Imbauan Ngasal si Raja Abal-abal

Tidak ada larangan terhadap umat Hindu Bali untuk memakan sapi. Foto ilustrasi Anton Muhajir.

Komentar provokatif pun bermunculan.

Semua berawal dari berita di Tribun News pada Rabu kemarin. Judulnya, Raja Bali: Umat Muslim Diimbau Jangan Sembelih Sapi. Saya menemukan berita itu di kolom pencarian kata kunci Bali di Twitter lengkap dengan komentar sinis, “Apa tidak sekalian orang Islam disuruh makan babi.”

Begitu melihat judul tersebut, saya langsung tertarik untuk membuka karena memang ada beberapa kejanggalan. Poin berita tersebut kurang lebih begini: Dr Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III, President The Hindu Center Of Indonesia yang juga Raja Majapahit Bali mengimbau agar umat Islam di Bali tidak menyembelih sapi sebagai hewan kurban.

Berikut pernyataan Arya Wedakarna di salah satu paragraf berita tersebut:

”Dalam rangka Idul Adha 2012 nanti, saya menghimbau semeton Islam agar tidak menyembelih sapi sebagai kurban. Mungkin bisa diganti dengan dengan hewan lainnya. Ini penting, karena di Bali, Sapi adalah hewan yang disucikan, dan juga dipercaya sebagai kendaraan Dewa Siwa. Dan mayoritas orang Bali adalah penganut Siwaisme,” katanya.

Sejak awal baca berita tersebut, saya sudah menduga isu ini akan ramai diperbincangkan oleh orang-orang Islam di luar Bali. Seolah-olah imbauan tersebut memang datang dari Raja Bali dan orang Bali pada umumnya yang tidak suka karena orang Islam menyembelih sapi sebagai hewan kurban.

Hari ini, linimasa masih ramai soal imbauan tersebut. Dari salah satu kicauan, saya kemudian buka berita di Ar-Rahmah. Salah satu kalimat di paragraf pembuka salah satu berita saja sudah bikin kebat kebit karena provokatif, “Kali ini, Umat Islam diminta pula untuk tidak menyembelih Sapi pada perayaan Idul Adha.”

Begitulah. Topik ini jadi ruwet dan berkepanjangan. Seolah-olah raja Bali itu memang ada. Seolah-olah imbauan tersebut memang imbauan resmi dari raja di Bali. Seolah-olah orang Islam di Bali mengalami diskriminasi selama ini.

Tapi, benarkah? Biar tidak keburu panas untuk polemik tidak jelas, ada beberapa hal yang harus diperjelas.

Pertama, soal raja Bali. Ini jelas omong kosong. Tidak ada itu raja Bali. Arya Wedakarna yang dijadikan narasumber dalam berita tersebut bukanlah raja Bali. Bahkan, Raja Bali itu sendiri bukan sesuatu yang ada.

Kalau toh ada raja di Bali, adanya di tingkat puri, misalnya Puri Ubud, Puri Karangasem, Puri Tabanan, dan seterusnya. Setahu saya, para raja ini pun keberadaannya hanya secara adat, bukan sosial. Para raja “ada” hanya ketika ada upacara adat. Kalau di hubungan sosial sehari-hari ya biasa saja.

Menariknya, para raja di Bali ini, justru memiliki “pengikut tradisional” dari kalangan muslim selain juga masyarakat Hindu Bali pada umumnya. Pengikut tradisional ini berakar kuat di sebagian muslim di Bali yang lahir dan besar sejak Bali zaman kolonial atau sebelumnya. Sebagai contoh, Puri Pemecutan, salah satu dari tiga puri di Denpasar, memiliki hubungan erat dengan umat Islam Bali di daerah Kepaon dan Serangan.

Begitu pula Puri Kesiman, Puri Karangasem, dan puri-puri lain di Bali. Dalam beberapa ritual adat Bali dan sebaliknya, tradisi umat muslim di Bali, keduanya saling membantu. Hubungan ini terjaga sampai sekarang.

Kedua, ihwal Arya Wedhakarna yang memberikan imbauan seperti ditulis dalam berita itu. Orang ini memang kontrovesial di Bali. Dia tercatat sebagai pemegang rekor Museum Rekor Indonesia karena memegang jabatan Ketua Umum sangat banyak. Saat ini dia juga Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PNI Marhaenisme, Rektor Universitas Mahendradata Bali, dan banyak jabatan ketua umum lain.

Saya sendiri belum pernah ngobrol secara langsung. Namun, dengan mudah mengikuti dia dari berbagai berita di media massa. Arya Wedakarna rajin sekali memasang berita iklan di beberapa media lokal dengan materi berita yang semuanya cenderung membesar-besarkan dia. Tentu saja dia bisa melakukannya karena berita tersebut memang berita iklan.

