Kicauan dan Saran tentang Bali Macet Lho!

Pertumbuhan kendaraan pribadi per tahun yang mencapai 12 persen. Foto Anton Muhajir.

Inilah suara warga Twitterland Bali soal kemacetan di pulau ini.

Bagian 1: Analisis #BaliMacetLho di Twitter
Pada tanggal 3 Juli 2012 kemarin, akun twitter @BaleBengong membagi sebuah berita online Vivanews. Berita ini terkait dengan pernyataan Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi bahwa Bali terancam macet total pada 2015 nanti. Dalam berita ini disebutkan bahwa untuk mengatasi masalah ini, Pemda Bali dan Pemerintah Pusat berencana untuk memperbaiki infrastruktur transportasi Bali. @BaleBengong pun menambahkan informasi bahwa dalam Perda Tata Ruang Bali direncanakan ada 11 jalan bebas hambatan hingga 2029.

Obrolan di Twitter yang lebih sering disebut ngorta di Twitter alias Ngortwit ini ternyata memancing reaksi besar dari para pengguna twitter di Bali. Hingga 4 Juli, tercatat 94 tweets menanggapi berita ini. Ada 32 tweets yang menyampaikan penyebab kemacetan. Sebanyak 26 tweets memberikan alternatif solusi. Sedangkan sisanya (36 tweets) adalah informasi tambahan, guyonan, dan lain-lain.

Dari 32 tweets tentang penyebab kemacetan, 9 di antaranya menyalahkan kebiasaan masyarakat Bali menggunakan kendaraan pribadi, terutama karena adanya faktor GENGSI. Terdapat 7 tweets berpendapat bahwa penyebab utama kemacetan adalah tiadanya angkutan umum yang memadai. Berikutnya, berturut-turut terdapat 6 tweets menunjuk pada kemudahan untuk memiliki kendaraan pribadi, 4 tweets mengenai kurang disiplinnya berkendara, dan 6 tweets yang memiliki pendapat lain (wisman memilih transportasi privat, jalanan cepat rusak, dan konvoi motor besar).

Menariknya, dari 26 tweets mengenai solusi kemacetan, 13 tweets menyarankan peningkatan sarana angkutan umum, termasuk kereta bawah tanah atau MRT jika dibutuhkan. Sisanya menyarankan peningkatan budaya dan kenyamanan berjalan kaki (5 tweets), meningkatkan pola & disiplin berkendara (3 tweets), pengenaan pajak progresif untuk kendaraan bermotor (2 tweets), memindahkan pusat kemacetan (1 tweet), dan penambahan ruas jalan (1 tweet).

Jadi hanya 1 pengguna twitter yang sepakat dengan pemerintah untuk meningkatkan ruas jalan yang ada.

Bagian 2: Merawat Sarana Transportasi
Walaupun pemerintah memilih lebih berfokus pada penambahan jalan baru, sebagian besar masyarakat lebih menyarankan peningkatan sarana angkutan umum. Walaupun survei kecil berbasis Twitter ini tentunya tidak mewakili pendapat seluruh masyarakat Bali. Kedua wacana solusi ini bersifat membangun sarana baru, baik infrastruktur maupun moda transportasi, yang tentunya membutuhkan investasi cukup besar.

Akan tetapi, bagaimana dengan infrastruktur yang sudah ada? Apakah telah dimanfaatkan dan dikelola secara optimal? Beberapa pembahasan di bawah ini mungkin bisa menjadi bahan pertimbangan.

a) Pemanfaatan Pelabuhan Laut untuk Transportasi Barang
Transportasi barang, baik dari Bali maupun menuju ke Bali, sebagian besar masih dilakukan melalui Pelabuhan Gilimanuk. Ekspor kerajinan dari Gianyar dikirim dengan truk hingga Surabaya dan kemudian dikapalkan di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Truk-truk ini pun kembali dari Surabaya dengan membawa barang-barang dari Jawa. Mengingat sebagian besar masyarakat Bali tinggal di Bali Selatan, jalur darat antara Gilimanuk hingga Denpasar pun menjadi sangat padat. Padahal jalur ini memiliki tanjakan dan turunan cukup tajam dan rawan kecelakaan, terutama di daerah Tabanan. Jika terdapat satu saja truk yang mengalami patah as atau pecah ban, maka antrian panjang berkilo-kilometer akan segera terjadi.

