Selalu Hak, Kapan Kewajibannya?

Oleh Yusuf Rey Noldy

Berbicara tentang hak pastinya selalu ada kewajiban. Dua hal ini akan selalu berkaitan dan berjalan beriringan untuk dapat mencapai suatu titik kepuasan. Tetapi kadang-kadang beberapa orang selalu berbicara tentang hak namun tidak mau memenuhi kewajiban yang sudah selayaknya dipenuhi. Ujung-ujungnya bisa ditebak kemudian, muncul ketidakpuasan.

Bagi sebagian besar orang mengonsumsi obat adalah hal yang menjenuhkan. Mulai dari rasa obat yang pahit, ukuran obat sampai pada satu titik di mana orang tersebut bosan akibat harus minum obat dalam jumlah yang tidak sedikit. Kadang timbul pertanyaan dalam diri kita, “Sampai kapan ya saya harus menelan obat ini?”

Padahal apabila dipikir lebih positif, sebenarnya obat yang kita minum dapat memulihkan kondisi kita ketika sakit. Tetapi mengapa sulit sekali rasanya ketika kita akan menelannya. Apakah karena harga obat sekarang ini mahal sehingga sebagian orang berpandangan bahwa akan minum obat di saat benar-benar sakit tidak berdaya. Pepatah mengatakan, mencegah lebih baik daripada mengobati. Di samping kita tidak harus mengeluarkan energi pergi ke berbagai tempat layanan kesehatan, biaya yang dikeluarkan pun dapat lebih ditekan.

Dalam permasalahan menelan obat atau terapi obat ternyata beberapa rekan orang dengan HIV/AIDS (Odha) mengalami hal sama. Jenuh karena harus minum obat sampai seumur hidup atau dengan alasan tidak tahan rasa sakit karena efek samping akibat terapi AntiRetroViral (ARV).

Muncul pertanyaan, “Apakah teman-teman Odha ini sudah merasa ‘sembuh’ dan ‘sehat’ sehingga memilih untuk menghentikan terapi ARV?”

Mari kita menilik ke belakang pada cerita yang pernah terjadi pada beberapa teman Odha. Saat itu obat ARV sangat sulit diakses karena mahalnya. Obat ARV harus diimport dari negeri seberang  yang tentunya tidak terjangkau untuk “kantong” teman-teman Odha di Indonesia. Pada akhirnya mereka yang seharusnya sudah membutuhkan Obat ARV harus meregang nyawa karena tidak mampu mendapatkan obat ARV.

Lain dulu lain sekarang. Apa yang dulu tidak ada saat ini dapat dengan mudah diakses oleh teman-teman Odha. Misalnya obat ARV yang saat ini tersedia di beberapa rumah sakit rujukan pemerintah telah banyak dikonsumsi oleh ratusan teman Odha.

Sebelum Odha memulai terapi ARV pastinya sudah dibekali informasi mengenai dampak yang ditimbulkan apabila menghentikan terapi ARV. Obat menjadi kebal terhadap virus, mudah terserang infeksi oportunistik (IO) sampai pada tahap berikutnya yaitu kematian.

Memang apabila odha memutuskan untuk tidak melanjutkan terapi ARV adalah hak tetapi perlu diingat bahwa sebenarnya teman-teman mempunyai kewajiban untuk tidak memberikan informasi yang nantinya menyesatkan bagi Odha lain. Apabila teman-teman Odha memutuskan untuk berhenti terapi cukup informasi tersebut hanya teman-teman Odha dan dokter saja yang mengetahui. Jangan sampai informasi tersebut disebarluaskan ke lapangan yang mengakibatkan Odha lain menjadi bingung.

Bayangkan apabila teman-teman Odha yang memutuskan terapi ini adalah orang-orang yang sudah paham tentang informasi. Bisa kita bayangkan dampaknya. Teman-teman Odha yang di lapangan dan tidak paham informasi akan berpikir kembali untuk mengonsumsi obat yang sebenarnya dibutuhkan oleh tubuhnya.

Pemerintah dan teman-teman LSM sudah banyak membantu untuk mempermudah akses yang sebelumnya tidak ada menjadi ada. Kewajiban teman-teman Odha adalah mendukung kebijakan yang sudah ada dengan cara mematuhi ketentuan-ketentuan yang memang sudah ada.

Berkaitan dengan World AAID Day yang diperingati pada 1 Desember lalu sudah selayaknya kita semua siapapun kita untuk selalu dapat menghargai apa yang telah sudah kita capai selama ini. Karena apa yang telah kita dapati saat ini bukanlah sebuah “rezeki undian” tetapi adalah buah perjuangan dari apa yang telah kita suarakan selama ini.

Bagi rekan-rekan Odha Jangan sampai apa yang telah teman-teman suarakan dan perjuangkan hanya dianggap sebagai kepentingan proyek belaka dan bukan aspirasi murni dari teman-teman. Tentunya kita semua tidak menginginkan ada ungkapan seperti itu    bukan?

Yang mestinya dilakukan sebagai Odha yang bertanggung jawab adalah bagaimana bertanggung jawab terhadap kesehatan pribadi maupun lingkungan sekitar. Bersama-sama menjaga apa yang telah diraih maupun dicapai agar tidak hilang dalam sekejap. Layanan yang saat ini tersedia adalah buah perjuangan selama 21 tahun HIV dan AIDS ada di muka bumi ini. Jadi sudah selayaknya bukan kita mensyukuri apa yang telah kita dapat.

Apabila kita tanya pada teman-teman Odha pastinya mereka menjawab bahwa sebenarnya mereka masih membutuhkan pengobatan!! Jadi berbicara hak boleh-boleh saja tetapi ada kewajiban juga yang harus kita penuhi bukan? [b]

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

© 2012 Bale Bengong. Powered by WordPress Present by Sloka Institute & maintenanced by: Bali Blogger Community

Switch to our mobile site