Bagi sebagian besar orang Bali, terutama anak-anak muda di perkotaan, tulisan tentang Arya Wedakarna justru jadi bahan olok-olok, sesuatu yang ditertawakan.

Dia juga sering membuat pernyataan sikap atas nama umat Hindu yang justru jadi blunder karena bagi sebagian tokoh Hindu di Bali, pernyataan tersebut tidak tepat. Salah satunya ya imbauan agar tidak memotong sapi, hal yang amat sensitif dan tak tepat tersebut. Dia juga pernah memprotes lagu Iwan Fals karena berjudul Manusia Setengah Dewa.

Namun, salah satu hal paling kontroversial dari Arya Wedakarna adalah karena dia mengaku sebagai Abhiseka Majapahit di Bali atau semacam Raja Majapahit Cabang (di) Bali. Klaim ini terus menerus dia sampaikan melalui media massa. Tapi, bagi kalangan bangsawan di Bali, klaim ini justru digugat. Secara resmi, para raja di Bali  pernah membuat pertemuan untuk membahas masalah ini. Arya Wedakarna adalah raja abal-abal.

Jadi, Arya Wedakarna jelas bukan Raja Bali. Klaim dia sebagai raja Bali justru digugat oleh kalangan bangsawan di Bali.

Ketiga, tentang imbauan agar umat Islam di Bali tidak memotong sapi saat kurban karena dianggap tidak menghormati umat Hindu di Bali.

Menurut saya, ini imbauan asal. Dari obrolan dengan beberapa pendeta maupun pemangku Hindu, tidak ada larangan terhadap umat Hindu Bali untuk memakan sapi. Hewan ini memang dihormati namun tidak kemudian menjadi terlarang. Lebih detail tentang boleh tidaknya sapi ini dimakan, tentu pendeta atau pemimpin Hindu yang lebih tepat menjelaskan ihwal ini, bukan saya.

Tapi, berdasarkan pengalaman pribadi saya, ada beberapa contoh tentang bagaimana umat Hindu Bali terkait makan daging sapi. Selama 15 tahun di Bali, saya belum pernah bertemu atau mendengar orang Hindu di Bali yang memprotes penyembelihan sapi untuk dijadikan bahan makanan. Saya juga belum pernah mendengar, dari pemimpin ataupun umat Hindu, bahwa penyembelihan sapi berarti tidak menghormati umat Hindu di Bali.

Ada beberapa orang di Bali yang tidak makan daging sapi. Tapi, pada umumnya karena alasan tidak mau, bukan karena dilarang. Orang semacam ini sangat sedikit. Dan, mereka juga baik-baik saja ketika makan bersama di warung yang menyediakan daging sapi.

Jika orang Bali memang memprotes pemotongan sapi, maka sejak dulu tidak akan ada orang makan daging sapi di Bali. Padahal, buktinya, keluarga besar saya di Bali yang Hindu dan orang Bali asli, justru kaya karena usaha dagang warung soto sapi. Pelanggannya juga orang-orang Bali sendiri.

Oleh karena itu, jika orang Hindu Bali sendiri baik-baik saja mengonsumsi daging sapi, mustahil mereka akan mengimbau atau bahkan melarang umat Islam untuk menyembelih sapi saat Idul Adha. Tak mungkin dan tidak tepat jika itu terjadi.

Jadi, tak usah ikut-ikutan jadi orang bebal hanya karena imbauan ngasal dari raja abal-abal..

Jurnalis lepas, blogger, editor, dan nyambi jadi tukang kompor. Bekerja di lembaga donor yang mendukung petani kecil sambil nyambi nulis lepas di media arus utama ataupun media komunitas. Kuliner, jalan-jalan, isu LSM, HIV dan AIDS, pertanian berkelanjutan, dan kelompok terpinggirkan adalah isu yang membuatnya bersemangat 45 untuk menulis.

Related posts

69 Comments

  1. Agung Wardana said:

    Saya setuju dengan Om Anton. Orang megalomania ini memang perlu di-counter jika tidak ingin ia terus bikin ulah. Entah apa lagi yang akan diperbuat tapi ancaman fasisme yang ia tebarkan semakin jelas dapat memecah solidaritas sosial di Bali.

    Mengenai sapi, nampaknya Arya Wedakarna ini tidak pernah membaca buku sejarah. Di Bali, sedari dulu komoditas kompetitif yang dijual hingga ke Singapura adalah sapi. Jika memang sapi itu dianggap suci, tidaklah masuk akal jika binatang yang disucikan diperjual belikan sampai sekarang juga dikembang biakan untuk hewan potong.

