Pertunjukan Penuh Tawa dan Senyum Puas

Juara 2 Karya Petik 2011 kategori Berita Langsung “Perspektif Pelangi”
I Made Eriek De Sona
Fakultas Teknik Jurusan Arsitektur, Universitas Udayana

Melalui Tour Perspektif Pelangi, kita diajak mengenal lebih intim unit trio folks teratas Bali saat ini. Tidak hanya satu, tapi dua.
Oleh Eric De Sona

Sore itu, Kamis (22/12/2011), area depan kampus FISIP Universitas Udayana menjadi riuh ramai dengan gelak tawa. Bukan, itu bukan acara ajang pencarian bakat para comic untuk kontes stand up comedy yang sedang ramai dibicarakan saat ini. Bukan juga karena mahasiswa dan mahasiswi tersebut sedang bersukacita menyambut Hari Natal.

Keriangan tersebut berasal dari tiga anak muda yang berada diatas panggung yang kecil saja di depan, padahal mereka bertiga sedang melantunkan lagu-lagu yang diambil dari album penuh pertama mereka, Perspektif Bodoh. Ya, mereka adalah tiga anak muda -dengan kisaran umur antara 22 – 23 tahun- yang tergabung dalam band akustik folk dengan injeksi blues, Nosstress. Tapi apa boleh buat, Nosstress, yang terdiri dari Guna Kupit (vokal, gitar), Man Angga (vokal, gitar), Cok Bagus Pemayun (vokal, cajon, harmonika), memanglah pintar guna membuat penonton terpingkal saat menyaksikan aksi mereka. Dan itu menjadi nilai lebih, disamping karena kualitas dan performa mereka yang memang patut diacungi jempol.

Sebagai contoh, ketika menanggapi pertanyaan dari seorang penonton wanita saat sesi tanya jawab, dengan sangat pe-de Man Angga berucap,”Terimakasih untuk mbak-nya yang dari Suroboyoo… .” Padahal penonton yang diketahui bernama Manda itu sudah dengan jelas menyatakan kalau dia datang dari Jogja. Yang tentu saja hal tersebut langsung mengundang gelak tawa semua penonton.

Juga saat satu lagi penonton wanita bertanya yang kali ini mempertanyakan harga merchandise Nosstress yang dia anggap mahal –lima puluh ribu rupiah. Mungkin Man Angga memang sudah di daulat menjadi juru bicara sekaligus merangkap juru lawak mewakili teman-temannya. Buktinya, kembali dia yang dengan spontan langsung menanggapi keresahan yang melanda penonton wanita tersebut.

“T-shirt Nosstress itu mengandung cinta yang sangat luar biasa. Bahkan, sebenarnya uang yang dikorupsi Gayus kalau dipakai untuk beli t-shirt Nosstress, belum cukup. Sangat belum cukup.” Jelas saja, tawa yang meledak-ledak kembali terdengar riuh dari penonton. Terlebih secara visual, Man Angga memiliki mimik dan gestur yang bisa dikatakan lucu serta menarik.

Itu adalah sekilas keriangan yang terjadi pada rangkaian tur konser bertajuk “Perspektif Pelangi Tour lebih dekat bersama : Dialog Dini Hari & Nosstress”. Rangkaian tur yang dilaksanakan untuk lebih mendekatkan diri antara musisi dengan penikmat musiknya. dalam hal ini yaitu Dialog Dini Hari dan Nosstress. Yang notabene juga merupakan artis dari Antida Production, label rekaman yang menaungi mereka. Hari itu adalah tur keempat dari total tujuh pertunjukan yang diadakan di kampus-kampus dan SMA-SMA di Denpasar, mulai tanggal 10-28 Desember 2011. Tur ini juga tidak memungut biaya satu rupiah pun untuk tiket masuk alias gratis. Hal itu terbukti efektif dilihat dari cukup ramainya penonton dan anak-anak kampus datang untuk menyaksikan dua unit trio folk beda generasi ini.

Nosstress tampil sebelum seniornya, Dialog Dini Hari. Bermain dikala senja hari ditambah dengan basa-basi yang kocak dari mereka membuat suasana semakin ceria. Nosstress membuka penampilan mereka sore itu dengan nomor “Mengawali Hari”, yang juga merupakan lagu pertama di album mereka. Berturur-turut “Hiruk Pikuk Denpasar”, “Mau Apa?”, dan “Tak Pernah Terlambat” dimainkan dan disambut meriah tepuk tangan penonton. Di lagu kelima, saat Nosstress membawakan “Buka Hati”, terlihat beberapa pasangan muda-mudi saling mendekap ataupun sekedar berpegangan tangan sembari menyanyikan bait demi bait lagu tersebut.

