Ironi. Mungkin itu yang bisa dirasakan ketika mengetahui potret kemiskinan di Bali. Sebuah provinsi yang dianggap sejahtera sebagai dampak massifnya industri pariwisata ternyata menyisakan permasalahan kronis kemiskinan.
Lebih menyesakkan lagi, hal tersebut terjadi di kabupaten yang mengklaim diri sebagai lumbung beras-Bali yang saat ini justru sedang dipimpin Ibu Bupati dari partai-nya wong cilik atau kaum marhaen. Mungkin ‘marhaenisme’ sudah kehilangan makna karena terlalu sering diucapkan dalam jargon-jargon kampanye.
Feodalisme Demokratik
Democratic feudalism (feodalisme demokratik) istilah yang sering dilontarkan untuk menyebut proses politik di Indonesia yang mengarah pada feodalisme baru. Orang-orang yang memiliki darah bangsawan politik dianggap sebagai kelompok yang paling legitimate untuk memimpin. Alhasil, jabatan politik ‘disulap’ seperti sebuah singasana raja yang ‘diserahkan’ secara turun temurun kepada keturunannya, sedangkan rakyat digiring untuk memberi justifikasi bahwa proses peralihannya berjalan secara demokratis.
Secara politis, jelas bahwa pemindahan kekuasaan secara turun temurun merupakan agenda untuk mempertahankan kekuasaan dan keadaan sosial saat ini (status quo) bukan justru untuk melakukan perbaikan secara mendasar.
Di Tabanan, kecenderungan feodalisme demokratik ini sedang mengarah pada kegagalan. Gerakan rakyat untuk menuntut keadilan, di Tanah Lot misalnya, direduksi menjadi persentase pembagian hasil dari obyek wisata tanpa melihat penyebabnya yakni tidak sensitif-nya pemerintah terhadap gejala masyarakat dan kebuntuan komunikasi politik.
Selajutnya, potret kemiskinan disajikan dengan sangat gamblang di media massa. Namun sang penerus tahta (Bupati) sepertinya lebih asyik untuk menjadikan Pemerintah Kabupaten Tabanan layaknya event organiser.
Berbagai kegiatan-kegiatan serimonial dibuat, tak lupa dimuat di media massa dan dipajang di banner-banner tepi jalan. Pesta rakyat, berias massal, pemeriksaan serviks massal, baik untuk mengejar Rekor Muri atau sekedar hiburan telah dibuat dan deretan daftar kegiatan berikutnya tinggal menunggu waktu saja.
Tentu saja, hiburan massal ini dibuat meriah bukan tanpa maksud. Kondisi rakyat yang prihatin karena dihadapkan pada kesulitan hidup, biaya sekolah yang mahal, kesehatn tak terjangkau, infrastruktur rusak, membutuhkan semacam candu untuk menenangkan diri. Pada konteks ini-lah hiburan memainkan peran menjadi sarana pelampiasan (kartasis) kemarahan dan keputusaasaan rakyat.
Analog dengan analisa diskursus-nya Foucault, hiburan yang diciptakan penguasa ini merupakan wahana pendisiplinan dengan tujuan meredam gejolak kemarahan sehingga tidak berujung pada perlawanan yang dapat membahayakan kekuasaan. Selain itu, acara hiburan juga menjadi ruang bagi para penguasa untuk membentuk citra dan bahkan ikonisasi.
Ikonisasi ala Tabanan
Memang Hari Ulang Tahun (HUT) Tabanan telah berlalu sejak 29 November 2011 silam. Namun umbul-umbul, banner, spanduk hingga billiboard besar masih terpasang di setiap sudut kota dihiasi oleh ikon Sagung Wah yang sedang menghunus keris disandingkan oleh wajah sang Bupati.
Pemilihan Sagung Wah sebagai ikon Kabupaten Tabanan periode ini bukanlah suatu kebetulan. Tentu saja ada strategi pencitraan yang coba dibangun oleh pemerintah Kabupaten Tabanan.