    Tabik

  2. vimi said:

    Ya jangan pernah kerukunan beragama diasut oleh seorang yg mengaku raja tak jelas…dg himbauan yg asal

  3. arga said:

    skalian aja nyuruh ikan agar tidak berenang dia air,,, hidup di darat dan pake helm kyak di film spongebob ja,,,,hehee

  4. tude said:

    lo ane sie…setuju bgt ma himbauannya…..ane ga melihat siapa yg menghimbau,selama himbauannya positif.
    dan umat hindu memang menghormati sapi dan menganggap sapi suci

  5. tommy sujaya said:

    Anda juga salah masih menyebut raja raja Bali, dan bangsawan. Raja raja Bali sdh tidak ada lagi. Bali adalah republik yg dipimpin gubernur. Raja raja sdh mati, sdh masa lalu. Kalau arya weda membingungkan anda juga membingungkan

    • Dewi Pinatih said:

      Bali bukan republik om, tapi provinsi yang ada di dalam wilayah NKRI. dan raja masih ada lo di bali… saat ini sepengetahuan saya masih ada Raja Denpasar dan Raja Tabanan, kalo puri2 laen saya kurang tau apa ada raja yg sudah dinobatkan…. Jadi jangan bilang Raja-raja di Bali sudah mati. masih ada Raja Denpasar dari Puri Satria dan Raja Tabanan yang baru saja dinobatkan masih idup lo :)

    • Nang Deblag said:

      Keberadaan raja di bali terutama di Tabanan dan Denpasar / Badung tidak terlepas dari Pura Batukaru dan Pura Uluwatu, Pura Tambangan Badung, Kedua Raja ini, Raja Tabanan dan Raja Badung keberadaannya atas pewuwus Ida Betara di Gunung Batukaru Dan Ida Betara di Pura Tambangan Badung bukan atas keinginan individu ingin jadi Raja, keberadaan raja di Bali masih terkait alam niskala.. jangan sembarangan bilang raja di Bali sudah mati

  6. Putu said:

    Menurut gw sech, Arya Wedakarna itu bukan raja, dia cuman gelo aja, masak ngaku2 raja Bali? sinting bener orang ini ya?
    Omongan ngawur n cari sensasi, belum lagi nyang pake nendang2 pintu pura jagatnata, ini namanya cari gara2 ama orang denpasar!
    Rasanya pengen bener gw ngelemparin ni orang pake air kencing dalam tas plastik dech. Ada nyang tau jadwal dia deket2 ini nggak?
    Biar gw tungguin dan lemparin orang gila ini pakai air seni gw!
    Biar sekalian gelo semua n SENSASIONAL!

    • gus ade said:

      ngapaian u ngadu domba orang bali, menurut saya dia berkontri busi besar terhadap perubahan pola pikir orang bali.dia menggunakan gelar raja untuk menghilangkan keangkuhan kasta tinggi di bali,mirip sukarno yg memberi gelar bangsawan kepada ibunda bliau srimben

    • wira said:

      hahahaha
      kencing sembarangan kyk anjing aj
      wiiidiihh mau tau jadwalny beliau , musti jadi DPD dl lah , baru se level dengan beliau

      ngomong ya pake aturan lah jngn sembarangan , kan menghimbau , diturutin ok ga diturutin monggo

      sunat dl kontol u , biar lebi jauh bs kencingny brooo hahahahahahaha

  7. Agus Rida said:

    Kok sewot sama Arya. Kalo saya malah salut dia berani mengeluarkan “himbauan” seperti itu. Kalau kita sudah melakukan apa untuk membela Hindu di tingkat nasional? Lagian namanya juga “himbauan” mau dilaksanakan monggo…gak juga gak apa2. Tetapi himbauan itu perlu menunjukkan sikap Hindu terhadap sesuatu! Hanya saja himbauan itu dikeluarkan/disampaikan oleh pihak yang lebih kompeten seperti PHDI, Pemda Bali, dsb. Seperti halnya umat Islam menghimbau seluruh masyarakat (bukan hanya di Bali) untuk menghormati bulan ramadhan dan umat muslim yang sedang berpuasa untuk tidak berjualan atau makan sembarangan. Boleh kan? Apakah anda pernah sewot dengan himbauan itu?

  8. belog said:

    Rendang sapi enak lo… Saya sih tidak peduli mau ada larangan makan apapun, selama tidak beracun ya makan aja.