Seiring dengan pertumbuhan ekonomi Bali yang diikuti dengan peningkatan arus lalu lintas barang, bisakah Pelabuhan Benoa ditingkatkan kapasitasnya? Dan, pada akhirnya mengurangi beban kemacetan jalur Denpasar-Gilimanuk? Lebih besar mana biayanya, baik biaya ekonomi ataupun sosial, jika dibandingkan dengan membangun jalan tol?

b) Penertiban Lahan Parkir
Menteri Gamawan Fauzi sendiri memberikan contoh toko oleh-oleh Joger sebagai salah satu penyebab kemacetan di daerah Kuta. Puluhan bis wisata dari luar Bali parkir di sepanjang jalan di area sekitar Joger. Bukannya semata menyalahkan Joger, tapi tentunya pemerintah bisa dan harus membuat dan menegakkan sebuah aturan perparkiran yang berlaku untuk semua jenis tempat usaha yang rawan memicu kemacetan.

c) Perawatan Sarana Jalan
APBD 2012 Bali menganggarkan Rp 147 miliar untuk memperbaiki 45 km jalan provinsi yang rusak. Sebagian besar jalan rusak tersebut terdapat di bagian tengah dan timur Bali, dan penyebabnya adalah truk bermuatan Galian C. Mengapa masyarakat Bali harus terus menerus menyubsidi pengusaha truk Galian C, dan juga harus menerima jalan rusak yang pada akhirnya juga menyebabkan kemacetan?

d) Koordinasi yang Lebih Baik untuk Pekerjaan Galian
Masalah klasik yang masih terus berulang hingga kini: perusahaan listrik, telepon, dan air tidak saling berkoordinasi dalam melakukan kegiatan penggalian. Belakangan ini, juga terdapat kegiatan pavingisasi Jalan Gajah Mada Denpasar dan pembuatan parkir basement di Jalan Sulawesi Denpasar yang dilakukan bersamaan dan membuat kemacetan parah di Denpasar. Apakah kegiatan-kegiatan ini bisa dikoordinasikan oleh satu unit penanggung jawab, hingga tidak sampai menimbulkan kemacetan yang sangat parah?

e) Pengelolaan Sarana Transportasi yang Telah Ada
Dari 17 trayek bis Sarbagita yang direncanakan, trayek pertama yang telah beroperasi sejak Agustus 2011 adalah Batubulan – Nusa Dua pp sepanjang 34 km. Setelah lebih dari 6 bulan beroperasi, masih terdapat beberapa kekurangan yang harus diperbaiki sebelum 16 trayek sisanya mulai dioperasikan:

Pertama, ukuran bis yang terlalu besar (kapasitas 60 orang). Padahal jumlah penumpang rata-rata dari Agustus 2011 hingga Februari 2012 hanya kurang lebih sebanyak 14 orang per keberangkatan. Data ini dihitung dari rata-rata jumlah penumpang per hari = 1.700 dibagi dengan jumlah keberangkatan bus per hari = 120. Kedua, kedatangan bis tidak tepat jadwal. Ketiga, halte yang kurang memadai alias terlalu kecil dan tidak ada fasilitas parkir. Keempat, kurangnya sarana feeder. Kelima, tidak ada program marketing yang terpadu untuk membuat masyarakat tertarik menggunakan layanan ini. Bahkan website resmi pun hingga saat ini belum ada.

Kesimpulan
Sebelum pemerintah menambah ruas jalan dan menambah angkutan umum, pengelolaan prasarana jalan dan angkutan umum yang sudah ada harus ditingkatkan. Jakarta, yang memiliki banyak jalan layang, ratusan bis kota, dan kereta rel listrik (KRL), belum bisa menyelesaikan masalah kemacetan. Jalan layang sering didera macet oleh truk yang mogok, supir bis kota punya hobi ngetem, dan KRL hampir setiap hari mengalami kerusakan sinyal.

Jangan sampai Bali telanjur mengalami nasib sama dengan Jakarta. [b]

Keterangan: untuk membaca sendiri silakan unduh Lampiran Analisis Twit ttg Bali Macet Lho.

Related posts

4 Comments

  1. Adi Sudewa said:

    Masih butuh banyak bimbingan dari yang jam terbangnya jauh lebih banyak: @lodegen dan @antonemus :-)

  2. Hendra W Saputro said:

    Eeeh, Om, mau usul. Permudah kredit helikopter :) biar aku bisa buka kursus nyetir helikopter dan bisa buka usaha rental helikopter.

  3. Pingback: Mengeluhkan Pelayanan Publik dengan Cerdas. | Bale Bengong

*

*

Top