Sebuah strategi pencitraan politik usang yang diujicobakan kembali. Karena sejak jaman feodal pencitraan penguasa adalah suatu hal yang niscaya untuk memelihara ketertundukan dan loyalitas rakyat kepada sang penguasa. Sekaligus menguatkan mitos bahwa sang penguasa merupakan juru selamat (ratu adil) bagi rakyat yang sedang menderita.
Misalnya, pada kerajaan Hindu Kuno, sang raja sering kali diklaim sebagi personifikasi dari dewa-dewa, di era lebih modern sang penguasa diberi gelar Putra Sang Fajar atau Bapak Pembangunan dan lain sebagainya.
Perkembangan teknologi dalam masyarakat membuat strategi pencitraan politik ini semakin massif dilakukan dengan memanfaatkan ruang-ruang publik. Masyarakat yang sedang dijangkiti virus narcisisme akibat kehadiran facebook, juga digunakan sebagai alasan yang lumrah bagi para pejabat untuk bernarsis-ria.
Contohnya, dengan memajang foto-foto mereka pada setiap iklan layanan masyarakat terlepas dari ada tidaknya korelasi antara pesan yang ingin disampaikan dengan kepentingan untuk menampilkan figurnya dalam rangka ikonisasi.
Sebagi bupati perempuan pertama di Bali maka dibutuhkan citra seorang perempuan heroik yang dikenal dalam sejarah Bali dan dekat secara emosional dengan masyarakat Tabanan. Terpilihlah seorang Sagung Wah, pejuang kemerdekaan yang masih muda belia yang coba dipadankan dengan sang Bupati. Namun, pemadanan figur Sagung Wah dengan Bupati dapat dikatakan sesat pikir dalam beberapa hal.
Pertama, Sagung Wah adalah seorang pahlawan yang rela berkorban untuk mempertahankan Ibu Pertiwi dalam melawan kolonial. Namun ketika kemerdekaan telah dapat diraih, penguasa-penguasa lokal hari ini, termasuk Ibu Bupati justru ingin menjual murah Ibu Pertiwi kepada pihak asing. Masih hangat dalam ingatan kita bagaimana Ibu Bupati bersikeras ingin menjual pasir hitam yang merupakan penyangga daratan Bali atas nama pendapatan daerah.
Kedua, Sagung Wah siap berani menanggung segala konsekuensi dari perlawanannya termasuk juga oleh Belanda harus diasingkan ke Lombok. Saya belum yakin, jika ada seorang elit politik saat ini, termasuk Ibu Bupati, yang siap menderita untuk membela ide-ide yang dipercayanya apalagi mereka terbiasa hidup di tengah hedonisme.
Malah sering kali terjadi pertentangan antara wacana dan laku sang pemimpin, misalnya berbicara ekonomi kerakyatan tetapi mendorong komodifikasi ruang-ruang hidup rakyat. Mengklaim diri penurus ajaran Marhaenisme namun lebih mementingkan citra politik daripada melakukan hal yang lebih mendasar yakni membaca dan menjawab persoalan rakyat kecil dengan lebih cerdas.
Jika demikian, masihkah kita bisa beranggapan bahwa pemerintah merupakan perwujudan dari kehendak rakyat?
Penulis, Advokat-Aktivis
Alumnus University of Nottingham, Inggris
Tinggal di Tabanan

Artikel yang bagus….
Di Era Romawi Kuno, Kaisar yang takut kekuasaan dan kesempatannya memperkaya diri hilang, melakukan upaya meredam bangkitnya kesadaran rakyat akan hak-hak politik dan ekonominya dengan memberikan rakyatnya “roti dan sikrkus”. Ternyata cara itu masih sangat efektif sampai sekarang ini.
yang tiang lihat sagung wah terlalu disakralkan jadinya, entah apa yang ada dipikiran yang membuat konsep,…
btw patung sagung wah dija???
menilai atau menghakimi dari satu sisi kadang menyenangkan bagi diri sendiri. — “Namun, pemadanan figur Sagung Wah dengan Bupati dapat dikatakan sesat pikir dalam beberapa hal.”
jelas tulisan ini berlebihan- sebab pemadanan- hanya pemahaman seorang agung wardana saja- tanpa pernah melihat bagaimana awalnya sosok sagung wah menjadi spirit bagi pembangunan Tabanan- bukan hanya bagi seorang bupati perempuan.
dengan melihat kedangkalan tulisan agung wardana ini- tentu tidak banyak yang bisa didiskusikan- karena apriori menjadi thema awal yang menjadi rel sang penulis, bukan pada landasan konstruktif.