  9. winata said:

    Sudah tidak ada raja di Bali. Bangsawan yang disebut di Bali, hanyalah simbol, bukan raja sebenarnya. Jadi kalaupun ada yang kemudian mengaku raja Bali, itu sungguh tak perlu dipusingkan. Biarkan saja. Anda tak suka, jangan jadi pengikutnya.

    Soal sembelih sapi, saya jadi ingat cerita di Kudus Jawa Tengah yang hingga sekarang masih banyak yang percaya tidak boleh makan daging sapi. Menurut sejarahnya penyebar islam di Kudus menyadari betul bahwa begitu kuatnya pengaruh Hindu didaerah itu. Dan untuk menghormati keyakinan tersebut, penyebar Islam di Kudus melarang pengikutnya mengkonsumsi sapi. Sebagai gantinya, mereka menyembelih kerbau.

    Saya tidak tau apakah sejarah di Kudus ini punya hubungan dengan tulisan Sdr Anton atau tidak, terkait dengan penyebutan sebagai imbauan asal-asalan. Hanya saja kalau disebut asal-asalan, berarti larangan dari penyebar agama Islam di Kudus di masa lalu juga asal-asalan juga dong? Btw…himbauan tentu hanyalah himbauan, yang berbeda dengan larangan. “Raja Bali” cuma menghimbau, kalau diikuti yang silahkan, kalau tidak yang monggo.

  10. Sige said:

    Raja Bali yg disandang wedakarna lebih kepada gelar yang diwariskan dari leluhurnya. Lalu kemudian dengan himbauannya pun sy rasa tdk maslh, hanya himbauan. Kalo kt ambil sisi + nya tak satupun pembunuhan yg dibenarkan, sapi, babi,kambing dan hewan yg kt kategorikan binatang. So mari bijak menyikapi seperti diakhir tulisan diatas.

  11. I gede dagdag said:

    beliaulah anak muda Bangsa Bali yg mau pedili dg bangsanya. Bali. Siapa yg peduli dg Bangsa Bali beragama Hindu menjadi pemimpin atau apa saja dalam pemerintahan Indonesia. Harus menjadi m u a l a f terlebih dahulu baru boleh menjadi pemimpin.

    Aceh bisa merdeka dari Indonesia kenapa Bali tidak…….

    Merdeka……
    Merdeka……….
    Merdekaaaaaa.. Baliku

  12. I Kadek Budhi dharm said:

    mungkin sy sdkit th,sm orang ini. dr dl bersifat feodalis. info A1 yg sy dapat. aslinya bernama I Made,bkn gusti. bahkan nm ijasah SMA nya I Made. kmudian ditambah Anak Agung. Kadang Pake I Gusti. g percaya? cb sj cek file ijasahnya di SMA 1 dpsr. atau cek sj riwayat pendidikanya. cocokan tahun per tahun,smg anda beruntung dpt mengurutkan dngn benar.. ha..ha…ha……!!!

  13. Pak Putu said:

    Saya pernah ngabdi di lembaga pendidikan Arya Vedakarna yg ngaku Raja Majapahit Bali, sempat masuk kantornya dia di jln ken arok, di kantornya rata2 anak buahnya serius semua ekspresi mukanya, takut kena marah si Rektor Unmar, yg memang keseharian si Arya Veda memang labil kalo lagi di kantor suka maki2 anak buahnya dgn omongan keras & pedas. Terakhir giliran saya kena marah gara2 gak bikin konsep seperti diinginkan dia sama gak boleh tanyain berapa gaji yg di dapat, walau omongannya dia pedas,melecehkan, menghina saya di kantornya, plin-plan janjiin orang gak jelas, tapi jujur ya sisi positifnya si Arya Veda orang cerdas kok bela agama Hindu dan Bali di tingkat Nasional walau gak dapat dukungan masyarakat Bali saya salut sekali dengan tulisan dan ide-ide yg cemerlang. Cuma sayangnya menurutku Si Arya Veda ini disamping labil, orangnya sombong, angkuh, arogan, egois,plus ngaku2 keturunan raja Majapahit. Lain kali jangan gitu dong kamu (Arya Veda), mentang2 kamu kaya raya, punya banyak organisasi, ngaca dulu dong kamu, memang kamu sudah diakui jadi raja Majapahit oleh masyarakat Bali apa belum? atau coba kamu periksa kondisi psikis kamu di RSJ Provinsi Bali di Bangli sehat apa gak sih. Jangan tulisan saya ini dibilang menghina Si Arya Veda, cuma kritikan aja, sebagai instropeksi diri buat kamu, jadilah kamu orang yg bijak jangan sering menghina orang.

