<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Apresiasi Semarak, Kritik Sastra Senyap</title>
	<atom:link href="http://www.balebengong.net/topik/budaya/2009/02/17/apresiasi-semarak-kritik-sastra-senyap.html/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.balebengong.net/topik/budaya/2009/02/17/apresiasi-semarak-kritik-sastra-senyap.html</link>
	<description>Berbagi Informasi tentang Bali</description>
	<lastBuildDate>Thu, 09 Feb 2012 15:41:52 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=</generator>
	<item>
		<title>By: Titin Supriatin</title>
		<link>http://www.balebengong.net/topik/budaya/2009/02/17/apresiasi-semarak-kritik-sastra-senyap.html/comment-page-1#comment-10946</link>
		<dc:creator>Titin Supriatin</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 13 Oct 2010 02:31:07 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.balebengong.net/?p=1337#comment-10946</guid>
		<description>Saya selalu berusa untuk mendalami sastra walau itu masih jauh dari kemampuan saya, kalau bukan kita siapa yang akan melestarikan sastra Indonesia.
Kian hari kita kita semakin ditinggal oleh sastrawan2 Indonesia, kita harus teruskan mereka untuk menyemarakan Sastra Indonesia.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Saya selalu berusa untuk mendalami sastra walau itu masih jauh dari kemampuan saya, kalau bukan kita siapa yang akan melestarikan sastra Indonesia.<br />
Kian hari kita kita semakin ditinggal oleh sastrawan2 Indonesia, kita harus teruskan mereka untuk menyemarakan Sastra Indonesia.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Cahya</title>
		<link>http://www.balebengong.net/topik/budaya/2009/02/17/apresiasi-semarak-kritik-sastra-senyap.html/comment-page-1#comment-9575</link>
		<dc:creator>Cahya</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 26 Jul 2009 06:19:57 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.balebengong.net/?p=1337#comment-9575</guid>
		<description>Saya tidak begitu mendalami masalah sastra, bahkan tidak mengerti seluk beluknya.

Keadaan kita saat ini sungguh sangat berbeda. Sepanjang saya mengikuti dunia pendidikan, di mana sastra selayaknya dikenalkan pada para siswa. Namun itu pun tidak begitu mencukupi. Sastra suatu yang inklusif namun juga eksklusif. Orang tak bisa mengapresiasi hanya dengan sekadar menyentuhnya, walau kita bisa menghargainya dengan cara itu.

Mungkin generasi muda saat ini tidak begitu mengenal sastra, seakan ini menjadi suatu yang amat langka. Ketika mungkin mereka yang tertarik berharap ada yang mengenalkan, namun berapa orang yang sanggup mengenalkan. Apa kita punya guru di sekolahan yang khusus mengajarkan bidang sastra. Yang ditanyakan pada soal ujian pun hanya seputar isi, judul atau pengarang, seakan itu semua yang penting dari sastra. Mungkin institusi pendidikan kita memang tidak cukup &quot;sreg&quot; sebagai media mengenalkan sastra.

Saya masih ingat saya sekejap di bawah bimbingan Tan Lioe Ie dan beberapa sastrawan nasional. Hal itu sungguh bukan lagi sebuah angin segar bagi mereka yang berjodoh pada sastra, namun seperti lautan udara bagi api-api kecil yang tengah menggigil. Dan membuka sebuah jendela yang lebih lebar ke tanah sastra.

Tanpa mengenal sastra, orang tidak bisa menghargai, tanpa menyukai sastra orang tak bisa mengapresiasi, tanpa memahami sastra orang tak bisa menjadi kritis akannya. Bahkan tak mampu melakukan autokritik pada karya yang ia tuliskan.

Kemanakah sastra kita akan pergi?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Saya tidak begitu mendalami masalah sastra, bahkan tidak mengerti seluk beluknya.</p>
<p>Keadaan kita saat ini sungguh sangat berbeda. Sepanjang saya mengikuti dunia pendidikan, di mana sastra selayaknya dikenalkan pada para siswa. Namun itu pun tidak begitu mencukupi. Sastra suatu yang inklusif namun juga eksklusif. Orang tak bisa mengapresiasi hanya dengan sekadar menyentuhnya, walau kita bisa menghargainya dengan cara itu.</p>
<p>Mungkin generasi muda saat ini tidak begitu mengenal sastra, seakan ini menjadi suatu yang amat langka. Ketika mungkin mereka yang tertarik berharap ada yang mengenalkan, namun berapa orang yang sanggup mengenalkan. Apa kita punya guru di sekolahan yang khusus mengajarkan bidang sastra. Yang ditanyakan pada soal ujian pun hanya seputar isi, judul atau pengarang, seakan itu semua yang penting dari sastra. Mungkin institusi pendidikan kita memang tidak cukup &#8220;sreg&#8221; sebagai media mengenalkan sastra.</p>
<p>Saya masih ingat saya sekejap di bawah bimbingan Tan Lioe Ie dan beberapa sastrawan nasional. Hal itu sungguh bukan lagi sebuah angin segar bagi mereka yang berjodoh pada sastra, namun seperti lautan udara bagi api-api kecil yang tengah menggigil. Dan membuka sebuah jendela yang lebih lebar ke tanah sastra.</p>
<p>Tanpa mengenal sastra, orang tidak bisa menghargai, tanpa menyukai sastra orang tak bisa mengapresiasi, tanpa memahami sastra orang tak bisa menjadi kritis akannya. Bahkan tak mampu melakukan autokritik pada karya yang ia tuliskan.</p>
<p>Kemanakah sastra kita akan pergi?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: andreas</title>
		<link>http://www.balebengong.net/topik/budaya/2009/02/17/apresiasi-semarak-kritik-sastra-senyap.html/comment-page-1#comment-8660</link>
		<dc:creator>andreas</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 21 Feb 2009 18:37:14 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.balebengong.net/?p=1337#comment-8660</guid>
		<description>kawan, berdasarkan penelusuran yang saya lakukan terdapat 68 buku terjemahan Indonesia karya 20 orang pemenang hadiah nobel sastra. lebih lanjut silah kunjung http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2009/02/karya-karya-terjemahan-pemenang-nobel.html

semoga info ini berguna.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>kawan, berdasarkan penelusuran yang saya lakukan terdapat 68 buku terjemahan Indonesia karya 20 orang pemenang hadiah nobel sastra. lebih lanjut silah kunjung <a href="http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2009/02/karya-karya-terjemahan-pemenang-nobel.html" rel="nofollow">http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2009/02/karya-karya-terjemahan-pemenang-nobel.html</a></p>
<p>semoga info ini berguna.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

<!-- Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: http://www.w3-edge.com/wordpress-plugins/

Page Caching using disk: enhanced

Served from: www.balebengong.net @ 2012-02-10 01:29:06 -->