Terima kasih atas komentarnya.
Khusus untuk Bli Putu Jayaprana, ada beberapa hal yang perlu saya klarifikasi.
Pertama, mengenai penilaian dari satu sisi merupakan suatu hal yang sah saja dilakukan. Sebagaimana juga anda menilai tulisan saya dari satu sisi anda sendiri dengan jalan tidak melihat secara utuh tulisan ini melainkan dengan mengambil sepotong kemudian dikomentari berdasarkan pandangan anda sendiri. Jika bli putu memiliki perspektif dari kedua sisi, silahkan sampaikan saja sehingga bisa menjadi pengayaan atas gaya tulisan saya yang cenderung self-reflection.
Kedua tentang Sagung Wah menjadi spirit pembangunan Tabanan. Saya belum mampu melihat selain merupakan bentuk pencitraan dan ikonisasi diri dengan tokoh yang dikenal masyarakat Tabanan. Oleh karena itu tolong bantu cerahkan saya tentang ‘spirit pembangunan Tabanan’ yang seperti apa? Yang demokratik-feodalistik? Atau yang asyik dengan kegiatan-kegiatan remeh temeh dan nampang di setiap banner iklan layanan masyarakat atau apa?
Ketiga, tentang tulisan ini dianggap berlebihan dan cenderung dangkal, tentu saja penilaian itu boleh-boleh saja. Memang sebuah penilaian akan sesuatu ditentukan oleh posisi seseorang dalam istilah kerennya “Posisi Menentukan Persepsi” atau secara filsafat “Materi Menentukan Ide”. Jika seseorang yang menjadi bagian dari kekuasaan atau paling tidak memperoleh keuntungan dari kekuasaan, maka ia akan mengambil posisi membela kekuasaan tersebut karena tidak ada yang netral dalam hal ini. Sedangkan saya sebagai rakyat yang telah muak dengan kebobrokan penguasa Tabanan jelas akan bersikap skeptis terhapa penguasa. Pada titik itu,berarti kita memiliki posisi yang berbeda dalam struktur politik Tabanan.
Keempat, saya menulis opini ini memang bukan dalam rangka untuk melakukan konstruksi dengan memberikan masukan konstruktif atas apa yang terjadi di Tabanan karena dengan demikian saya akan dikoptasi menjadi ‘konsultan politik’ penguasa. Melainkan saya sedang melakukan dekonstruksi atas mitos-mitos yang sedang dimapankan oleh penguasa Tabanan yang diamini oleh kelas menengah yang menjadi kaki-tangan penguasa.
Cheers!
Ketika seseorang -Eka Wiryastuti- meletakkan |Spirit| pembangunan Tabanan ke depan dengan mengaktualisasi perjuangan |Sagung Wah| disebut sebagai “sesat pikir” – sebuah penilaian yang hanya melepaskan birahi sang penulis. Alangkah indahnya jika sebuah tulisan bisa menyenangkan pembaca sebuah tulisan yang sarat makna. Selalu saja ada pelajaran hidup yang didapat darinya. Apalagi sebuah tulisan yang disampaikan begitu renyah, bercita rasa, gaya menulis yang unik tanpa terasa sedang digurui oleh si penulis dengan menghadirkan ketentraman setelah membaca tulisannya. Sehingga pada akhirnya pembacapun mengangguk-ngangguk, entah itu ekspresi setuju, paham, atau malah tidak setuju sekalipun.
Dan saya bukan seseorang yang menjadi bagian dari kekuasaan, namun sebagai rakyat Tabanan, saya realistis- sebagaimana ratusan ribu rakyat lainnya, juga ingin mendapat keuntungan dari pembangunan yang ada – terlepas dari suka atau tidak suka dengan pemimpinnya. Mari bergerak membangun Tabanan. Dengan cara kita masing-masing. Rahajeng.