  14. I Kadek Budhi dharm said:

    utk pak putu.. apa anda direkrut di THCM ? kemudian dpt tgs bkin provosal n dbawa ke bnyak instansi utk mnta sumbangan..? kl ia brarti dr dl sm. dijanjiin kuliah gratis g? kl blh th,tahun brp dsn? jngn bilang dia bela bali n agama smp di pusat.. di bali sj tdk ada apa apanya. malah bikin ketersinggungan dngan ngaku raja n nendang pintu gerbang pura jagat natha.. yg ada cm teori.. jngn ketipu cm lht kulitnya sj…

    • putu belog said:

      @ kadek…tiang mantan mahasiswa mahendradata,,d bilang dpt beasiswa taunya sama aja jg bayar banyak,,,masih murahan d unud bayarnmya,,,makanya saya mundur d mahendrata…SING ADE APE deeeeeeeeee….

      • wira said:

        hahahaha lebih mahal dari UNUD
        heh manusia miskin yg bawa surat keterangan miskin dari desa kamu
        jngn ngawur bawa nama lembaga
        UNMAR jauh lebih dulu lahir ketimbang surat miskin km
        jadi hati2 bicara

      • wira said:

        hahahaha lebih mahal dari UNUD ?
        heh manusia miskin yg bawa surat keterangan miskin dari desa kamu
        jngn ngawur bawa nama lembaga
        UNMAR jauh lebih dulu lahir ketimbang surat miskin km
        jadi hati2 bicara

  15. rarastitidwei said:

    sayang sekali pak arya ini seorang rektor tapi pernyataannya sering tidak ilmiah dan tanpa pikiran saja istilah kasarnya doktor tapi kok seperti orang nggak pernah kuliah aja gimana tuh dia dapet ijazah doktornya

  16. wayan said:

    Semuanya bodoh dn pemarah itu cuma imbuan .bukan larangan . Klo larangan ya kayak FPI ada warung buka pas puasa bla bla hancur .

  17. I Kadek Budhi dharm said:

    utk pak wayan.. kelihatan dr kata2 anda yg bilang smua bodoh.. mencerminkan seberapa besar pengetahuan anda ttg masalah ini.. adalah lebih bijak mengetahui hal yg sebenarnya lbh dahulu,br coment yg seperti itu. sy sarankan silakan anda cr data dan fakta ke tempatnya dia,jl. ken arok 10 denpasar. dkt jln A. Yani. tanya diam diam mahasiswa di sn. kl sudah,mari kita adu fakta. sy bs hadirkan 20 orang alumni di sn yg siap memberikan testimoni.. atau kita buka diskusi di belantara budaya? gmn,siap dengan data n fakta anda pak yan..? salam kenal.,suksma…

  18. Wira Mahendra said:

    Saya adalah saksi bisunya, rumah saya pas tetanggaan dgn univ. mahendradatta.. sebelah timurnya, depan banjar dadakan. Yang mau tanya2 silahkan mampir ke warung saya.. minimal belanja 50.000,- uhuk.

  19. derta said:

    itulah oonnya kita krama bali,kalo sesama bali saling hujat,jegal,menjatuhkan,ngejek,tapi sama orang luar aduh toleransinga minta ampun

  20. Panji Astika said:

    Banyak orang yang berbuat untuk Hindu dan untuk Bali
    contohnya Peranda Gunung, Gde Prama, Nuarta, dan lain lain nya sesuai dengan keahlian mereka masing masing

    bahkan banyak orang yang saya tau membangun pura pura di jawa, Kalimantan,
    Sumatra, membina umat di seluruh nusantara, sama sekali sepi dari pemberitaan media. mereka tidak pernah mengiklankan diri sendiri untuk kepentingan sendiri apalagi menepuk dada………seolah olah orang lain tidak berani berbuat….

    saya heran banyak juga orang yang meyakini bahwa Wedakarna berjuang untuk Hindu dan untuk Bali. Berjuang apanya…….? hayo… saya tanya prestasi riil apa yang sudah dia buat, selain hanya membuat organisasi yang tidak jelas, membuat rekor muri murahan dan kegiatan kegiatan seremonial yang ujung ujungnya mengiklankan diri sendiri. Apa yang sudah disumbangkan untuk Bali? kecuali polemik dan pengakuan pengakuan yang kontroversial.
    Mengenai Abisheka Raja Majapahit hadeeh ,,,,, hare gini…. ngaku jadi Raja….
    tapi ga masalah lah ,,,,, siapa saja boleh ngaku jadi Raja, dikoran juga banyak kok Raja Mampet dan Ratu Mampet heheheheeh, jadi biarin aja….(kata pak winata selama tidak melanggar hukum positif negara Republik Indonesia)

    Sehingga wajarlah banyak yang kemudian mencibir dan memprotesnya, bukan berarti kita mejajal sesama orang Bali, bukan………… hanya mengingatkan agar jangan sampai perjuangan untuk Bali dan Hindu itu dijadikan alasan untuk memperjuangkan diri sendiri dan kepentingan diri sendiri.

