Lingkaran Setan Kemacetan Bali Selatan

Tak jelas mana sebab mana akibat kemacetan di Bali.

Mari mulai saja dari satu fakta, pelayanan angkutan umum yang buruk. Akibat buruknya pelayanan angkutan umum ini, maka warga pun beralih ke kendaraan pribadi seperti sepeda motor dan mobil.

Karena setiap orang menggunakan kendaraan pribadi, maka jalan raya pun makin macet di mana-mana. Kemacetan lalu lintas macet mengakibatkan kecepatan kendaraan pribadi pun menurun. Karena makin kecepatan kendaraan makin turun, maka trip angkutan umum pun kian berkurang.

Berkurangnya trip berdampak pada berkurangnya pendapatan angkutan umum. Pelayanan pun buruk karena pendapatan kurang ini. Lalu, hubungan sebab akibat pun mulai lagi.

Begitulah kurang lebih lingkaran setan kemacetan di Bali seperti disampaikan Yus Suhartana, Sekretaris Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Organisasi Angkutan Darat (Organda) Bali pada diskusi di Bali Tourism Board (BTB) hari ini.

Selain Yus, pembicara lain di diskusi tersebut adalah I Nengah Dawan Arya, Kepala Bidang Pengkajian dan Pengembangan Dinas Perhubungan, Informasi, dan Komunikasi Provinsi Bali serta Danang Parikesit, Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia. Diskusi setengah hari itu dihadiri kalangan pariwisata maupun masyarakat umum lain.

Fakta yang disampaikan Yus tersebut menggambarkan situasi lalu lintas di Bali Selatan saat ini. Kawasan pusat pariwisata Denpasar, Badung, Gianyar, dan Tabanan (Sarbagita) sekaligus menjadi pusat kemacetan ini.

Yus memberikan data untuk mendukung pernyataannya tersebut. Hingga Januari 2010, ada sekitar 2,1 juta kendaraan bermotor di Bali. Hampir 1,9 juta atau 90 persen di antaranya adalah sepeda motor dan 190.000 mobil pribadi. Pada akhir tahun lalu, jumlah sepeda motor naik gila-gilaan, 2,2 juta! Adapun jumlah mobil pribadi sekitar 350.000.

Maka, tak usah heran kalau jalan raya di Bali Selatan pun kini dipenuhi jutaan sepeda motor. Parahnya, jumlah kendaraan umum tak lebih dari 1 persen.

Tiap tahun, jumlah kendaraan bertambah sekitar 10,89 persen per tahun. Namun, ruas jalan hanya bertambah 1,99 persen.

“Penduduk Bali lebih senang beli kendaraan daripada beli tanah,” kata Yus.

Lingkaran setan kemacetan itu juga melahirkan dampak lain. Misalnya, jalur angkutan umum yang terputus-putus. Tidak nyambung dari satu titik ke titik lain. Contohnya dari Sanur mau ke Tegal, Denpasar. Kalau mengandalkan bemo paling ya dari Sanur sampai Kreneng. Setelah itu tak ada kelanjutan ke Tegal.

Banyak contoh lainnya.

Menurut Yus, mudahnya kepemilikan kendaraan pribadi merupakan salah satu faktor yang makin mempercepat membludaknya kendaraan pribadi. Dia memberikan contoh. Pada tahun 1970-an, ketika kredit motor masih susah, jumlah kendaraan umum sekitar 80 persen dan kendaraan pribadi hanya 20 persen. Pada tahun 1980-an, ketika kredit kendaraan makin mudah dan murah, persentasenya justru berbalik, 80 persen kendaraan pribadi, 20 persen angkutan umum.

Sekarang, seperi disebut Yus sebelumnya, malah 90 persen sepeda motor. Adapun angkutan umum hanya 1 persen dengan jalur terputus, jadwal tidak jelas, dan kondisi angkutan umum tidak nyaman.

Lalu apa solusinya?

Danang Parikesit menyarankan agar Bali memeratakan puncak ekonominya. Tak hanya di Sarbagita tapi juga di daerah-daerah sekitarnya. Saat ini Bali sedang mengalami aglomerasi, pengumpulan beberapa kesatuan administrasi menjadi satu pusat ekonomi di Sarbagita. Nah, pusat ekonomi inilah yang harus dibagi ke daerah lain agar kemacetan berkurang.

