Patung untuk Mempercantik Arsitektur Bali

Dari zaman dahulu masyarakat Bali telah mewarisi karya arsitektur unik. Karya ini sarat dengan ornamen dan dihiasi patung-patung sesuai fungsi dan maknanya.

Awalnya keberadaan patung-patung sebagai simbol tertentu diletakkan sebagai pendukung arsitektur pura dan puri. Pura sebagai simbol penguasa alam niskala (tak kasat mata). Puri sebagai simbol penguasa secara sekala (terlihat oleh mata). Peletakan patungnya pun disesuiakan dengan fungsi tertentu. Misalnya pada Pura Dalem dan Pura Prajapati yang lebih dominan penggunaan patungnya adalah patung dengan karakter seram dan menakutkan.

Adapun pada jeroan pura cenderung menampilkan karakter patung lebih lembut, widyadara, widyadari atupun karakter dewa.

Pada arsitektur puri pun tokoh-tokoh seram sebagai penjaga pintu masuk (Dwarapala) sangat sering dapat dijumpai. Adapula yang mengambil tokoh parekan dalam pewayangan seperti Merdah dan Tualen.

Perletakan, fungsi dan makna patung terus mengalami perkembangan. Patung yang biasanya hanya ada di kawasan pura dan puri kini merambah ke tempat tinggal permukiman masyarakat. Contoh paling mudah dijumpai adalah penempatan patung pada kanan kiri pintu masuk (angkul- angkul), aling-aling, sampai pintu masuk merajan atau sanggah.

Patung yang digunakan, misalnya patung Ghorakala, Nawa Sura, dan Nawa Sari. Ada pula yang menempatkan karakter Merdah Tualen atau tokoh manusia sedang menabuh gambelan, membawa senjata, sampai karakter lucu.

Secara sekala, patung-patung tersebut dapat digunakan sebagai elemen estetis penata rumah. Selain itu dari segi niskala dapat digunakan sebagai sarana proteksi dari hal-hal negatif. Angkul-angkul, aling-aling dan patung Dwarapala menjadi kesatuan fungsi proteksi secara sekala dan niskala.

Gangguan
Sebagaian masyarakat ada yang meletakkan patung Ganesha pada aling-aling. Patung seperti Ganesha memberikan suatu filsafat lambang kebijaksanaan. Bhatara Gana sebutan lain beliau, juga ahli dalam tenung. Berdasarkan konsep tersebut kemudian diwujudkan pada aling-aling dengan harapan apabila ada gangguan negatif yang masuk, bisa dinetralisir.

Patung Nawa Sura & Nawa Sari biasanya diletakkan pada pintu masuk merajan atau sanggah, tempat sembahyang di rumah. Nawa Sura digambarkan dengan sosok raksasa dengan senjata berupa kapak atau pedang. Adapun Nawasari bersenjatakan bunga. Sama halnya pada angkul-angkul (pintu gerbang di rumah). Kedua patung ini mengapit pintu masuk sebelum menuju area merajan atau sanggah.

Sebelum berkembangnya penggunaan patung-patung oleh masyarakat umum, masyarakat biasanya menggunakan kelangsah (daun kelapa kering) atau kelabang mantri sebagai sarana proteksi dari kekuatan negatif. Ulat-ulatan dari daun kelapa tersebut diletakkan pada aling-aling.

Selain patung, pagar batas menjadi hal penting dalam arsitektur Bali. Ada kaitan makna yang erat antara pintu keluar masuk, patung, pagar (tembok) pembatas  pekarangan sebagai wujud proteksi (penjagaan secara fisik dan non fisik). Pada setiap sudut pagar pekarangan terdapat paduraksa yang mengikat pagar pekarangan agar tetap kokoh.

Dari segi filosofis, setiap sudut paduraksa tersebut memiliki nama dan makna tersendiri. Pada sudut kaja-kangin disebut Sri Raksa  yang berarti kemakmuran finansial. Pada sudut kelod-kangin disebut Aji Raksa berarti ilmu pengetahuan. Sedangkan pada paduraksa di sudut kelod kauh disebut Rudra Raksa yang bermakna kekuatan. Terakhir disebut Kala Raksa pada sisi kaja kauh yang berarti pengelolaan waktu.

Makna tersebut dijelaskan oleh pengajar Jurusan Arsitektur Universitas Udayana Bali, Ir. Wayan Meganada, M.Ars. Semua hal tersebut mempunyai nilai dan makna pada kehidupan sebuah rumah tangga.

Jika ditinjau lebih dalam, sebenarnya konsep hidup yang baik telah diwujudkan para leluhur masyarakat Bali melalui simbol-simbol yang secara fisik sangat sering kita jumpai. Apabila sebuah keluarga telah berada dalam tatanan tersebut, tentu dapat melahirkan keharmonisan dalam kehidupan berumah tangga.

Begitu juga halnya dengan keberadaan dan perletakan setiap patung di lingkungan rumah. Apabila bisa ditarik makna dan nilai filosfisnya dalam kehidupan tentu akan berdampak positif. Jika hanya dimaknai sebagai komponen pelengkap keindahan rumah tentu tidak salah pula. Tetapi alangkah baiknya jika setiap penataan yang kita lakukan diketahui nilai estetis dan filosofisnya sebagai sesuluh (cermin) dalam kehidupan. [b]

Related posts

5 Comments

  1. I Dewa Gede Putra said:

    iapp bnar sekali, ada keunikan pda arstktur bali. dgn nilai dn makna yg slalu mlekat di dlamnya.. kalo ad tulsan ato crta laen dr arsitktur.. mari berbagi.. thx alot

  2. ngaceng ngawak said:

    satu lagi masukan buat pemprov BALI,untuk lebih baiknya jika bangunan di BALI di wajibkan menggunakan arsitektur BALI yg berada di jalan2 utama untuk mempertegas nilai dan makna dr masyarakat BALI itu sendiri. apakah hal itu bisa di jadikan PERDA???

  3. I Dewa Gede Putra said:

    bukannya sudah ada yg mngatur itu,, Dr zaman pak Mantra gubernur jg sdh dpikirkan, dn actionnya mlalui perda no 2 thun 74, dan kni ada jg aturan tntng bangunan gedung, kalo tdak slah no 5 tahun 2005.. yg pnting skrang penegakannya.. Kita brapa bnyak si punya aturan? bnyak sekali tp yg jalan mungkin krang dr 50persennya.. ia begtulah indonesia.. bukan aturannnya tp jlan ato tdak aturnnya.. krn aturan sdh trllu bnyak adanya… trimms comentnya

  4. ngurah Ica said:

    Saya sedih se x melihat kondisi Kuta saat ini, terutama arsitekturnya,touristpun banyak yg mengeluhhhh. Tks

*

*

Top