    Makanya
    seperti bahaya rokok, merokok tidak melanggar hukum, tapi ga ada salahnya khan kalau kita mengingatkan saudara saudara kita akan akibat buruk dari kebiasaan merokok………

    Mari berfikir jernih saudara saudaraku, jangan sampai diperdaya oleh iklan di koran

    • wira said:

      hah MURI MURAHAN ???????
      pak panji saya orang kaya , saya kasi dana 50jt , ayo kalahkan ato patahkan salah satu mui dari beliau
      8 MURI sudah TOREHkan skala nasional , ya paling dikit nama belaiu sedikit mengharumkan nama BALI lah
      klo bapak gimana ? sudah pernah dpt muri ?
      sudah dpt buat acara serimonial sosial ?

      blm ya ? sini saya bantu

  21. kade sunarsa said:

    sebagai orang hindu segala perbuatan,perkataan,pikiran mesti mengacu pada nilai weda.kita diajarkan untuk baik kepada tuhan, manusia, alam dan semua mahluk.orang berkata apa saja boleh-boleh aja yang penting sesuai fakta dan tidak menyinggung pihak lain.dalam hal ini saya menghimbau pada arya weda bahwa dalam menyampaikan gagasan jangan menyinggung pihak lain.memang benar sulit banget merubah mental orang bali.jadi kalau mau maju orang bali jangan menaruh curiga,iri pada warga pendatang.kalau mau seperti mereka saya sarankan jagalah toleransi, hidup sederhana, ga usah pamer mobil, kekayaan, kalau mau maju lebih banyak berdoa, bekerja keras, berderma, menabung, investasi, ngomong yang positif aja.lihat kesalahan dan kekurangan diri sendiri jangan melihat kesalahan orang lain.kalau rajin bekerja terus punya uang banyak mending diinvestasikan ke emas, property, saham, sering-sering bantu orang yang kekurangan.jadi tak ada kecemburuan sosial

  22. wayan bagus said:

    bgt’lah OKB….
    jng tll diambil pusing, mari kita jalin persaudaraan, agar bali ini makin ajeg
    de runguange anak gebuh he he he he

  23. mitrahadi said:

    Upaya memecah belah umat Hindu Bali dengan Islam sudah ada sejak jaman penjajahan dulu dan diteruskan oleh berbagai pihak sampai sekarrang. Yang cukup spektakuler tentu saja saat Bom Bali 1&2 mengakibatkan bisnis pariwisata di Bali mati suri, namun puji Tuhan tidak menyebabkan perpecahan umat Hindu Bali dan Islam.
    Apa yang dilakukan oleh AW harus diwaspadai karena sadar atau tidak sadar pernyataan-pernyataan dia mengandung “bahan bakar” perpecahan umat Hindu Bali dengan umat Islam (contohnya : Penyebaran HIV/AIDS di Bali adalah agenda Islam, Warung pecel lele dsb merugikan perekonomian orang Bali; Himbauan untuk tidak memotong sapi saat Idul Adha; dan kemungkinan akan ada lagi pernyataan senada yang akan dikeluarkannya), apalagi jika dikaitkan dengan konflik di Lampung dan tempat lain di Indonesia yang bertema “penindasan mayoritas terhadap minoritas” (padahal konflik-konflik tersebut tidak berlatar belakang agama) maka lengkaplah sudah “bahan bakar” yang jika diledakkan akan berakibat lebih dahsyat dari Bom Bali 1&2.
    Sebaiknya kita mewaspadai agenda terselubung dari sponsor-sponsor AW (menurutnya dia mengelola uang orang lain untuk membiayai kegiatannya, dan untuk membayar berita/iklan tentang dirinya saja butuh 1 milyar perbulannya), yang kalau dirunut dari pernyataan-pernyataannya bermuatan usaha memecah belah umat beragama, dengan adat Bali dan gelar2nya sebagai “sugar coated”nya.
    Apakah kita rela terpecah belah oleh pernyataan-pernyataan anak muda narsis yang disponsori oleh pihak-pihak tertentu ini?
    Kita sudah capek dan bosan dengan berita penegakan hukum yang amburadul di negeri ini yang mengakibatkan korupsi dan kriminalitas merajalela, janganlah lagi ditambah dengan berita perpecahan umat Hindu Bali dengan umat Islam gara-gara ambisi “Raja Majapahit Bali” dengan agenda “devide et impera” nya ini.