Guru Besar Transportasi Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta ini juga menawarkan konsep Tourism Coridor Base Transportation, sistem transportasi mengacu pada kebutuhan pariwisata. “Pelaku pariwisata harus merumuskan sistem ini dan menekan pemerintah agar memenuhi target tersebut,” kata Danang.

Saya tak terlalu paham apa maksud konsep ini. Namun, Danang memberikan contoh bahwa fasilitas-fasilitas yang sekarang sudah ada atau sedang dibangun di Bali sedang menuju ke konsep tersebut.

Salah satu solusi yang justru menarik bagi saya adalah bahwa Bali perlu serius membangun infrastruktur untuk internet. Jika semua tempat di Bali sudah terkoneksi dengan internet berkecepatan tinggi, maka mobilitas manusia di Bali untuk bertemu juga akan berkurang. Otomatis, kemacetan pun berkurang. Sepertinya logis. Masuk akal. Tapi, semoga kemacetan tak berpindah kemudian ke dunia maya. :) [b]

Jurnalis lepas, blogger, editor, dan nyambi jadi tukang kompor. Bekerja di lembaga donor yang mendukung petani kecil sambil nyambi nulis lepas di media arus utama ataupun media komunitas. Kuliner, jalan-jalan, isu LSM, HIV dan AIDS, pertanian berkelanjutan, dan kelompok terpinggirkan adalah isu yang membuatnya bersemangat 45 untuk menulis.

Related posts

5 Comments

  1. Adi Sudewa said:

    Ton, tadi Pak Danang di akhir acara menyampaikan beberapa solusi jangka pendek yang bisa langsung diimplementasikan:
    1) Law enforcement – tindakan tegas pada pelanggaran yang bisa menimbulkan kemacetan
    2) Time window untuk angkatan barang
    3) Memaksimalkan fasilitas pejalan kaki
    4) Inisiatif masyarakat (semacam nebeng.com)
    5) Sebelum ATCS (Automatic Traffic Control System?) diberlakukan, bisa dilakukan manajemen lampu lalin secara manual sehingga jalur yang paling macet lebih sering dapat lampu hijau
    6) Penertiban On street parking

  2. imadewira said:

    Selain pemerataan ekonomi dan pembangunan, yang terpenting adalah transportasi umum yang baik. Nah, bagaimana membuat transportasi umum yang baik itu yang susah. Semoga Sarbagita cepat berkembang.

  3. akriko said:

    Pengguna jalan atau pengendara yang sering melanggar, tidak mau mengalah, jika ada kesempatan, naik trotoar supaya bebas dari macet, jika beberapa detik lampu merah akan menyala, bukannya mengurangi kecepatan malah menambah kecepatan supaya tidak kena lampu merah, sedangkan dari arah lain lampu akan menyhala hijau, apa susahnya berhenti dilampu merah kalau cuma 60 detik atau ada juga kurang ada juga yang lebih dari itu, bayangkan saja jika bertemu lampu merah 5 kali dan berhenti dilampu merah selama 60 detik, berarti waktu yang tersita cuma 300 detik atau 5 menit, nah apa salahnya kalau menambah waktu berangkat beraktifitas lebih awal 5 atau 10 menit. apa merasa dirugikan dengan 5 atau 10 menit itu? saya sering mengamati hal-hal sepele seperti ini dijalanan tetapi banyak yang tidak bisa melakukanya.

  4. baju bali said:

    Tapi saat ini pemerintah sudah melakukan aksi yaitu dengan membuat jalan TOL diatas air dan Underpass sebagai bukti untuk mengurangi kemacetan dan meningkatkan infrastruktur pariwisata ke arah yang lebih baik. Trans sabargita juga sudah memiliki banyak penggemar dengan banyaknya halte yang dibangun. Selain itu trans sabargita juga sudah memiliki Angkutan Pengumpan Sabargita yang memiliki trayek untuk menjemput para penumpang ke halte sabargita . Jadi ketika nanti trans sabargita benar benar optimal dan jalan tol selesai dibangun saya kira di bali selatan sedikit berkurang .

*

*

Top