Bugis Bali Berdampingan di Pulau Serangan

Di Pulau Serangan, Bugis dan Bali berdampingan dalam harmoni.

Batu nisan itu tanpa nama. Tidak juga ada tahun di permukaannya. Namun, meski tanpa teks sama sekali, pada batu nisan itulah sejarah akulturasi Bugis dan Bali terpahat.

Manusia di balik batu nisan tersebut adalah Haji Mu’min. Batu nisan berwarna hitam penuh ukiran itu berada di kuburan Kampung Bugis, Pulau Serangan, Denpasar Selatan, Bali. Dia merupakan nenek moyang orang Bugis di pulau yang kini tak lagi terpisah dari Bali daratan tersebut.

Saya dan tujuh teman lain berkunjung ke makam tersebut hari ini. Kami sedang melakukan praktik liputan tentang jalan-jalan sebagai bagian dari Kelas Menulis Jurnalisme Warga oleh Bale Bengong. Kami ingin mengenal sekaligus belajar tentang Kampung Bugis di pulau ini.

Menurut sesepuh Kampung Bugis, Haji Muhammad Mansyur, Mu’min adalah orang Bugis yang terdampar di Bali pada abad ke-17. Setelah berhari-hari berlayar tanpa tujuan, menurut Haji Mansyur, Mu’min kemudian melihat Gunung Agung di Karangasem, Bali. Lalu, gunung berapi tertinggi di Bali itu pun jadi acuannya.

Mu’min berlabuh di Serangan yang pada saat itu merupakan pulau terpisah dari Bali daratan. Ada selat selebar sekitar 1 km memisahkan daratan Bali selatan dengan pulau ini. Namun, sejak 1990-an awal hingga pertengahan, pulau ini mengalami reklamasi alias penimbunan besar-besaran hingga empat kali lipat dari luas awal.

Di pulau seluas sekitar 400 hektar ini kemudian Mu’min dan sekitar anak buahnya menetap setelah sebelumnya sempat tinggal di sekitar Puri (istana) Pemecutan, Badung.

Kini, keturunan pelaut Bugis yang terdampar di Bali empat abad lalu itu membentuk kantung pemukiman (enclave) Kampung Bugis di Pulau Serangan. Daerah ini tak hanya bisa jadi salah satu tempat jalan-jalan di Bali tapi juga bukti bagaimana harmoni itu sudah terwujud di pulau ini sejak ratusan tahun silam.

Serangan, termasuk Kampung Bugis, bisa jadi alternatif pilihan tempat jalan-jalan di antara riuh wisata massal di pulau ini. Selain menyajikan atraksi wisata laut, seperti snorkling, naik perahu keliling pulau, serta surfing, pulau ini juga memiliki potensi wisata spiritual atau, ya setidaknya harmoni dan akulturasi itu tadi.

Kampung Bugis di Serangan bisa jadi tempat jalan-jalan sambil belajar harmoni di Bali itu.

Tak ada kendaraan umum dari Denpasar dan sekitarnya ke pulau ini. Mau tak mau ya harus dengan kendaraan pribadi, motor ataupun mobil. Perlu waktu sekitar 30 menit dari bandara Ngurah Rai di Kuta menuju tempat ini.

Pengunjung harus bayar tiket masuk Desa Serangan, Kecamatan Denpasar Selatan ini sebesar Rp 2.000.

Kuno
Titik temu pertama jika jalan-jalan dan belajar tentang harmoni di Pulau Serangan tersebut ada di Masjid Asy-Syuhada. Menurut Mansyur, masjid ini dibangun warga Kampung Bugis dengan bantuan dari Raja Badung saat itu, Cokorda Ngurah Sakti, yang beragama Hindu.
“Masjid ini bukti bahwa dari dulu kerukunan Islam dan Bali sudah terjadi,” kata Mansyur yang juga imam Masjid Asy-Syuhada.

Masjid ini berada di pertengahan kampung. Tak hanya jadi pusat kegiatan beragama umat Islam setempat, masjid ini juga jadi tujuan pertama orang-orang yang ingin belajar tentang multikulturalisme di pulau ini.

Beberapa pertanda tuanya masjid satu-satunya di Serangan ini bisa dilihat dari Al-Quran kuno, tiang kayu di masjid, serta mimbar yang tinggi. “Masjid ini salah satu masjid tertua di Bali,” kata Mansyur.