    Salam

  24. tu kepler said:

    What??? Gde Prama mengharumkan bali?? Pikir Lagi deh!!!

    Klo sponsornya AW tau sendiri kan siapa?
    #tribhuanatunggadewi
    #uhuk2

  25. balian said:

    apin kudyang tetap hargai arya wedakarna karena keberaniannya, tidak seperti kita kebanyakan yang hanya jadi penonton. Negak dipetuakan, ngamah tuak, misi arak, gelar gelur nyambi dadi maklar tanah. Kudyang ngae bali maju. Paling ngalih untung pedidi gen. semangke ditebe minum tuak

  26. I Made Sukerata said:

    Wedakarna boleh saja mengaku raja Majapahit , dikatakan cerdas, cerdas sekali karena dia seorang doktor, plus Rektor tapi kalau melihat penampilannya seperti bukan orang cerdas, masa ngaku2 raja? Raja pasti punya negara dan punya rakyat, OK kalau istana bisa dia beli, lebih mirip orang sedeng alis gendeng orang Bima bilang ringu , sampai menghimbau umat muslim tdk memotong sapi saat Idul Adha mengatasnama raja Bali ini sungguh melecehkan Puri2 yang masih ada di Bali , PHDI, Majelis Agung Desa Pekraman dan Gubernur provinsi Bali , saya menghimbau Pemerintah propinsi Bali maupun DPRD Bali panggil segera si Wedakarna, kalau tdk akan dapat memunculkan SARA di Bali, dan akan berdampak bagi umat kita Hindu yg ada di luar Bali, di Balipun dengan Propokasi Wedakarna didesa desa sdh muncul konplik2 kecil berkaitan dengan Soroh keluarga Nararya Dalem Benculuk yg sebagian tdk menggunakan wangsa Gusti sekarang dikeluarkan semacam maklumat untuk menggunakan wangsa Gusti, coba bayangkan kami yg sdh turun menurun didesa saling asah asih asuh menjadi berantakan,kita sdh saling ngambil ke ambil, gara2 seperti itu saya warga Pasek ibu saya warga Dalem Benculuk sangat sulit berkomunikasi, sukur2 belum muncul adu fisik, maka dari itu DPR dan Pemda Propinsi Bali segera mengambil langkah2 kongkrit sertakan Ide Dalem Klungkung yg masih memilik kharismatik dengan Rakyat Bali ditambah dengan Pasemetonan Puri2 se Bali, sukseme

  27. I Made Sukerata said:

    Mengenai sapi yang sangat dihormati oleh Umat Hindu memang benar, tapi kalau kita jeli kenapa di Bali sapi boleh dipotong di India sangat dihormatirmati, mari kita lihat fisik sapi di India dan di Bali sangat jauh berbeda, kalau di India lembu putih yg pakai punduk di punggungnya spt sapi Jawa, itu yg merupakan tunggangan bethara Guru, sapi Bali adalah banteng liar yg dijinakkan mungkin karena itu leluhur orang Bali memperkenankan untuk dipotong bahkan dipergunakan pencaruan melabuh gentuh dipure Pure besar dan tdk ada larangan untuk dimakan , cuma kita umat Hindu yang memilih dan memilah, mana lembu seperti lembu Andini, mata banteng yg sudah jinak yg disebut sapi Bali sukseme

  28. gede dhawe said:

    sapa mau liat raja abal2 mampir ke jalan

    ken arok univ mahendra datta dia ada disana..kalo ketemu selanjutnya…terserah anda….

  29. putu said:

    Sangat setuju dengan pernyataan “arya weda raja abal2″..semuanya palsu..di media pun semua hanya IKLAN. saya tegaskan hanya IKLAN..jangan pernah percaya dg manusia satu itu..BUSUUUKKKK

    • wira said:

      hahahahahahaha

      tolong jelaskan kanti mebuih2 ke 178.000 orang yg sudah memilih beliau untuk ke DPD RI
      dasar SONTOLOYO , liat raja modern harus dr 2 sisi doonk

      ini membuktikan klo kalian yg ga puny otak kanan/kiri akan makin stres melihat prestasi2 beliau yg makin menyilaukan kalian
      para MANTAN KACUNG , STAF , MAHASISWA , TEMAN , KOLEGA , ORANG SOK KENAL N SOK TAU BLA BLA BLA

      HAHHAHAHHAHAHHA

  30. putu said:

    Bapak I Kadek Budhi dharm, saya kenal salah seorang alumni dan mahasiswa di univ mahendradatta..benar2 pemerasan universitas itu.sy sangat sedih melihat kenyataan berbanding terbalik dg apa yg ada di media.semua beasiswa itu adalah kebohongan. yang paling sy kecewa adalah biaya skripsi, yudisium, wisuda dan lain-lain saat semester 8 yg mencapai 24juta di th 2013 (hanya utk semester 8!!).bila saya salah mohon di cek sendiri ke sana.dinas pendidikan bali mohon bantu mahasiswa yg sudah semester 8 tetapi tidak bisa lulus karena biaya yg sangat mencekik leher dan baru diinfokan saat mereka di semester 8.

