Jalan-jalan Sambil Makan-makan

Oleh Anton Muhajir

Pilihan untuk memindahkan lokasi kopdar dengan blogger Makassar sungguh tepat. Meski –sayangnya- hujan deras, toh kami bisa menikmati makan sambil jalan-jalan. Oh ya, juga cuci mata melihat pengunjungnya.

Semula, kami -sebagian anggota Bali Blogger Community (BBC)- berencana kopi darat dengan teman dari AngingMammiri dan Flobamora itu di Kopi Renon, salah satu warung di daerah Renon Denpsar. Dengan pertimbangan di sana cuma bisa duduk dan ngobrol, tanpa ada pemandangan lain, maka kami segera memindahkan kopdar itu di Lapangan Puputan Badung, Denpasar. Di samping lapangan ini sedang digelar festival untuk memperingati ulang tahun ibu kota provinsi Bali ini.

Festival itu dibuka Minggu (22/2) kemarin dan akan berlangsung sampai 27 Februari nanti. Ketika saya ke sana, suasana sangat riuh. Apalagi banyak orang sedang berteduh karena hujan cukup deras. Ada banyak stand di festival yang digelar sepanjang trotoar dari depan Pura Jagatnata sampai depan museum Bali ini.

Ada pameran foto, jualan layanan telepon, toko serba ada, jualan jamu, produk kecantikan, dan seterusnya. Ada pula pameran dan jual beli tanaman hias, serta berbagai warung penjual makanan tradisional. Sebagai penggemar makanan, tentu saja stand terakhir yang jadi pilihan.

Semua stand di sana menjual makanan tradisional Bali. Antara lain ayam betutu, sate kakul, dan lain-lain. Nah, di antara sekian warung itu saya pilih Warung Rudi. Sebabnya, ini warung teman saya juga. Hehehe.. Pemiliknya Nyoman Suardana, teman di BBC. Baru Sabtu kemarin kami main futsal bareng juga.

Warung ini menyediakan menu bali, tentu saja. Saya pilih serombotan. Karena lama juga tidak makan menu yang sangat identik dengan Klungkung ini. Serombotannya enak tenan. Bisa jadi karena saya memang kelaparan dan di tengah hujan pula. Tapi alasan paling logis kenapa enak sih pasti karena saya tidak perlu bayar setelah makan. Gratis. Enaknya punya teman baik hati seperti Nyoman. Hehe..

Usai makan serombotan gratisan, saatnya berburu makanan lain. Mm, aneka jajan bali dari laklak, pisang, dan banyak lagi yang lainnya. Juga ada camilan seperti kakul goreng. Wis lah. Pokoke makanan tradisisional di sana lengkap sekali. Sayangnya sih agak monoton karena beberapa warung menunya hampir sama.

Tidak apa-apalah. Festival makanan selama seminggu itu lumayan menambah agenda untuk jalan-jalan di Denpasar. Makanya kami dengan senang hati mengajak Ilham teman dari Makassar itu untuk kopdar di sana saja. Sebab tak hanya bisa jalan-jalan, tapi juga sekalian makan-makan. [b]

Share

4 komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

© 2012 Bale Bengong. Powered by WordPress Present by Sloka Institute & maintenanced by: Bali Blogger Community

Switch to our mobile site