Muhadi, Kepala Lingkungan Banjar Kampung Bugis, mengatakan, banyak wisatawan dari luar Bali atau bahkan luar negeri yang belajar tentang harmoni umat Islam dan Hindu ala warga Serangan ini. “Kalau Malaysia atau Singapura sih sudah sering. Terakhir malah ada dari Rusia yang berkunjung untuk belajar,” ujarnya.

Harmoni itu memang terjadi setidaknya secara kasat mata. Umat Hindu Bali berdampingan dengan umat Islam di Kampung Bugis, Serangan. Mereka tak terpisah meski secara geografis berbeda banjar.

Saat Idul Fitri, misalnya, umat Hindu akan berkunjung ke rumah umat Islam. Demikian pula saat Galungan, hari raya Umat Hindu, umat Islam akan berkunjung ke rumah warga yang merayakan. Mereka juga saling mengantarkan makanan saat hari raya tersebut yang dalam bahasa Bali biasa disebut jootan.

Rumah Panggung
Persis di depan masjid, terdapat rumah panggung khas Bugis. Rumah kayu ini unik karena dia satu-satunya rumah berbentuk panggung di antara sekitar 90 rumah lain di kampung ini.
Rumah panggung merupakan rumah khas suku-suku di Sulawesi Selatan, termasuk Bugis, Gowa, dan Tana Toraja.

Meskipun menjadi rumah pribadi, rumah persis di depan Masjid Asy-Syuhada ini bisa jadi salah satu objek wisata di Kampung Bugis, Serangan. Pengunjung, sebenarnya bebas masuk dan melihat. Sayangnya, tak selalu ada orang yang menunggu dan membuka pintu menerima tamu ini. Karena itu, perlu usaha khusus agar bisa melihat-lihat dan foto-foto dengan latar belakang rumah ini.

Rumah seluas sekitar 3 are termasuk halamannya ini merupakan satu-satunya rumah khas Bugis yang masih tersisa di Pulau Serangan. Menurut Mansyur, pada awalnya semua warga Kampung Bugis memiliki rumah sejenis. Seiring waktu, satu per satu rumah panggung itu hilang dan berganti rumah-rumah biasa, bukan juga rumah khas Bali.

Mansyur menduga, hilangnya rumah panggung ala Bugis di Serangan tersebut selain karena mahalnya biaya pembuatan ataupun perawatan juga karena semakin mahalnya tanah di Bali. Pemilik rumah panggung yang tersisa tersebut, misalnya, adalah dokter gigi yang tinggal di Denpasar. Beda dengan sebagian besar warga di Serangan yang bekerja sebagai nelayan atau karyawan swasta.

Dari rumah panggung ini, pengunjung juga bisa jalan-jalan ke kuburan Islam di Serangan. Di sinilah, pengunjung bisa melihat makam Haji Mu’min, orang yang pertama kali meletakkan generasi pertama orang Bugis di Serangan.

Entah sengaja atau tidak, penempatan kuburan nenek moyang Kampung Bugis di Serangan ini pun mengakomodir falsafah Hindu. Bangunan suci atau paling dihormati, menurut Hindu Bali, akan berada di sisi timur laut.

Sanggah (tempat sembahyang keluarga) atau pura, misalnya, akan berada di titik ini, bukan di sisi barat atau selatan. Begitu pula dengan kuburan almarhum Mu’min ini. Dia berada di bagian timur laut kuburan.

Saya menangkap itu sebagai salah satu bentuk akulturasi antara Kampung Bugis dan Hindu Bali. Namun, Haji Mansyur sendiri malah tidak menyadarinya.

Batu nisan Haji Mu’min yang tanpa nama dan tahun itu merupakan salah satu bukti harmoni di ujung selatan Bali yang sudah terbangun sejak berabad-abad silam.

Tiap tahun, menurut Mansyur, ratusan pengunjung dari luar Bali, terutama Jawa, berziarah dan mendaraskan doa untuknya. Tak hanya berwisata, mereka juga belajar tentang harmoni di pulau ini. [b]

Jurnalis lepas, blogger, editor, dan nyambi jadi tukang kompor. Bekerja di lembaga donor yang mendukung petani kecil sambil nyambi nulis lepas di media arus utama ataupun media komunitas. Kuliner, jalan-jalan, isu LSM, HIV dan AIDS, pertanian berkelanjutan, dan kelompok terpinggirkan adalah isu yang membuatnya bersemangat 45 untuk menulis.

Related posts

4 Comments

  1. Pingback: Menulis Perjalanan, Belajar tentang Keragaman | Rumah Tulisan

  2. Pingback: Pulau Serangan, another Bali's hidden paradise, surganya para surfer Catatan Perjalananku

*

*

Top