    • putu belog said:

      tiang mantan mahasiswa ditu,,iklan gen beasiswa tp patuh liu mayah..(kene masi uluk) untung blm smpai smester 2 tiang mundur dn k unud trnyata lbh murah ….. dr sana sy tdk percaya sama omongan pak AW

    • wira said:

      berita HOAX itu , klo memang benar KOPERTIS pasti sudah menegur

      sok tau u putu
      jngn bawa lembaga
      bnyk jebolan pejabat lulusan lembaga ini
      hati2

  31. Made Ari said:

    Teman saya dijanjikan keliling ASEAN karena memenangkan suatu lomba di UNMAR tahun lalu (2013) tapi sampai sekarang tidak ada kejelasan tentang semua itu. Bukannya kami ingin ke luar negri dengan gratis, tapi kami meminta kejujuran, keikhlasan, dan tanggug jawabnya. aneh ni orang.

    • wira said:

      bo baang geratis do lebian nuntut
      sabar
      kaden u aluh , sante gen
      wak bo ping 3 ke luarnegri gratis ulian prestasi
      mule mekelo , tp lumayan ado wkt anggo nabung bekel ditu
      bebedikin natak lima , muspa gen jak leluhur pang elah baangne pemargi
      sugre…

  32. Ir. Haji Lalu Muhammad Hamdan Sjahrul, SH. said:

    1 HAL : KAMI MERASA SANGAT TERSINGGUNG ATAS KLAIM DIA SBG RAJA BALI!!!!
    TAPI DI 1 SISI KAMI SANGAT MENDUKUNG GERAKAN BELIAU YG “RADIKAL”

  33. RAJA BALI SUPER ASLI said:

    KALIAN SEMUA YANG COMENT DI BLOG INI BODOH
    SAYALAH RAJA BALI YANG ASLI
    SAYA SUDAH MENDAPAT PANGSIT EH SALAH MAKSUDNYA WANGSIT DARI GUNUNG SEMERU
    AWAS KALAU TIDAK PERCAYA ……. !!!!!!!

  34. RAJA BALI SUPER ASLI said:

    SUDAH JANGAN OMONGIN WEDAKARNA, BRAHMARAJA XI ATAUPUN RAJA – RAJA YG LAIN ITU SEMUA ADALAH PALSU !!!!!!! SAYALAH RAJA YANG ASLI BERGELAR PROF, DR ANAK AGUNG TOKORDA RADEN MAS SINGODIMEJO NOTO BOTO LIMO NING PINGGIR SEGORO MANGKU WONG WEDOK LIMO WUDO SEDOYO, SE, SH, MM, MSC, MPH, DAN SAYA MENDAPATKAN GELAR DOKTOR JAUH LEBIH MUDA DARI WEDAKARNA, YAKNI PADA UMUR 5 TAHUN …..
    MULAI SAAT INI SAYA KELUARKAN IMBAUAN UNTUK BALI :
    1. MULAI SAAT INI SELURUH ORANG BALI ADALAH RAJA
    2. PENDATANG JUGA RAJA
    3. TOURIST JUGA RAJA
    4. TONTONLAH GRUP MUSIK RAJA
    5. HATI – HATI PENYAKIT RAJA SINGA
    6. SERING – SERINGLAH KE SINGARAJA
    MAKA KAU AKAN MENJADI RAJA ……. AWAS YANG TIDAK PATUH DENGAN IMBAUAN SAYA
    SAAT INI SAYA MENJABAT PRESIDEN CHSB (CONFEDERASI HANSIP SELURUH BALI)
    NGERIIIII KAN

  35. Agus Komang said:

    Sebenarnya wakil kerajaan Majapahit yg asli itu adanya di Klungkung. Pada jaman penjajah Welanda mereka memecah belah Bali menjadi banyak kerajaan.

  36. Agus Komang said:

    Dan kalau mau tau sebenar Raja asli di Bali yang manggeh di Bali adalah para BULE yg bawa dollar.
    Orang bali pasti lebih ngugu munyin BULE ketimbang munyin raja abal2

*

*

Top