunitas-komunitas muda seperti USC semoga kita  bisa membangun jaringan muda kreatif dan menambah kecintaan generasi muda terhadap sastra,“ ujarnya. [b]

Teks dan foto dari Bentara Budaya Bali.

Jurnalis lepas, blogger, editor, dan nyambi jadi tukang kompor. Bekerja di lembaga donor yang mendukung petani kecil sambil nyambi nulis lepas di media arus utama ataupun media komunitas. Kuliner, jalan-jalan, isu LSM, HIV dan AIDS, pertanian berkelanjutan, dan kelompok terpinggirkan adalah isu yang membuatnya bersemangat 45 untuk menulis.

Related posts

*

*

Top