Bli Putu,
Anda sendiri tidak mampu menjelaskan bagaimana ‘spirit’ sagung wah diaktualisasikan oleh Eka. Jangan-jangan anda tipikal pejabat yang pintar membuat jargon setiap perayaan tapi tidak nyambung ditingkat aksi..saya katakan bahwa saya belum melihat apa yang dilakukan Eka beda dengan Bapaknya..apakah berarti spirit Sagung Wah juga dipakai jargon oleh Adi Wiryatama?
Jika berkaitan dengan gaya penulisan, saya sadar bahwa setiap orang punya gaya penulisannya masing-masing. Dan gaya tulisan saya cenderung sarkas memang sebuah tujuan untuk menarik emosi orang dan mendekonstruksi kenyamanan penguasa dan kompradornya. Gaya penulisan agitasi dan propaganda ini juga bukan tulisan jurnalistik sebagaimana anda harapkan. Namun tulisan jurnalistik pun seharusnya bukan sebuah pesanan yang akan menyenangkan pembaca, karena jika tulisan tersebut menyenangkan bukan kebenaran yang ia tulis tapi ia sedang menjadi seorang penghibur. Gaya penulisan yang membosankan dan mengagitasi bisa dilihat dari karya-karya Chomsky, Marx, Faucoult, Bakunin,dll..meski membosankan karya-karya ini seringkali menjadi rujukan bagi orang-orang yang sudah muak dengan kekuasaan karena bukan gaya tulisannya yang dicari tetapi konten dan inspirasi yang menyatukan kemarahanan rakyat tertindas.
Selanjutnya anda mengklaim mewakili ratusan ribu masyarakat Tabanan adalah sebuah generalisasi. Mirip seperti Harmoko saat Orba mengklaim mayoritas rakyat Indonesia mendukung Soeharto. Dalam ‘diam’nya rakyat, mereka bukan berarti menerima begitu saja tingkah polah penguasa, mereka tetap merekam dan berdinamika sambil mencari momentum untuk meluapkan kemuakannya. Tunggu saja!
Jika anda mengatakan diri sebagai realistik, saya tidak melihat hal yang demikian dalam komentar anda.Orang-orang yang realistik, jika menggunakan cara berpikir Che Guevara, justru mereka yang mengejar mimpi yang selama ini dianggap mustahil. Karena ide-ide yang abstrak itu harus dimaterialkan, ini lah realistik. Klo saya sih melihat anda lebih dekat ke oportunistik dan bahkan cenderung fatalis karena menerima dengan buta keadaan yang dikonstruksikan penguasa, dengan mangatakan mencari keuntungan dalam pembangunan entas siapapun pemimpinnya. Semoga saya salah!
tulisannya pak agung bagus…. saya luar tabanan menilai bu eka ini hanya “dugem” proyek saja… jalan rusak di tabanan bukannya sudah terkenal paling bagus ukir2annya..? pabrik miras paling besar… lumbung beras jadi lumbung miras .. gebrakannya mana ya? mungkin pak putu saking cintanya sama tabanan,jadi gak rela pemimpinnya dikritik…. salam …..
Memang perlu tulisan seperti ini untuk membangunkan warga Tabanan yang memang banyak yang penyabar, diinjak-injak oleh pemerintahnya sama sekali tidak melawan. Saya warga Tabanan asli dan saya tidak butuh pemimpin seperti Sagung Wah tapi butuh seperti Men Brayut
jika bisa seorang pemimpin di sebut berhasil mensejahterakan rakyat nya ada baik nya mencontoh Jokowi walikota solo dan ahok bupati Bangka belitung ( itu pejabat yg saya tahu sudah terbukti kinerja nya mensejahterakan rakyat nya ).jadi beliau2 ini lebih memprioritaskan rakyat menengah ke bawah untuk mendapatkan pendidikan, kesehatan dan pekerjaan yang baik otomatis hal ini akan meningkatkan kesejahteraan seluruh daerah yg di pimpin nya.beliau-beliau ini juga transparan dan anti korupsi.apakah kinerja Bupati Tabanan sudah mampu seperti beliau-beliau?? hanya masyarakat tabanan yg bisa menjawab nya.