Sunatan Massal Mewujudkan Solidaritas Sosial

Oleh Anton Muhajir

Sunatan Massal

Penampilan Agung Wiradarma berbeda dengan 50 peserta sunatan massal lain di Banjar Karang Sari, Desa Padangsambian Kaja, Denpasar Barat Minggu (21/6) lalu. Agung berusia 24 tahun, sedangkan hampir semua peserta sunatan massal tersebut masih SD. Bahkan ada peserta yang baru berumur tiga tahun.

Kalau peserta lain menggunakan baju muslim dengan sarung, kemeja putih, dan kopiah, maka Agung hanya berkaos oblong dan bercelana pendek. Toh dia terlihat tidak canggung ketika masuk ruangan berukuran sekitar 3×3 meter persegi dengan batas kain putih tersebut. Dia berbaring di kasur. Dua petugas berpakaian serba putih segera menyelesaikan pekerjaan mereka. Pagi itu, seperti peserta lain, Agung ikut sunat.

“Biasa saja. Saya kan ikut demi kesehatan,” kata Agung usai disunat. Dia duduk di dalam musholla bersama peserta lain. Selain disunat, warga Desa Padangsambian Agung juga mendapat bingkisan dari panitia.

Selain Agung, warga Hindu lain yang juga ikut dalam sunatan massal tersebut adalah Yoga Suweca, 12 tahun. Warga Tabanan ini datang bersama ibunya. “Kami ikut sunat massal ini mumpung gratis,” kata Yoga.

Menurut Agung, dia sendiri sudah merencakan untuk sunat karena alasan kesehatan sejak Mei lalu. Namun dia terus menunda rencana itu karena merasa belum siap selain karena sedang kuliah. Maka begitu mendapat info dari tetangganya tentang adanya sunatan massal di banjar Karang Sari, Agung langsung daftar.

“Tidak apa-apa ikut di sini. Toh kegiatannya juga baik,” tambahnya.

Sunat, atau dalam bahasa lain disebut khitan, adalah salah satu kegiatan yang disarankan dalam ajaran Islam. Namun meski digelar oleh warga muslim setempat, sunatan massal tersebut memang diikuti pula oleh umat lain termasuk Agung dan Suweca. Selain itu ada pula beberapa umat Nasrani yang ikut.

“Kami memang membukanya untuk semua orang, bukan hanya yang muslim, untuk ikut kegiatan ini,” kata Ketua Panitia Darmaji.

Menurutnya, kegiatan ini lebih bertujuan untuk mewujudkan solidaritas sosial serta hubungan antar tetangga dan lingkungan selain untuk melaksanakan ajaran agama. “Karena itu kami tidak membedakan peserta hanya karena agamanya,” tambah pegawai Bulog Bali ini.

Karena lebih bertujuan untuk sosial itu pula, maka kegiatan yang pertama kali diadakan di banjar setempat ini diikuti 51 peserta dari daerah lain, bukan hanya Banjar Karang Sari. Sejak pukul 7 pagi, peserta sunatan massal berkumpul di banjar setempat. Mereka mendaftar ulang dan mendapatkan kacang hijau serta telur.

Sekitar 30 menit kemudian, satu demi satu peserta pun dipanggil. Mereka berjalan ke musholla di samping balai banjar tersebut untuk mendapatkan pelayanan sunat. Tiap orang ditangani setidaknya dua petugas yang melakukan penyunatan seperti halnya Agung.

Selain latar belakang agama, latar belakang ekonomi peserta juga beragam. Tak sedikit peserta yang mengaku ikut sunatan massal ini dengan alasan agar lebih murah. Mereka datang dari berbagai tempat lain di Denpasar dan sekitarnya seperti Tabanan dan Badung.

“Kalau ikut sunatan massal kan lebih gampang dan murah,” kata Soetir, warga Banjar Praja Sari, Desa Peguyangan. Karyawan toko kelontong ini pun mengikutsertakan anaknya dalam sunatan massal ini.

“Kami jadi merasa tertolong oleh kegiatan ini,” tambahnya.

Darmaji sendiri menyatakan bahwa dalam berbagai kegiatan keagamaan, warga muslim di banjar itu memang mengutamakan solidaritas sosial daripada hanya sekadar menjalankan kewajiban agama. Dia memberikan contoh kegiatan pembagian daging kurban yang dibagikan pada semua warga banjar yang menginginkan, bukan hanya yang muslim. Demikian pula dengan kunjungan ke beberapa panti asuhan di Bali dan pembagian zakat fitrah tiap tahun.

Untuk kegiatan sunatan massal sendiri, tahun ini merupakan yang pertama kali. Melihat antusiasme peserta saat ini, Darmaji menyatakan kegiatan ini akan digelar tiap tahun. “Agar solidaritas sosial ini bisa terus kami lakukan,” ujarnya. [#]

Jurnalis lepas, blogger, editor, dan nyambi jadi tukang kompor. Bekerja di lembaga donor yang mendukung petani kecil sambil nyambi nulis lepas di media arus utama ataupun media komunitas. Kuliner, jalan-jalan, isu LSM, HIV dan AIDS, pertanian berkelanjutan, dan kelompok terpinggirkan adalah isu yang membuatnya bersemangat 45 untuk menulis.

Related posts

8 Comments

  1. pushandaka said:

    Jadi ingat waktu saya kecil dulu. Sebelum disunat, jalan-jalan dulu ke Jogja dan keliling Semarang. Setelah disunat, bikin selametan. Dapat amplop banyak, trus beli mainan. Hehe!

    Selamat menikmati bentuk penis baru deh, untuk yang baru disunat.

*

*

Top