Di satu kesempatan sebelum melanjutkan ke lagu berikutnya, mungkin karena merasa sedikit kesal karena penonton selalu tertawa saat dia bicara, Man Angga berkata, “Tadi saya berkata serius. Tapi akhirnya saya tetap tertawa untuk menghibur. Tapi pertamanya tadi saya sangat serius. Super serius. Bahkan lebih serius dari Mario Teguh.” Sontak saja, meskipun Man Angga mengucapkan lebih dari 3 kali kata “serius”, itu malah membuat penonton kembali terpingkal.

Selain lagu-lagu yang telah disebutkan di atas, Nosstress juga membawakan “Bersama Kita”, “Rasa”, serta “On The Job Training”, dimana Man Angga memainkan sebuah alat kecil namun lebih terlihat seperti mainan yang bisa mengeluarkan suara seperti bunyi saxophone. Histeria penonton pun bertambah. Dan “Tanam Saja” –hits mereka yang sayangnya tidak dimasukkan ke album- menjadi lagu terakhir dari Nosstress. Di lagu tersebut mereka mengajak Dialog Dini Hari untuk berkolaborasi. Panggung yang berukuran kurang lebih 4×3 meter itupun mendadak penuh namun menjadi semakin meriah.

Setelah lagu terakhir dari Nosstress tersebut berakhir, Dialog Dini Hari langsung melanjutkan keceriaan malam itu dengan “Sahabatku Jadi Hantu”. Meskipun terlihat beberapa penonton menghilang dari kerumunan didepan panggung. Selanjutnya band yang terdiri dari Dadang SH Pranoto ( gitar, vocal), Brozio Orah (bass, backing vocal), serta Denny Surya (drum) ini membawakan “Rehat Sekejap” dan “Beranda Taman Hati”, dimana “dam-ta-ram-ta-ram-ta-ram” menjadi favorit penonton yang spontan bernyanyi bersama di bagian itu.

Dadang memang figur yang paling menonjol diantara personil yang lain, bahkan di acara tersebut. Selain karena ini side project dia sendiri, Navicula, dan faktor umur, dandanan-nya lah -kain sebagai ikat kepala, rambut panjang, kemeja hippie hitam lengan panjang, kacamata- yang membuat seorang Dadang menjadi beda sekaligus mempunyai karakter yang kuat. Bahkan saat dia naik ke atas panggung, seorang penonton berteriak,” Jack Sparrow!!”, yang langsung dibalas Dadang dengan acungan salam tiga jari.
Dadang sebagai frontman memang tidak banyak bicara seperti Man Angga di Nosstress. Dia malah lebih sering berkomunikasi lewat permainan-permainan blues solonya di jeda antar lagu.

Selain memainkan lagu-lagu di album Beranda Taman Hati seperti “Ku Akan Pulang” dan “Pagi” yang seperti di konser-konser sebelumnya selalu menjadi koor massal bagi para penonton, Dialog Dini Hari juga membawakan lagu yang ada di album terbaru mereka, seperti “Aku adalah Kamu” serta single terbaru mereka yang berjudul “Pelangi”. Single ini mulai diperkenalkan sebagai jembatan untuk album mereka yang ketiga nanti.
Dan pada akhirnya mereka balik mengajak anak-anak Nosstress untuk berkolaborasi di lagu “Oksigen” sebagai lagu penutup tur konser mereka yang keempat. Saya dan semua penonton yang hadir menyaksikan sebuah pertunjukan yang sangat menyenangkan. Kami tertawa lebar dan tersenyum puas. Dan saya merasa bahwa akan ada pergeseran aktivitas yang dilakukan oleh anak-anak muda. Mereka sekarang mempunyai kegiatan baru yaitu menonton konser-konser Dialog Dini Hari dan Nosstress, setelah sepeda-sepeda fixie mulai sepi meluncur dijalanan.

Karena makin dekat berarti makin sayang –semoga-, Dialog Dini Hari dan Nosstress telah mengajak kita ke pertunjukan mereka, untuk bisa mengenal lebih dekat antara penikmat musik dan musisinya, mengenal lebih dekat enam pria beda generasi pemberi warna baru di kancah musik Bali juga Indonesia dan semakin sayang terhadap karya-karya lokal lainnya.

Putu Hendra Brawijaya Putra, yang lebih dikenal dengan nama Saylow Alrite. Walaupun lahir di Malang, Jawa Timur tapi dia adalah putra asli Karangasem tepatnya Br. Tanahampo Kecamatan Manggis. Pria periang ini sekarang berdomisili di Panjer, Denpasar setelah hampir 9 tahun merantau di Yogyakarta. Berprofesi sebagai Web Designer, Graphic designer, seorang Blogger dan mengelola sebuah Web Development Studio yang jarang dapat project :P

Top